Sejarah Paris Fashion Week, Pekan Mode Legendaris dan Popular Paris
CNN Indonesia
Selasa, 08 Mar 2022 11:35 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Show Stephane Rolland di Paris Couture Week ( AP/Francois Mori)
Jakarta, CNN Indonesia --
Selebritas Indonesia ramai-ramai 'menginvasi' Paris, Prancis.
Mereka datang di bawah bendera label berbeda tetapi masih dalam satu tujuan yakni, peragaan busana bersamaan dengan gelaran mode bergengsi, Paris Fashion Week.
Terlepas dari kondisi pandemi, agenda gelaran mode di Paris terbilang cukup padat. Dilansir dari laman resmi Federation de la Haute Couture et de la Mode, terdapat beberapa pekan mode di tahun 2022:
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
* Menswear atau peragaan busana pria: 18 Januari-23 Januari 2022), * Haute Couture (24 Januari-27 Januari 2022), * Womenswear atau peragaan busana wanita (28 Februari-8 Maret 2022), * Menswear (21 Juni-26 Juni 2022), * Haute Couture (4 Juli-7 Juli 2022), * Womenswear (26 September-4 Oktober 2022).
Untuk kota berjuluk 'Kota Mode', ini bukan hal aneh. Namun kenapa Paris Fashion Show bisa begitu tersohor hingga jadi magnet besar buat para pelaku mode dunia? Berikut sejarah Paris Fashion Week yang jadi magnet para desainer untuk bisa tampil di panggungnya.
Semua diawali oleh desainer Charles Worth (akhir abad 19) dan Paul Poiret (awal abad 20) yang memikirkan kemungkinan semua koleksi busana desainer bisa ditampilkan dalam sebuah gelaran.
Di saat bersamaan, desainer Lady Duff-Gordon melakukan hal yang sama di London, Inggris.
Dilansir dari Vogue, Poiret memutuskan untuk menggabungkan perdagangan dengan sosialisasi, mengundang penikmat mode untuk datang mengenakan busana terbaik mereka. Salah satu momen paling menonjol adalah pesta The Thousand and Second Night di 1911 di mana Poiret menampilkan gaun kap lampu dan celana harem.
Kemudian ini makin berkembang. Pada 1920-an dan 1930-an, Paris memamerkan kesederhanaan Coco Chanel, karya eksperimental surealis ala Elsa Schiaparelli hingga draping yang mengalir ala Madeleine Vionnet.
Hanya saja, saat itu pertunjukan lebih bersifat kecil, presentasi terbatas untuk klien dan jauh dari fotografer. Hal ini dilakukan karena kecemasan akan penjiplakan.
Paris Fashion Week pertama
Setelah Perang Dunia II, peragaan busana di Paris menjadi lebih teratur. Pada 1945 Chambre Syndicale de la haute Couture menetapkan bahwa semua rumah mode harus menghadirkan 35 looks untuk siang dan malam secara musiman.
Industri mode dunia berkembang begitu pula di New York. Paris cukup gugup melihat pengaruh mode New York. Namun Paris memiliki senjata rahasia, Christian Dior. Koleksi pertama Dior, 'Corolle', dihadiri media mode dan mereka diizinkan untuk mengambil gambar.
Ini pun diikuti Yves Saint Laurent pada 1966 yang menghadirkan lini prêt-à-porter termasuk setelan tuksedonya yang disukai.
Pada 1973, Fédération Française de la Couture resmi berdiri dan menandai Paris Fashion Week pertama di kota mode tersebut.
Pertunjukan dibuka dengan Battle of Versailles Fashion Show di mana lima desainer Paris diadu dengan lima desainer Amerika. Memang ada ketegangan tetapi gelaran ini bertujuan untuk penggalangan dana untuk restorasi Istana Versailles.
Tim Paris mengusung Yves Saint Laurent, Emanuel Ungaro, Christian Dior, Pierre Cardin dan Hubert de Givenchy, sementara tim Amerika diwakili Anne Klein, Halston, Oscar de la Renta, Bill Blass dan Stephen Burrows.
Sejak saat itu, pertunjukan mode di Paris makin berani dan spektakuler. Thierry Mugler menjajah stadion Le Zenith untuk 6 ribu penonton, bra berbentuk kerucut karya Jean Paul Gaultier, dan kebangkitan Chanel di tangan Karl Lagerfeld pada 1980-an.
Kini, siapa yang tak tahu Paris Fashion Week? Bahkan ada begitu banyak label dunia yang ingin turut 'berpesta' tetapi bukan hal mudah menembus runway Paris. Tidak heran ada begitu banyak pertunjukan yang diselenggarakan bersamaan dengan agenda resmi Paris Fashion Week.
Jakarta, CNN Indonesia --
Selebritas Indonesia ramai-ramai 'menginvasi' Paris, Prancis.
Mereka datang di bawah bendera label berbeda tetapi masih dalam satu tujuan yakni, peragaan busana bersamaan dengan gelaran mode bergengsi, Paris Fashion Week.
Terlepas dari kondisi pandemi, agenda gelaran mode di Paris terbilang cukup padat. Dilansir dari laman resmi Federation de la Haute Couture et de la Mode, terdapat beberapa pekan mode di tahun 2022:
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
* Menswear atau peragaan busana pria: 18 Januari-23 Januari 2022), * Haute Couture (24 Januari-27 Januari 2022), * Womenswear atau peragaan busana wanita (28 Februari-8 Maret 2022), * Menswear (21 Juni-26 Juni 2022), * Haute Couture (4 Juli-7 Juli 2022), * Womenswear (26 September-4 Oktober 2022).
Untuk kota berjuluk 'Kota Mode', ini bukan hal aneh. Namun kenapa Paris Fashion Show bisa begitu tersohor hingga jadi magnet besar buat para pelaku mode dunia? Berikut sejarah Paris Fashion Week yang jadi magnet para desainer untuk bisa tampil di panggungnya.
Semua diawali oleh desainer Charles Worth (akhir abad 19) dan Paul Poiret (awal abad 20) yang memikirkan kemungkinan semua koleksi busana desainer bisa ditampilkan dalam sebuah gelaran.
Di saat bersamaan, desainer Lady Duff-Gordon melakukan hal yang sama di London, Inggris.
Dilansir dari Vogue, Poiret memutuskan untuk menggabungkan perdagangan dengan sosialisasi, mengundang penikmat mode untuk datang mengenakan busana terbaik mereka. Salah satu momen paling menonjol adalah pesta The Thousand and Second Night di 1911 di mana Poiret menampilkan gaun kap lampu dan celana harem.
Kemudian ini makin berkembang. Pada 1920-an dan 1930-an, Paris memamerkan kesederhanaan Coco Chanel, karya eksperimental surealis ala Elsa Schiaparelli hingga draping yang mengalir ala Madeleine Vionnet.
Hanya saja, saat itu pertunjukan lebih bersifat kecil, presentasi terbatas untuk klien dan jauh dari fotografer. Hal ini dilakukan karena kecemasan akan penjiplakan.
Paris Fashion Week pertama
Foto: AP/Francois Mori
Paris Fashion Week pertama
Setelah Perang Dunia II, peragaan busana di Paris menjadi lebih teratur. Pada 1945 Chambre Syndicale de la haute Couture menetapkan bahwa semua rumah mode harus menghadirkan 35 looks untuk siang dan malam secara musiman.
Industri mode dunia berkembang begitu pula di New York. Paris cukup gugup melihat pengaruh mode New York. Namun Paris memiliki senjata rahasia, Christian Dior. Koleksi pertama Dior, 'Corolle', dihadiri media mode dan mereka diizinkan untuk mengambil gambar.
Ini pun diikuti Yves Saint Laurent pada 1966 yang menghadirkan lini prêt-à-porter termasuk setelan tuksedonya yang disukai.
Pada 1973, Fédération Française de la Couture resmi berdiri dan menandai Paris Fashion Week pertama di kota mode tersebut.
Pertunjukan dibuka dengan Battle of Versailles Fashion Show di mana lima desainer Paris diadu dengan lima desainer Amerika. Memang ada ketegangan tetapi gelaran ini bertujuan untuk penggalangan dana untuk restorasi Istana Versailles.
Tim Paris mengusung Yves Saint Laurent, Emanuel Ungaro, Christian Dior, Pierre Cardin dan Hubert de Givenchy, sementara tim Amerika diwakili Anne Klein, Halston, Oscar de la Renta, Bill Blass dan Stephen Burrows.
Sejak saat itu, pertunjukan mode di Paris makin berani dan spektakuler. Thierry Mugler menjajah stadion Le Zenith untuk 6 ribu penonton, bra berbentuk kerucut karya Jean Paul Gaultier, dan kebangkitan Chanel di tangan Karl Lagerfeld pada 1980-an.
Kini, siapa yang tak tahu Paris Fashion Week? Bahkan ada begitu banyak label dunia yang ingin turut 'berpesta' tetapi bukan hal mudah menembus runway Paris. Tidak heran ada begitu banyak pertunjukan yang diselenggarakan bersamaan dengan agenda resmi Paris Fashion Week.