Aksi Remaja Tanggung Cari Pacar, Cari Tenar di 'Citayam Fashion Week'
CNN Indonesia
Kamis, 07 Jul 2022 21:01 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Buat Febri, nongkrong di Taman MRT Dukuh Atas, bukan cuma buat adu outfit saja tapi juga cari pacar. (CNN Indonesia/ Adi Ibrahim)
Jakarta, CNN Indonesia --
Febri seorang remaja tanggung berusia 16 tahun, adalah satu dari puluhan, mungkin ratusan remaja putus sekolah yang memilih nongkrong saban hari di Taman MRT Dukuh Atas.
Biasanya Febri dan teman-temannya mulai datang ke kawasan itu antara pukul 15.00 WIB sampai jelang tengah malam. Tempat yang kini populer sebagai area Citayam Fashion Week.
"Hampir tiap hari sih nongkrong di sini, seru aja aku diliatin cowok-cowok, sambil nyari pacar," kata Febri kepada CNNIndonesia.com.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut dia, di waktu-waktu itu cowok keren yang jadi 'incarannya' akan berdatangan. Dengan gaya dan pakaian keren hilir mudik mengajaknya kenalan.
Rabu (6/7) sore itu saat cuaca agak sedikit mendung, Febri bercerita pada kalau dia kerap diajak kenalan. Saling bertukar akun media sosial hingga nomor whatsapp dengan para pria asal Citayam, Cibinong, Depok hingga Bogor.
"Biasanya nyamperin, ngajak kenalan. Terus beli es teh. Ngobrol, minta nomor, kita chatingan," kata Febri yang mengaku tinggal di daerah Karet Sudirman.
Alasan terbesar Febri nongkrong di Sudirman memang untuk cari pacar. Hormon remajanya seolah menggebu setiap kali melihat pria yang menurutnya tampan, rupawan dan punya selera fashion keren.
Dia juga menyebut, kebanyakan teman-temannya di sana memang mencari gebetan dan ketenaran. Apalagi daerah itu kini sedang viral, hampir semua orang membicarakannya.
"Ya kan enak, nyari pacar jalan-jalan, bolak balik ada yang ngajak kenalan. Pacaran deh. Aku seminggu sekali bisa ganti pacar," katanya.
Mengoleksi mantan pacar sebanyak mungkin juga dilakukan Windi (14) gadis asal Klender ini bisa tiga sampai empat kali mengunjungi Sudirman. Katanya, pria-pria muda di sana cukup menarik sampai bikin dia betah nongkrong hingga larut malam.
"Ya seneng lah kak. Lirik-lirikan, aku tuh ya pas datang biasanya liat nih, mengincar yang ganteng terus diliatin lama-lama nyamperin, ngajak kenalan," seloroh Windi penuh percaya diri.
Foto: CNN Indonesia/ Adi Ibrahim Ratusan remaja dari berbagai daerah penyangga Jakarta mendatangi Taman Stasiun MRT Dukuh Atas di kawasan BNI City, Sudirman, Jakarta Pusat, Selasa (5/7). Banyak dari mereka datang untuk menghabiskan waktu libur sekolah. (CNN Indonesia/ Adi Ibrahim)
Tampilan Windi hari itu memang tampak keren, dia mengenakan rok hitam panjang yang dipadukan dengan kaos dan jaket bomber warna merah. Topi baseball juga bertengger di kepalanya.
Dia bilang gaya itu membuatnya terlihat boyish sekaligus feminin. Dia merasa betul-betul cantik dan keren di waktu yang bersamaan.
"Ya banyak yang ngajak foto bareng dan ngajak kenalan," katanya.
Selain mencari pacar, Windi juga mengaku mencari cuan dan ketenaran. Bisa dibilang Windi adalah 'orang baru' di Sudirman.
Dia datang ke daerah itu setelah Citayam Fashion Week jadi perbincangan di berbagai platform media sosial. Windi bahkan rela naik kereta atau busway hanya untuk nongkrong di daerah tersebut sampai larut malam.
Kata Windi tidak ada tempat yang sebagus Sudirman di daerah Klender, makanya dia dan teman-temannya memilih datang jauh-jauh ke daerah itu hanya untuk nongkrong, dapat pacar sekaligus cuan.
"Kita kan kesini sambil ngonten. Bikin pargoy (partai goyang), joget TikTok," selorohnya.
Magnet Sudirman
Jika Windi dan Febri yang notabene orang Jakarta senang main ke Sudirman untuk mencari pacar, Irgi (15) asal Citayam justru memiliki pandangan yang berbeda. Sudirman baginya panggung, tempat berekspresi tanpa takut dipandang berbeda.
Irgi mengaku, di Citayam tidak ada tempat yang membuatnya bebas main skateboard, memakai kaos oblong dan celana longgar atau mengecat rambutnya dengan warna terang.
"Ya kalau di kampung pakai baju gini diketawain orang, disangka gila. Suruh ngaji yang ada," katanya.
Semula Irgi datang ke Sudirman hanya sesekali, lama-lama dia malah jadi jarang pulang ke Citayam. Kadang menginap sampai lima hari di kontrakan teman atau di stasiun BNI yang dia sebut bisa diakses lewat jalan tikus jika malam.
"Ada deh jalan gitu bisa masuk lewat situ ke stasiun, numpang tidur di sana, amanlah kita," katanya.
Bukan cuma itu, Sudirman yang kini berubah jadi Citayam Fashion Week juga mendatangkan cuan yang cukup lumayan. Irgi kerap 'nebeng' joget pargoy di akun YouTube atau TikTok temannya, terutama yang sudah punya pengikut banyak.
Biasanya dia kecipratan jatah. Rp100-200 ribu bisa didapat jika ikut nampang atau membantu endorse temannya yang sudah lebih dulu tenar.
"Kaya Bonge, Kurma sama Jeje itu kan sudah ada endorse, ya kita bantu-bantulah dikit, atau ikut pargoy sama anak-anak lain. Lumayan duitnya bisa buat makan," katanya.
"Ya kalau di Citayam bisa begini, kita di sana aja sih. Tapi kan gak ada, makanya kita Sudirman saja. Kita gak bikin kotor kok, kita juga kan keren," selorohnya menutup pembicaraan sore itu.
Jakarta, CNN Indonesia --
Febri seorang remaja tanggung berusia 16 tahun, adalah satu dari puluhan, mungkin ratusan remaja putus sekolah yang memilih nongkrong saban hari di Taman MRT Dukuh Atas.
Biasanya Febri dan teman-temannya mulai datang ke kawasan itu antara pukul 15.00 WIB sampai jelang tengah malam. Tempat yang kini populer sebagai area Citayam Fashion Week.
"Hampir tiap hari sih nongkrong di sini, seru aja aku diliatin cowok-cowok, sambil nyari pacar," kata Febri kepada CNNIndonesia.com.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut dia, di waktu-waktu itu cowok keren yang jadi 'incarannya' akan berdatangan. Dengan gaya dan pakaian keren hilir mudik mengajaknya kenalan.
Rabu (6/7) sore itu saat cuaca agak sedikit mendung, Febri bercerita pada kalau dia kerap diajak kenalan. Saling bertukar akun media sosial hingga nomor whatsapp dengan para pria asal Citayam, Cibinong, Depok hingga Bogor.
"Biasanya nyamperin, ngajak kenalan. Terus beli es teh. Ngobrol, minta nomor, kita chatingan," kata Febri yang mengaku tinggal di daerah Karet Sudirman.
Alasan terbesar Febri nongkrong di Sudirman memang untuk cari pacar. Hormon remajanya seolah menggebu setiap kali melihat pria yang menurutnya tampan, rupawan dan punya selera fashion keren.
Dia juga menyebut, kebanyakan teman-temannya di sana memang mencari gebetan dan ketenaran. Apalagi daerah itu kini sedang viral, hampir semua orang membicarakannya.
"Ya kan enak, nyari pacar jalan-jalan, bolak balik ada yang ngajak kenalan. Pacaran deh. Aku seminggu sekali bisa ganti pacar," katanya.
Mengoleksi mantan pacar sebanyak mungkin juga dilakukan Windi (14) gadis asal Klender ini bisa tiga sampai empat kali mengunjungi Sudirman. Katanya, pria-pria muda di sana cukup menarik sampai bikin dia betah nongkrong hingga larut malam.
"Ya seneng lah kak. Lirik-lirikan, aku tuh ya pas datang biasanya liat nih, mengincar yang ganteng terus diliatin lama-lama nyamperin, ngajak kenalan," seloroh Windi penuh percaya diri.
Foto: CNN Indonesia/ Adi Ibrahim Ratusan remaja dari berbagai daerah penyangga Jakarta mendatangi Taman Stasiun MRT Dukuh Atas di kawasan BNI City, Sudirman, Jakarta Pusat, Selasa (5/7). Banyak dari mereka datang untuk menghabiskan waktu libur sekolah. (CNN Indonesia/ Adi Ibrahim)
Tampilan Windi hari itu memang tampak keren, dia mengenakan rok hitam panjang yang dipadukan dengan kaos dan jaket bomber warna merah. Topi baseball juga bertengger di kepalanya.
Dia bilang gaya itu membuatnya terlihat boyish sekaligus feminin. Dia merasa betul-betul cantik dan keren di waktu yang bersamaan.
"Ya banyak yang ngajak foto bareng dan ngajak kenalan," katanya.
Selain mencari pacar, Windi juga mengaku mencari cuan dan ketenaran. Bisa dibilang Windi adalah 'orang baru' di Sudirman.
Dia datang ke daerah itu setelah Citayam Fashion Week jadi perbincangan di berbagai platform media sosial. Windi bahkan rela naik kereta atau busway hanya untuk nongkrong di daerah tersebut sampai larut malam.
Kata Windi tidak ada tempat yang sebagus Sudirman di daerah Klender, makanya dia dan teman-temannya memilih datang jauh-jauh ke daerah itu hanya untuk nongkrong, dapat pacar sekaligus cuan.
"Kita kan kesini sambil ngonten. Bikin pargoy (partai goyang), joget TikTok," selorohnya.
Magnet Sudirman buat Adu Outfit
Foto: CNN Indonesia/Tiara Sutari
Magnet Sudirman
Jika Windi dan Febri yang notabene orang Jakarta senang main ke Sudirman untuk mencari pacar, Irgi (15) asal Citayam justru memiliki pandangan yang berbeda. Sudirman baginya panggung, tempat berekspresi tanpa takut dipandang berbeda.
Irgi mengaku, di Citayam tidak ada tempat yang membuatnya bebas main skateboard, memakai kaos oblong dan celana longgar atau mengecat rambutnya dengan warna terang.
"Ya kalau di kampung pakai baju gini diketawain orang, disangka gila. Suruh ngaji yang ada," katanya.
Semula Irgi datang ke Sudirman hanya sesekali, lama-lama dia malah jadi jarang pulang ke Citayam. Kadang menginap sampai lima hari di kontrakan teman atau di stasiun BNI yang dia sebut bisa diakses lewat jalan tikus jika malam.
"Ada deh jalan gitu bisa masuk lewat situ ke stasiun, numpang tidur di sana, amanlah kita," katanya.
Bukan cuma itu, Sudirman yang kini berubah jadi Citayam Fashion Week juga mendatangkan cuan yang cukup lumayan. Irgi kerap 'nebeng' joget pargoy di akun YouTube atau TikTok temannya, terutama yang sudah punya pengikut banyak.
Biasanya dia kecipratan jatah. Rp100-200 ribu bisa didapat jika ikut nampang atau membantu endorse temannya yang sudah lebih dulu tenar.
"Kaya Bonge, Kurma sama Jeje itu kan sudah ada endorse, ya kita bantu-bantulah dikit, atau ikut pargoy sama anak-anak lain. Lumayan duitnya bisa buat makan," katanya.
"Ya kalau di Citayam bisa begini, kita di sana aja sih. Tapi kan gak ada, makanya kita Sudirman saja. Kita gak bikin kotor kok, kita juga kan keren," selorohnya menutup pembicaraan sore itu.