Waspada, Ada 10 Penyakit yang Mengintai Anak di Musim Hujan
CNN Indonesia
Jumat, 25 Feb 2022 17:02 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Foto: IStockphoto/ljubaphoto
5. Influenza
Influenza ditandai dengan demam, nyeri otot, sakit kepala, sakit tenggorokan, lesu dan bisa disertai gejala infeksi saluran napas. Gejala-gejala ini begitu mirip dengan gejala Covid-19. Orang tua disarankan untuk membawa anak tes usap (antigen atau PCR) untuk memastikan anak sakit influenza atau Covid-19.
6. Konjungtivitis Konjungtivitis merupakan infeksi pada mata yang ditandai dengan nyeri, mata merah, tidak kuat terpapar cahaya, berair, dan biasanya disertai kotoran dan lengket. Infeksi sangat mudah menular sehingga anak perlu disediakan perlengkapan terpisah termasuk handuk atau peralatan lain.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
7. Demam tifoid
Demam tifoid kerap disebut penyakit tifus. Penyakit ini disebabkan Salmonella typhi dan Salmonella paratyphi. Hujan lebat hingga banjir bisa merusak saluran air, saluran pembuangan hingga melepas limbah ke lingkungan. Ini pun akan mencemari sumber air yang digunakan rumah tangga untuk memasak dan minum.
Anak yang terinfeksi akan mengalami demam selama 5 hari, nyeri kepala, dan gangguan pencernaan.
8. Kolera
Konsumsi makanan atau air yang tercemar juga bisa mengakibatkan kolera. Diare akut ini disebabkan air yang terkontaminasi bakteri Vibrio cholerae. Masyarakat Indonesia umum mengenal kolera sebagai muntaber (muntah berak).
Pada awal abad 18 hingga abad 19, kolera sempat menjadi epidemi. Berbagai belahan dunia ramai kasus kolera termasuk Indonesia.
9. Hepatitis A
Hepatitis A bisa menular lewat air yang sudah terkontaminasi virus Hepatitis A. Gejala hepatitis A berupa demam, diare, mual, lemas, serta kulit dan mata berwarna kuning.
10. Selesma
Selesma ditandai dengan gejala batuk dan pilek. Mungkin orang tua kerap menyebutnya masuk angin. Biasanya kondisi ini bisa cepat membaik tanpa harus dibawa ke dokter. Orang tua cukup memastikan asupan cairan cukup, anak mengonsumsi makanan serba hangat dan penuh gizi dan cukup istirahat.
Covid-19masih jadi momok buat siapapun, mulai dari anak hingga lansia. Namun orang tua tidak boleh mengendurkan kewaspadaan terhadap penyakit-penyakit lain. Anak bisa rentan terkena beberapa jenis penyakit yang kerap merebak di musim hujan.
Menurut Nina Dwi Putri, dokter spesialis anak-subspesialis penyakit infeksi tropik, ada beberapa mode penularan penyakit yang disebabkan hujan dan banjir. Beberapa penyakit bisa menular lewat air yang terkontaminasi dan kebersihan lingkungan yang menurun akibat hujan dan banjir.
Berikut daftar penyakit yang rawan dialami anak selama musim hujan menurut Unit Kerja Koordinasi Infeksi dan Penyakit tropis Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
1. Dengue
Hujan tidak jarang menimbulkan genangan air di lingkungan tempat tinggal. Ini bakal jadi suaka yang mendukung perkembangbiakan nyamuk dan berpotensi meningkatkan paparan infeksi virus dengue.
Infeksi virus dengue banyak terjadi di kawasan tropis. Tidak hanya anak-anak, infeksi juga rawan dialami orang dewasa. Sangat penting menerapkan 3M (menguras, mengubur, menutup) plus penyebaran bubuk abate untuk memberantas sarang nyamuk dan menghindari gigitan.
2. Infeksi jamur
Musim hujan memungkinkan kondisi kulit terus lembap dan basah sehingga berisiko timbul infeksi jamur. Sebaiknya orang tua memastikan kulit anak kering sepanjang waktu.
Mengutip rilis yang diterima CNNIndonesia.com pada Jumat (25/2) dari IDAI, jamur akan berkembang biak pada kulit lembap dan tidak terpapar udara luar. Pastikan anak Anda berganti pakaian sesuai kondisi badan dan rajin mengeringkan diri setelah bermain.
3. Leptospirosis
Leptospirosis ditimbulkan oleh bakteri Leptospira. Bakteri ada pada urin hewan pengerat yang kemudian mengontaminasi tanah, lumpur dan air. Saat tanah, lumpur dan air yang terkontaminasi ini kontak dengan kulit dan selaput lendir, anak bisa demam, sakit kepala, bengkak pada otot, mata merah, sakit perut, mual dan muntah serta ruam merah pada kulit.
4. Infeksi saluran cerna
Infeksi saluran cerna dipicu sistem pembuangan limbah yang buruk, kebersihan yang tidak terjaga, kepadatan penduduk dan konsumsi air yang tercemar saat banjir. Untuk menghindari infeksi saluran cerna, sangat penting memastikan kebersihan pangan anak dan anak makan dalam kondisi tangan bersih.
Flu sampai Selesma
Foto: IStockphoto/Ridofranz
5. Influenza
Influenza ditandai dengan demam, nyeri otot, sakit kepala, sakit tenggorokan, lesu dan bisa disertai gejala infeksi saluran napas. Gejala-gejala ini begitu mirip dengan gejala Covid-19. Orang tua disarankan untuk membawa anak tes usap (antigen atau PCR) untuk memastikan anak sakit influenza atau Covid-19.
6. Konjungtivitis Konjungtivitis merupakan infeksi pada mata yang ditandai dengan nyeri, mata merah, tidak kuat terpapar cahaya, berair, dan biasanya disertai kotoran dan lengket. Infeksi sangat mudah menular sehingga anak perlu disediakan perlengkapan terpisah termasuk handuk atau peralatan lain.
7. Demam tifoid
Demam tifoid kerap disebut penyakit tifus. Penyakit ini disebabkan Salmonella typhi dan Salmonella paratyphi. Hujan lebat hingga banjir bisa merusak saluran air, saluran pembuangan hingga melepas limbah ke lingkungan. Ini pun akan mencemari sumber air yang digunakan rumah tangga untuk memasak dan minum.
Anak yang terinfeksi akan mengalami demam selama 5 hari, nyeri kepala, dan gangguan pencernaan.
8. Kolera
Konsumsi makanan atau air yang tercemar juga bisa mengakibatkan kolera. Diare akut ini disebabkan air yang terkontaminasi bakteri Vibrio cholerae. Masyarakat Indonesia umum mengenal kolera sebagai muntaber (muntah berak).
Pada awal abad 18 hingga abad 19, kolera sempat menjadi epidemi. Berbagai belahan dunia ramai kasus kolera termasuk Indonesia.
9. Hepatitis A
Hepatitis A bisa menular lewat air yang sudah terkontaminasi virus Hepatitis A. Gejala hepatitis A berupa demam, diare, mual, lemas, serta kulit dan mata berwarna kuning.
10. Selesma
Selesma ditandai dengan gejala batuk dan pilek. Mungkin orang tua kerap menyebutnya masuk angin. Biasanya kondisi ini bisa cepat membaik tanpa harus dibawa ke dokter. Orang tua cukup memastikan asupan cairan cukup, anak mengonsumsi makanan serba hangat dan penuh gizi dan cukup istirahat.