Kala Candi Borobudur 'Izin' Rehat Sejenak

tim | CNN Indonesia
Sabtu, 11 Jun 2022 10:30 WIB
Pikat dan pesona candi Budha terbesar di dunia, Borobudur masih belum pudar. Namun saat ini, Borobudur izin rehat sejenak dari wisatawan. Pikat dan pesona candi Budha terbesar di dunia, Borobudur masih belum pudar. Namun saat ini, Borobudur izin rehat sejenak dari wisatawan. (iStock/sihasakprachum)
Magelang, CNN Indonesia --

Pikat dan pesona candi Budha terbesar di dunia, Borobudur masih belum pudar.

Meski usianya sudah lebih dari 10 abad, namun kegagahan dan sejarahnya tetap menarik hati. Semua orang ingin menjadi bagian dari sejarahnya, lewat kunjungan dan juga foto yang diabadikan dalam akun sosial media.

Bukan sekadar lokasi wisata yang memanjakan mata, namun candi yang dibangun sekitar tahun 800 masehi di masa dinasti Syailendra menguasai tahta Kerajaan Medang ini juga menyimpan sejarah yang luar biasa lewat relief yang terukir dan juga arkeologinya.

Atas hal ini pulalah, Borobudur yang sering salah sebut berada di Yogyakarta, padahal sebenarnya berada di Kabupaten Magelang ditetapkan menjadi salah satu situs warisan dunia UNESCO.

Menurut catatan situs Badan Pusat Statistik (BPS) 2019 Kabupaten Magelang, Candi Borobudur berhasil mendatangkan kurang lebih 3 juta wisatawan lokal setiap tahunnya. Namun covid-19 membuat wisatawan turun drastis ke angka 900-an.

Sedangkan data yang ditulis oleh Isni Wahyuningsih dari Balai Konservasi Peninggalan Candi Borobudur pada tahun 2020 mencatat rata-rata jumlah pengunjung bisa mencapai angka 2 juta orang setiap tahunnya. Terlepas berapa jumlah pasti wisatawan yang datang, jumlah orang dan setiap hal tak bertanggung jawab yang dilakukan wisatawan menimbulkan berbagai efek buat candi.

Kelakuan Tak Bertanggung Jawab Pelancong

Sama seperti manusia yang usianya semakin tua, candi Borobudur juga makin renta. Batu-batu penyokong dan penyusun pun makin aus. Daya dukung struktur Borobudur pun makin lemah. Selain faktor 'usia' dan juga lingkungan, jumlah pengunjung sebelum yang melebihi daya tahan struktur candi juga jadi salah satu penyebabnya.

Tak cuma itu, banyaknya wisatawan yang berkunjung membuat struktur batu candi menjadi semakin aus akibat tekanan dan gesekan alas kaki yang dipakai oleh wisatawan.

Pemikiran inilah yang akhirnya membuat Badan Konservasi Borobudur (BKB) mulai pemerintah melarang wisatawan untuk naik ke Candi Borobudur sejak September tahun lalu.

Iwan Kurnianto, salah satu perwakilan dari Badan Konservasi Candi Borobudur menyebutkan tak hanya langkah kaki pengunjung kaki yang menimbulkan kerusakan pada candi. Tingkah laku para wisatawan yang usil membuat pihak pemeliharaan harus bekerja ekstra.

"Ada yang buang permen karet ke batu, coret-coret pakai bolpoin, itu yang kadang yang buat candi bisa rusak," kata Iwan saat ditemui CNNIndonesia.com, Selasa (7/6).

Iwan juga menambahkan bahwa wisatawan juga sering menyentuh bagian batu-batu candi. Tak sekedar menyentuh, mereka bahkan juga memindahkan, menggeser, mengambil bagian batu candi dan tidak mengembalikannya di tempat semula. Selain itu kelakuan yang sering terlihat adalah memanjat stupa, membuang sampah sembarangan, sampai menyentuh patung karena mitos yang beredar. Perlu diketahui, keringat-keringat dari tubuh yang menempel di batu bakal membuatnya jadi aus.

"Padahal pihak kita juga sudah mengawasi tapi karena saking banyaknya pengunjung jadi luput. Itupun kita tahu setelah melihat dari CCTV yang tersebar di area candi," tambah Iwan.

Iwan juga kesal karena pihaknya tak bisa berbuat lebih jauh lagi ke wisatawan yang sudah bertingkah sembrono tersebut. Sebenarnya terdapat sanksi yang bisa dikenakan terhadap perusak cagar budaya. Hal itu diatur berdasarkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya.

Di situ tertulis bahwa sanksi bagi perusak cagar budaya adalah pidana penjara paling singkat 1 tahun dan paling lama 15 tahun atau denda paling sedikit Rp500 juta dan paling banyak Rp5 miliar.

Namun setelah adanya larangan wisatawan untuk naik ke candi, Iwan beserta kawan-kawan dari Balai Konservasi bisa bernapas lega. Kerusakan candi makin minim. Hal ini juga memudahkan proses perawatan dan pembersihan candi.

"Lebih lega, jadi yang bersihin bisa lebih detail lagi dan tidak terburu-buru," kata Iwan.

Candi Borobudur Rehat Sejenak

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

TERPOPULER