Dua Sisi Kerokan: Dipuja di Asia, Membingungkan di Eropa
CNN Indonesia
Minggu, 18 Des 2022 15:59 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Meskipun kerokan sudah sering dilakukan oleh nenek moyang bangsa Indonesia, teknik pengobatan tua ini ternyata kerokan bukan cuma ada di Indonesia. (iStockphoto/Kadek Bonit Permadi)
Jakarta, CNN Indonesia --
Kerokan biasanya jadi senjata utama orang Indonesia saat masuk angin. Kerokan merupakan pengobatan tradisional untuk mengusir masuk angin yang dilakukan menggunakan logam yang digesekkan ke permukaan kulit.
Meskipun kerokan sudah sering dilakukan oleh nenek moyang bangsa Indonesia, teknik pengobatan tua ini ternyata kerokan bukan cuma ada di Indonesia. Teknik kerokan juga ada dapat juga ditemui di beberapa negara lain, terutama di wilayah Asia, meski punya nama yang berbeda.
Bukan cuma di Indonesia, kerokan rupanya juga bisa ditemui di sejumlah negara Asia Tenggara dan Asia Timur lainnya seperti Laos, Thailand, Kamboja, Vietnam, Korea Selatan, dan Cina Selatan. Di Cina, kerokan dikenal dengan sebutan gua sha, di Kamboja terkenal dengan sebutan goh kyol, sementara di Vietnam lebih akrab disebut cao gio.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kerokan di China
Awalnya, kerokan berasal dari China dan diperkirakan dipraktikkan pertama kali pada abad ke-5. Praktek pengobatan tradisional ini kemudian merambah ke beberapa negara Asia lain termasuk Indonesia.
Di China terdapat metode pengobatan tradisional yang dikenal dengan gua sha. Sama dengan kerokan, gua sha diartikan sebagai kegiatan menggosok penyakit dengan membiarkan penyakit keluar dari tubuh dan terlihat seperti garis merah di atas kulit. Alat yang digunakan dalam metode gua sha yaitu batu giok atau jade stone.
Menurut kepercayaan masyarakat China, kesehatan adalah keadaan spiritual dan fisik yang selaras dengan alam. Tubuh yang sehat berada dalam keadaan seimbang antara yin dan yang, yang umumnya diterjemahkan sebagai panas (yang) dan dingin (yin) yang lebih mengacu pada kualitas alih-alih suhu.
Di beberapa masyarakat, tanggapan terhadap penyakit didasarkan pada sistem kepercayaan dan praktik, yang memiliki struktur logisnya sendiri. Dari sudut pandang ilmiah, keyakinan tentang sumber penyakit mungkin tidak rasional, tetapi pengobatannya merupakan konsekuensi logis dari keyakinan tersebut.
Sementara itu, cao gio secara harfiah diartikan sebagai "menangkap angin". Dalam bahasa Vietnam, masuk angin disebut trung gio. Di Vietnam, cao gio adalah metode penyembuhan tradisional yang berasal dari zaman kaisar Vietnam pertama.
Aktivitas ini umumnya dilakukan di lingkungan keluarga atau di pedesaan Vietnam sebagai cara tradisional untuk mengobati pasien karena tidak adanya dokter berlisensi.
Masyarakat China atau negara Asia lainnya yang menetap di Amerika Serikat pun melakukan aktivitas kerokan, yang di mana di sana dikenal dengan sebutan coining.
Kerokan 'Melanggar Kemanusiaan?'
Jika di Asia, praktik kerokan dianggap jadi 'obat' alami, beda cerita di negara-negara barat. Di negara-negara barat, praktik tersebut sering disalahartikan sebagai penyiksaan lantaran menyebabkan 'cedera' fisik di bagian punggung. Di Australia misalnya, kerokan dianggap sebagai sesuatu yang melawan kemanusiaan.
Rini Damanik, warga ngara Indonesia yang tinggal di Australia mengungkapkan bahwa di negara itu kerokan seringkali dianggap sebagai sesuatu yang melawan kemanusiaan.
"Kalau di Sydney enggak ada, kita adanya bekam," ucap Rini saat dihubungi CNNIndonesia.com, Senin (12/12).
Wanita yang telah lama menetap di Sydney itu pun mengatakan bahwa tak sedikit orang Australia yang takut kerokan.
"Kami takut kerokan karena itu melawan kemanusiaan. Seperti orang dicambuk jadi enggak boleh. Itu udah jadi pandangan orang Australia," lanjutnya.
"Kalau orang Australia bilang, buat apa badan kamu disakit-sakitin gitu? Jadi enggak boleh di sini."
Ia pun menjelaskan bahwa alih-alih kerokan, orang Asia yang tinggal di Australia lebih sering melakukan bekam terutama di daerah China Town.
Berbeda dengan di Australia, WNI yang ada di Nantes, Prancis, Aseani Sethiorini mengungkapkan bahwa hanya orang Asia di sana yang paham 'enaknya' kerokan.
"Kalau kerokan enggak pada tahu. Taunya massage (pijat) doang," katanya kepada CNNIndonesia.com.
"Pernah kasih tahu ke suami ku, pas aku masuk angin. Aku kasih liat youtube terus dia ngikutin. Terus ga tega katanya lihat merah-merah punggungku."
Aseani juga mengatakan bahwa sang suami yang orang Prancis tak pernah mau dikerok.
"Sakit pasti katanya. Dia cuma bilang aneh doang, metodenya bikin sakit tapi kok buat ngurangin sakit," ucapnya.
Fandi Stuerz yang berdomisili di Jerman mengungkapkan bahwa teman-teman Jermannya tak pernah tahu soal kerokan.
"Teman-temanku ngiranya cupang, soalnya merah-merahnya kan sama tuh," ujarnya kepada CNNIndonesia.com.
"Aneh karena enggak pernah liat terus g yakin kalo itu teknik ngobatin atau malah nyakitin, terus kayak does it really work? gitu."
Jakarta, CNN Indonesia --
Kerokan biasanya jadi senjata utama orang Indonesia saat masuk angin. Kerokan merupakan pengobatan tradisional untuk mengusir masuk angin yang dilakukan menggunakan logam yang digesekkan ke permukaan kulit.
Meskipun kerokan sudah sering dilakukan oleh nenek moyang bangsa Indonesia, teknik pengobatan tua ini ternyata kerokan bukan cuma ada di Indonesia. Teknik kerokan juga ada dapat juga ditemui di beberapa negara lain, terutama di wilayah Asia, meski punya nama yang berbeda.
Bukan cuma di Indonesia, kerokan rupanya juga bisa ditemui di sejumlah negara Asia Tenggara dan Asia Timur lainnya seperti Laos, Thailand, Kamboja, Vietnam, Korea Selatan, dan Cina Selatan. Di Cina, kerokan dikenal dengan sebutan gua sha, di Kamboja terkenal dengan sebutan goh kyol, sementara di Vietnam lebih akrab disebut cao gio.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kerokan di China
Awalnya, kerokan berasal dari China dan diperkirakan dipraktikkan pertama kali pada abad ke-5. Praktek pengobatan tradisional ini kemudian merambah ke beberapa negara Asia lain termasuk Indonesia.
Di China terdapat metode pengobatan tradisional yang dikenal dengan gua sha. Sama dengan kerokan, gua sha diartikan sebagai kegiatan menggosok penyakit dengan membiarkan penyakit keluar dari tubuh dan terlihat seperti garis merah di atas kulit. Alat yang digunakan dalam metode gua sha yaitu batu giok atau jade stone.
Menurut kepercayaan masyarakat China, kesehatan adalah keadaan spiritual dan fisik yang selaras dengan alam. Tubuh yang sehat berada dalam keadaan seimbang antara yin dan yang, yang umumnya diterjemahkan sebagai panas (yang) dan dingin (yin) yang lebih mengacu pada kualitas alih-alih suhu.
Di beberapa masyarakat, tanggapan terhadap penyakit didasarkan pada sistem kepercayaan dan praktik, yang memiliki struktur logisnya sendiri. Dari sudut pandang ilmiah, keyakinan tentang sumber penyakit mungkin tidak rasional, tetapi pengobatannya merupakan konsekuensi logis dari keyakinan tersebut.
Sementara itu, cao gio secara harfiah diartikan sebagai "menangkap angin". Dalam bahasa Vietnam, masuk angin disebut trung gio. Di Vietnam, cao gio adalah metode penyembuhan tradisional yang berasal dari zaman kaisar Vietnam pertama.
Aktivitas ini umumnya dilakukan di lingkungan keluarga atau di pedesaan Vietnam sebagai cara tradisional untuk mengobati pasien karena tidak adanya dokter berlisensi.
Masyarakat China atau negara Asia lainnya yang menetap di Amerika Serikat pun melakukan aktivitas kerokan, yang di mana di sana dikenal dengan sebutan coining.
Kerokan 'Melanggar Kemanusiaan' sampai Dikira Cupang
Meskipun kerokan sudah sering dilakukan oleh nenek moyang bangsa Indonesia, teknik pengobatan tua ini ternyata kerokan bukan cuma ada di Indonesia. (Getty Images/psisa)
Kerokan 'Melanggar Kemanusiaan?'
Jika di Asia, praktik kerokan dianggap jadi 'obat' alami, beda cerita di negara-negara barat. Di negara-negara barat, praktik tersebut sering disalahartikan sebagai penyiksaan lantaran menyebabkan 'cedera' fisik di bagian punggung. Di Australia misalnya, kerokan dianggap sebagai sesuatu yang melawan kemanusiaan.
Rini Damanik, warga ngara Indonesia yang tinggal di Australia mengungkapkan bahwa di negara itu kerokan seringkali dianggap sebagai sesuatu yang melawan kemanusiaan.
"Kalau di Sydney enggak ada, kita adanya bekam," ucap Rini saat dihubungi CNNIndonesia.com, Senin (12/12).
Wanita yang telah lama menetap di Sydney itu pun mengatakan bahwa tak sedikit orang Australia yang takut kerokan.
"Kami takut kerokan karena itu melawan kemanusiaan. Seperti orang dicambuk jadi enggak boleh. Itu udah jadi pandangan orang Australia," lanjutnya.
"Kalau orang Australia bilang, buat apa badan kamu disakit-sakitin gitu? Jadi enggak boleh di sini."
Ia pun menjelaskan bahwa alih-alih kerokan, orang Asia yang tinggal di Australia lebih sering melakukan bekam terutama di daerah China Town.
Berbeda dengan di Australia, WNI yang ada di Nantes, Prancis, Aseani Sethiorini mengungkapkan bahwa hanya orang Asia di sana yang paham 'enaknya' kerokan.
"Kalau kerokan enggak pada tahu. Taunya massage (pijat) doang," katanya kepada CNNIndonesia.com.
"Pernah kasih tahu ke suami ku, pas aku masuk angin. Aku kasih liat youtube terus dia ngikutin. Terus ga tega katanya lihat merah-merah punggungku."
Aseani juga mengatakan bahwa sang suami yang orang Prancis tak pernah mau dikerok.
"Sakit pasti katanya. Dia cuma bilang aneh doang, metodenya bikin sakit tapi kok buat ngurangin sakit," ucapnya.
Fandi Stuerz yang berdomisili di Jerman mengungkapkan bahwa teman-teman Jermannya tak pernah tahu soal kerokan.
"Teman-temanku ngiranya cupang, soalnya merah-merahnya kan sama tuh," ujarnya kepada CNNIndonesia.com.
"Aneh karena enggak pernah liat terus g yakin kalo itu teknik ngobatin atau malah nyakitin, terus kayak does it really work? gitu."