Jakarta, CNN Indonesia -- Menikmati sore sambil menyusuri sungai air payau di belantara hutan mangrove pastinya jadi pengalaman yang seru dan tak terlupakan. Apalagi, menjelang malam, kamu bisa melihat matahari terbenam di tengah lautan.
Tentu saja, saat menyusuri hutan di malam hari jangan lewatkan atraksi indah dari ribuan kunang-kunang yang berkelap-kelip di dahan pohon mangrove. Mereka akan muncul saat langit sudah gelap. Benar-benar pengalaman yang mengagumkan di Bintan.
Pengalaman inilah yang bisa kamu dapatkan saat menyusuri Sungai Kawal, salah satu hutan mangrove yang ada di Bintan, Kepulauan Riau.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menyusuri mangrove dan melihat matahari terbenam di tengah laut
Sungai Kawal adalah salah satu destinasi wisata air yang bisa kamu kunjungi di sore hari. Pasalnya, hanya sore menjelang malam kamu bisa melihat matahari terbenam dan ribuan kunang-kunang bermunculan untuk memperlihatkan cahaya mungilnya, berpesta sambil kawin dan beranak-pinak.
Sungai Kawal sendiri berada di kawasan Pantai Trikora, Kecamatan Gunung Kijang, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau. Sungai ini beririsan dengan desa nelayan dan pasar ikan yang kerap beroperasi setiap pagi.
Makanya, bukan hanya mangrove yang bisa kamu lihat, rumah-rumah apung nelayan juga bisa jadi pemandangan menarik yang cukup berkesan. Apalagi, nelayan di sini sangat ramah. Mereka kerap menawarkan hasil tangkapan ke setiap pengunjung yang lewat menumpang kapal.
Saat berkunjung ke hutan mangrove di Sungai Kawal, kamu bisa menyewa perahu warga yang memang dijajakan di pinggiran sungai. Biasanya untuk satu perahu, mereka mampu mengangkut delapan sampai 10 orang wisatawan.
 Sungai Kawal di Bintang tempat wisata hutan mangrove sambil melihat kunang-kunang. (Foto: cnnindonesia/tiarasutari) |
Salah satu pengemudi perahu, Hajidin menyebut hutan mangrove ini bukan hanya jadi tempat wisata, tapi juga sumber kehidupan berbagai satwa darat maupun air.
"Kita bisa melihat kepiting ketam, tiram, berbagai jenis burung, ular, sampai monyet yang hidup di hutan mangrove ini," kata Hajidin yang mengaku hampir setiap hari mengajak wisatawan berkeliling dan menjelaskan keindahan hutan mangrove di Sungai Kawal saat menemani CNNIndonesia.com menyusuri sungai.
Dia bilang, kebanyakan wisatawan senang saat melihat kejutan yang datang dari hewan-hewan liar tersebut. Misalnya sore itu, Hajidin menunjukkan ular kobra yang melingkar di dahan pohon mangrove, tertidur nyenyak, tidak peduli dengan kehadiran manusia yang asik menonton sambil menahan takut setengah mati.
"Tenang saja, ular-ular dan hewan di sini tidak akan mengganggu manusia, karena kita juga tak ganggu mereka," kata Hajidin menenangkan pengunjung yang ketakutan tapi penuh rasa penasaran.
Makin sore, suasana di sungai mangrove ini makin terasa sejuk dan menyegarkan. Apalagi makin banyak hewan yang bermunculan. Ada monyet yang loncat dari satu pohon ke pohon lainnya, ada biawak yang asyik melompat-lompat di akar mangrove, ada kepiting ketam, bahkan banyak sekali tiram yang menempel di akar mangrove.
Menjelang matahari terbenam, perahu akan berbelok, membawa wisatawan ke tengah lautan. Mau apa? tentu saja untuk melihat matahari terbenam di tengah laut.
Melihat Kunang-Kunang yang Menari
Ilustrasi kunang-kunang. (Foto: Istockphoto/ruiruito)
Saat tiba di tengah perairan, pandangan terasa luas. Benar saja, gugusan warna orange, kuning dan kemerahan tergambar di langit Bintan. Indah dan tentu saja terasa, hangat.
Pemandangan ini hampir setiap hari bisa dilihat di Sungai Kawal, tentu saja selama cuaca tidak mendung dan hujan.
"Tapi di sini jarang hujan, jadi mataharinya bagus terus," kata Hajidin, terkekeh.
Melihat kunang-kunang menari
Saat langit mulai gelap, Hajidin akan membawa kembali perahu ke tengah hutan mangrove. Mengajak pengunjung kembali menyusuri belantara hutan di tengah gelap, tanpa senter atau alat bantu penerangan apapun.
Mulanya memang terasa mencekam. Apalagi, angin laut juga diam-diam mulai masuk ke balik jaket. Dingin dan mungkin sedikit membuat merinding.
Makin masuk ke hutan, udara dingin makin menusuk. Pandangan juga makin gelap, tapi mata sudah mulai beradaptasi dengan gelap. Saat itulah, mulai terlihat kelap-kelip di balik rimbunnya pohon mangrove pinggir sungai.
"Itu kunang-kunangnya sudah mulai kelihatan," kata Hajidin berseru pada penumpang kapal yang dia bawa.
 Berkeliling hutan mangrove di Sungai Kawal, Bintan. (Foto: cnnindonesia/tiarasutari) |
Benar saja, awalnya hanya satu titik, lama-lama jadi dua, tiga dan makin banyak. Di atas pohon berkelip layaknya pohon natal di bulan Desember. Indah dan tentu saja membuat pengunjung berdecak kagum.
Melihat kunang-kunang secara langsung rasanya bukan hal yang bisa dilakukan di tengah hiruk pikuk kota yang cahayanya tak pernah padam. Kunang-kunang suka gelap, karena di tengah gelap dia bisa bersinar terang.
"Makanya tadi saya tidak menyalakan senter, karena kunang-kunang bisa semakin jelas terlihat," kata Hajidin.
Makin masuk ke hutan, kunang-kunang yang berkelip semakin banyak. Hutan mangrove yang gelap jadi tempat berdansa para kunang-kunang ini. Mereka berpesta, bercahaya di tengah gelap dan dinginnya hutan mangrove.
Kurang lebih tur keliling hutan mangrove ini berjalan selama dua setengah jam. Untuk bisa menikmati paket keliling hutan mangrove, melihat matahari terbenam di tengah laut, dan hamparan kunang-kunang di tengah hutan saat malam kamu perlu merogoh kocek Rp850.000 per orang. Sementara untuk anak usia 3-11 hatun hanya dihargai Rp550.000 per anak.