Alasan Umat Muslim Melempar 7 Batu Kerikil saat Jumrah

CNN Indonesia
Sabtu, 09 Jul 2022 10:36 WIB
Jemaah haji harus melempar tujuh batu pada masing-masing tiang di Kompleks Jembatan Jumrah. Mengapa jumlahnya tujuh? Ilustrasi. Jemaah harus melempar tujuh batu pada masing-masing tiang di Kompleks Jembatan Jumrah. (REUTERS/AHMED YOSRI)
Jakarta, CNN Indonesia --

Salah satu rangkaian ibadah haji yang wajib dilakukan umat Muslim adalah melempar jumrah. Ini dilakukan jemaah setelah wukuf di Arafah dan mabit atau menginap di Muzdalifah.

Melempar jumrah dilakukan pada 10 Zulhijah hingga hari tasyrik yakni 11, 12, dan 13 Zulhijah di Mina. Di masing-masing hari tersebut, jemaah wajib melontar Jumroh Ula, Jumrah Wustha, dan Jumrah Aqabah dengan tujuh batu kerikil.

Batu kerikil yang akan dilempar saat jumrah ini dikumpulkan saat menginap di Muzdalifah. Jumlah batu yang dikumpulkan sebanyak 70 atau 49 butir.

Jika jamaah berencana menginap selama tiga hari, maka dipersilakan mengambil 70 butir kerikil. Jika berencana menginap selama dua hari, maka kerikil yang diambil berjumlah 49 butir.

Batu-batu kerikil itu akan dilempar di tiga tiang yang diberi nama Kompleks Jembatan Jumrah di Kota Mina yang terletak di sebelah timur Makkah.

Ada tujuh butir batu yang harus dilempar di masing-masing tiang. Kenapa harus tujuh butir batu yang dilempar?

Ketua PBNU Kyai Ahmad Fahrur Rozi atau Gus Fahrur mengatakan, aturan melempar tujuh butir batu kerikil ini merupakan hal yang dilakukan Nabi Muhammad SAW di masa lalu.

"Dan semua amalan haji mengikuti apa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW, termasuk lempar jumrah ini," kata Gus Fahrur saat dihubungi CNNIndonesia.com, Jumat (8/7).

Dia menjelaskan, lempar jumrah atau ramyul jumrah adalah melemparkan batu kerikil pada waktu, tempat, dan jumlah yang sudah ditentukan. Ini juga menjadi simbol melempar setan.

"Setan ini dijelmakan dalam tiga bagian, yaitu jumrah ula [pertama] atau jumrah sughra, jumrah wustha [tengah], dan jumrah 'aqabah [terakhir]," jelasnya.

Muslim pilgrims cast stones at a pillar in the symbolic stoning of the devil, the last rite of the annual hajj, and the first day of Eid al-Adha, in Mina near the holy city of Mecca, Saudi Arabia, Friday, July 31, 2020. The global coronavirus pandemic has cast a shadow over every aspect of this year's pilgrimage, which last year drew 2.5 million Muslims from across the world to Mount Arafat, where the Prophet Muhammad delivered his final sermon nearly 1,400 years ago. Only a very limited number of pilgrims were allowed to take part in the hajj amid numerous restrictions to limit the potential spread of the coronavirus. (Saudi Ministry of Media via AP)Ilustrasi. Jemaah haji akan melakukan lempar jumrah di Mina, Arab Saudi. (AP/Ministry of Media)

Iblis atau setan ini dianggap sebagai musuh manusia yang nyata. Melempar jumrah dilakukan sebagai bentuk memerangi iblis agar godaan mereka tidak bisa menembus diri manusia.

"Sampai kiamat, iblis tidak akan pernah mati. Jadi, percuma saja kalau kita ingin membunuhnya. Maka, yang harus kita bunuh adalah sifat-sifat iblis dan setan yang ada dalam diri kita," jelasnya.

Gus Fahrur juga menjelaskan, tujuh batu kerikil yang harus dilempar saat jumrah tidak boleh dilontarkan sekaligus. Ini adalah salah satu kesalahan yang paling sering dilakukan umat Islam.

Sebaiknya, setiap batu dilempar satu per satu yang juga dilakukan sambil mengucapkan lafal takbir (Allahu Akbar).

"Melempar jumrah merupakan perintah Allah. Melakukan keduanya [sambil membaca takbir] merupakan bentuk ketaatan yang akan membuat setan kesal dan menjauh dari manusia," kata dia.

(tst/asr)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

TERPOPULER