'Uji Nyali' Melawan Cuaca Dingin yang Menusuk Mengelilingi Seoul
Ramadhan Rizki | CNN Indonesia
Sabtu, 17 Des 2022 17:03 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Ilustrasi. Seoul punya banyak tempat yang layak dikunjungi pelancong, termasuk salah satunya kawasan Itaewon. (AFP/JUNG YEON-JE)
Jakarta, CNN Indonesia --
Matahari belum terlihat terik ketika saya mendarat di Bandara Internasional Incheon, Korea Selatan pada awal Desember lalu. Negeri Ginseng memang tengah memasuki musim dingin.
Badan rasanya seperti tertusuk-tusuk, menggigil, gigi gemeletak kencang, dan telapak tangan membeku. Petunjuk suhu udara di ponsel pintar tercatat di kisaran -1 derajat Celcius.
Ini kali pertama saya menjejakkan kaki di Negeri Ginseng. Saya berkunjung untuk menghadiri undangan Press Tour for 2022 Korea-ASEAN Cooperation in Health Sector dari Kementerian Luar Negeri Korea Selatan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Udara 'super dingin' Korsel menjadi momen pertama saya berada di cuaca ekstrem. Terakhir, paling-paling cuaca dingin di puncak Gunung Merbabu pada 2015 lalu yang 'hanya' mencapai 11 derajat Celcius.
Setibanya di bandara, saya dijemput menggunakan taksi untuk menuju pusat Kota Seoul. Selain taksi, sebenarnya pelancong bisa menggunakan alternatif transportasi lain seperti bus dan kereta bandara.
Incheon berjarak cukup jauh dari pusat kota Seoul. Setidaknya dibutuhkan waktu sekitar 50 menit untuk tiba ke lokasi penginapan yang dituju, yang berdekatan dengan Seoul City Hall.
Di sela-sela kegiatan, saya berkesempatan untuk menjelajahi sudut-sudut Seoul sebelum kembali lagi ke Jakarta.
Mengunjungi 'gudang' informasi wisata Seoul
Suasana di dalam Seoul Tourism Plaza. (CNN Indonesia/Ramadhan Rizki Saputra)
Pihak Kementerian Luar Negeri Korsel mengajak 17 delegasi dari 9 negara Asia Tenggara untuk berkeliling mengunjungi Seoul Tourism Plaza. Cuaca yang dingin hingga mencapai -5 derajat Celcius membuat pihak penyelenggara menyarankan kami agar menggunakan baju berlapis.
Seoul Tourism Plaza terletak di Gesung Samil 85, Cheonggyecheon-ro, Jongno-gu, Seoul. Tempat ini dikelola langsung oleh Pemerintah Kota Seoul dengan menggandeng BTS sebagai brand ambassador-nya.
Kantor ini merupakan 'gudang' semua informasi wisata Seoul. Tak cuma informasi pariwisata, deretan toko suvenir juga hadir di tempat ini.
Pelancong bisa mendapatkan berbagai brosur, peta atau bertanya langsung kepada costumer service yang tersedia dalam bahasa Korea, Inggris, Mandarin, dan Jepang.
Bangunan ini juga menyediakan fasilitas ruangan bagi perusahaan start-up yang bergerak di bidang pariwisata untuk berkantor. Ada juga Online Media Center berupa studio yang disewakan untuk publik yang ingin memproduksi berbagai konten video atau podcast.
Tak lengkap rasanya bila ke Korea Selatan tanpa berbelanja. Saya menjatuhkan pilihan pada pasar tradisional Namdaemun yang dikenal lebih murah ketimbang lokasi lain di Seoul.
Lokasinya sangat dekat dengan Seoul City Hall. Berjalan kaki hanya menghabiskan waktu sekitar 15 menit.
Pasar ini mirip seperti pasar tradisional yang ada di Indonesia. Sejumlah pedagang kios dan lapak menjajakan jualannya mulai dari pakaian, tas, alat masak hingga barang-barang tradisional khas Korea. Harga-harga yang ditawarkan juga masih bisa ditawar.
Saya menjatuhkan pilihan untuk membeli beberapa helai kaus bergambar landmark Korea dengan harga awal yang dijual seharga 5 ribu won atau sekitar Rp59 ribu.
Suasana gang tempat terjadinya Tragedi Itaewon pada Oktober lalu. (CNN Indonesia/Ramadhan Rizki Saputra)
Saya juga berkesempatan mengunjungi kawasan Itaewon. Tujuan utamanya untuk mengunjungi gang tempat terjadinya tragedi malam Halloween 29 Oktober lalu yang menewaskan ratusan korban.
Saya pergi menggunakan kereta bawah tanah dari Stasiun Seoul City Hall. Ongkosnya sekitar 1.250 won atau sekitar Rp15 ribu.
Di musim dingin, kereta bawah tanah juga sekaligus jadi tempat bagi warga Korsel untuk menghangatkan diri. Termasuk saya yang baru pertama mengalami cuaca ekstrem seperti ini.
Lokasi tragedi itu salah satunya berada di Itaewon-Ro, sebuah gang yang hanya selebar tiga meter. Lokasinya tak jauh dari Stasiun Kereta Bawah Tanah Itaewon.
Gang ini kini lebih ramai dikunjungi para pelayat, baik dari dalam maupun luar negeri. Saya sempat memanjatkan doa di gang ini untuk arwah korban yang meninggal dunia.
Dinding-dinding di kawasan itu masih dibanjiri dengan tempelan ribuan kertas kecil warna warni hingga spanduk bertuliskan berbagai kalimat belasungkawa dalam banyak bahasa. Bahkan, kertas-kertas ucapan duka itu ditempelkan hingga dinding Stasiun Kereta Bawah Tanah.
Simak perjalanan berkeliling Seoul selengkapnya di halaman berikutnya..
Mengintip tempat syuting K-Drama di Itaewon
Ke Korsel tak lengkap rasanya jika tak mampir ke lokasi-lokasi syuting drama Korea (drakor) yang populer itu. Itaewon Class, salah satunya, yang juga mengambil kawasan Itaewon sebagai salah satu lokasi syutingnya.
Salah satu yang saya kunjungi adalah bangunan lokasi Kafe DanBam pertama Park Sae-royi di serial Itaewon Class. Dalam kehidupan nyata, bangunan ini adalah restoran bernama Undukjib.
Meski sedang tak beroperasi, tapi banyak pelancong yang melintas dan berfoto-foto di depan restoran ini. Restoran juga tampaknya turut memajang poster serial Itaewon Class di etalasenya.
Tak cuma lokasi syuting drakor, kawasan ini juga terkenal dengan berbagai restoran, pub, dan kafe kelas premium. Pelancong Muslim tak perlu khawatir, karena di sekitar lokasi ini juga banyak restoran yang memasang logo halal.
Suasana Pasar Malam Myeongdong, Seoul, yang selalu dipenuhi pengunjung. (Istockphoto/SeanPavonePhoto)
Tempat ini adalah pusat perbelanjaan di Seoul yang terkenal dengan jajanan kaki lima atau street food. Letaknya hanya 200 meter dari Balai Kota Seoul.
Sesampainya di Myeongdong, cuaca dingin makin menusuk. Ponsel pintar menunjukkan suhu udara yang mencapai -3 derajat Celcius.
Ramai sekali pasar ini! Kiranya begitu yang saya ucapkan pertama kali saat tiba. Turis domestik maupun mancanegara berbaur jadi satu. Berbagai macam jajanan kaki lima yang menggoda selera ada di sini.
Di tempat ini, saya menargetkan hanya menghabiskan 10 ribu won atau sekitar Rp112 ribu untuk jajan. Apakah cukup? Jelas cukup. Dengan nominal itu, saya mampu mendapatkan tiga jenis makanan kaki lima yang lezat.
Salah satu kios jajanan di Pasar Malam Myeongdong, Seoul. (CNN Indonesia/Ramadhan Rizki Saputra)
Pilihan pertama jatuh pada kue kustar yang berisikan krim kacang merah dan vanila seharga 3 ribu won. Dengan harga itu, saya mendapatkan lima kue kustar bersama krim di dalamnya yang terasa sangat manis.
Kemudian, saya membeli roti telur atau egg bun seharga 2 ribu won. Dengan harga ini, saya bisa mendapatkan tiga potong roti.
Setelah itu, pilihan saya jatuh pada oden atau eomuk (fishcakes) seharga 4 ribu won. Dengan harga ini, saya mendapatkan tiga tusuk oden.
Teksturnya kenyal, bentuknya mirip sate yang terbuat dari ikan. Ikan ini direbus dengan rasa kuah yang khas dari racikan daun bawang, lobak, kepiting, dan kaldu.
Tak hanya makanan kaki lima, kawasan Myeongdong juga dikenal sebagai surga belanja. Toko-toko berderet menjajakan kosmetik hingga barang fesyen.
Suasana malam di Gwanghwamun Square, Seoul. (CNN Indonesia/Ramadhan Rizki Saputra)
Suhu rendah pada malam hari tak menciutkan nyali saya untuk menikmati malam di luar ruangan. Saya lantas memilih mengunjungi Gwanghwamun Square.
Gwanghwamun Square merupakan alun-alun atau ruang terbuka bagi warga Seoul. Siapa pun bisa menikmati kawasan ini secara gratis.
Bahkan, kawasan ini juga sering dijadikan tempat syuting drakor. Beberapa film yang pernah syuting di sini adalah Queen In Hyun's Man yang dibintangi Ji Hyun-woo dan Yoo In-na, serta film Iris yang dibintangi Lee Byung Hun dan Kim Tae Hee.
Gwanghwamun memiliki makna yang berarti 'Gerbang Gwanghwa' atau gerbang masuk ke Istana Gyeongbok yang posisinya tepat ada di belakang kawasan ini.
Di lokasi ini terdapat dua patung ikonik tokoh Korea, yakni Patung Laksamana Yi Sun-sin dan di belakangnya ada patung Raja Sejong. Tentu saya tak lupa untuk menyempatkan diri berswafoto dengan latar patung tersebut.
Jakarta, CNN Indonesia --
Matahari belum terlihat terik ketika saya mendarat di Bandara Internasional Incheon, Korea Selatan pada awal Desember lalu. Negeri Ginseng memang tengah memasuki musim dingin.
Badan rasanya seperti tertusuk-tusuk, menggigil, gigi gemeletak kencang, dan telapak tangan membeku. Petunjuk suhu udara di ponsel pintar tercatat di kisaran -1 derajat Celcius.
Ini kali pertama saya menjejakkan kaki di Negeri Ginseng. Saya berkunjung untuk menghadiri undangan Press Tour for 2022 Korea-ASEAN Cooperation in Health Sector dari Kementerian Luar Negeri Korea Selatan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Udara 'super dingin' Korsel menjadi momen pertama saya berada di cuaca ekstrem. Terakhir, paling-paling cuaca dingin di puncak Gunung Merbabu pada 2015 lalu yang 'hanya' mencapai 11 derajat Celcius.
Setibanya di bandara, saya dijemput menggunakan taksi untuk menuju pusat Kota Seoul. Selain taksi, sebenarnya pelancong bisa menggunakan alternatif transportasi lain seperti bus dan kereta bandara.
Incheon berjarak cukup jauh dari pusat kota Seoul. Setidaknya dibutuhkan waktu sekitar 50 menit untuk tiba ke lokasi penginapan yang dituju, yang berdekatan dengan Seoul City Hall.
Di sela-sela kegiatan, saya berkesempatan untuk menjelajahi sudut-sudut Seoul sebelum kembali lagi ke Jakarta.
Mengunjungi 'gudang' informasi wisata Seoul
Suasana di dalam Seoul Tourism Plaza. (CNN Indonesia/Ramadhan Rizki Saputra)
Pihak Kementerian Luar Negeri Korsel mengajak 17 delegasi dari 9 negara Asia Tenggara untuk berkeliling mengunjungi Seoul Tourism Plaza. Cuaca yang dingin hingga mencapai -5 derajat Celcius membuat pihak penyelenggara menyarankan kami agar menggunakan baju berlapis.
Seoul Tourism Plaza terletak di Gesung Samil 85, Cheonggyecheon-ro, Jongno-gu, Seoul. Tempat ini dikelola langsung oleh Pemerintah Kota Seoul dengan menggandeng BTS sebagai brand ambassador-nya.
Kantor ini merupakan 'gudang' semua informasi wisata Seoul. Tak cuma informasi pariwisata, deretan toko suvenir juga hadir di tempat ini.
Pelancong bisa mendapatkan berbagai brosur, peta atau bertanya langsung kepada costumer service yang tersedia dalam bahasa Korea, Inggris, Mandarin, dan Jepang.
Bangunan ini juga menyediakan fasilitas ruangan bagi perusahaan start-up yang bergerak di bidang pariwisata untuk berkantor. Ada juga Online Media Center berupa studio yang disewakan untuk publik yang ingin memproduksi berbagai konten video atau podcast.
Tak lengkap rasanya bila ke Korea Selatan tanpa berbelanja. Saya menjatuhkan pilihan pada pasar tradisional Namdaemun yang dikenal lebih murah ketimbang lokasi lain di Seoul.
Lokasinya sangat dekat dengan Seoul City Hall. Berjalan kaki hanya menghabiskan waktu sekitar 15 menit.
Pasar ini mirip seperti pasar tradisional yang ada di Indonesia. Sejumlah pedagang kios dan lapak menjajakan jualannya mulai dari pakaian, tas, alat masak hingga barang-barang tradisional khas Korea. Harga-harga yang ditawarkan juga masih bisa ditawar.
Saya menjatuhkan pilihan untuk membeli beberapa helai kaus bergambar landmark Korea dengan harga awal yang dijual seharga 5 ribu won atau sekitar Rp59 ribu.
Suasana gang tempat terjadinya Tragedi Itaewon pada Oktober lalu. (CNN Indonesia/Ramadhan Rizki Saputra)
Saya juga berkesempatan mengunjungi kawasan Itaewon. Tujuan utamanya untuk mengunjungi gang tempat terjadinya tragedi malam Halloween 29 Oktober lalu yang menewaskan ratusan korban.
Saya pergi menggunakan kereta bawah tanah dari Stasiun Seoul City Hall. Ongkosnya sekitar 1.250 won atau sekitar Rp15 ribu.
Di musim dingin, kereta bawah tanah juga sekaligus jadi tempat bagi warga Korsel untuk menghangatkan diri. Termasuk saya yang baru pertama mengalami cuaca ekstrem seperti ini.
Lokasi tragedi itu salah satunya berada di Itaewon-Ro, sebuah gang yang hanya selebar tiga meter. Lokasinya tak jauh dari Stasiun Kereta Bawah Tanah Itaewon.
Gang ini kini lebih ramai dikunjungi para pelayat, baik dari dalam maupun luar negeri. Saya sempat memanjatkan doa di gang ini untuk arwah korban yang meninggal dunia.
Dinding-dinding di kawasan itu masih dibanjiri dengan tempelan ribuan kertas kecil warna warni hingga spanduk bertuliskan berbagai kalimat belasungkawa dalam banyak bahasa. Bahkan, kertas-kertas ucapan duka itu ditempelkan hingga dinding Stasiun Kereta Bawah Tanah.
Simak perjalanan berkeliling Seoul selengkapnya di halaman berikutnya..
Mengintip lokasi syuting Drakor hingga berakhir di 'alun-alun' Seoul
Kawasan Itaewon jadi salah satu tujuan favorit para pecinta drama Korea. (CNN Indonesia/Hamka Winovan)
Mengintip tempat syuting K-Drama di Itaewon
Ke Korsel tak lengkap rasanya jika tak mampir ke lokasi-lokasi syuting drama Korea (drakor) yang populer itu. Itaewon Class, salah satunya, yang juga mengambil kawasan Itaewon sebagai salah satu lokasi syutingnya.
Salah satu yang saya kunjungi adalah bangunan lokasi Kafe DanBam pertama Park Sae-royi di serial Itaewon Class. Dalam kehidupan nyata, bangunan ini adalah restoran bernama Undukjib.
Meski sedang tak beroperasi, tapi banyak pelancong yang melintas dan berfoto-foto di depan restoran ini. Restoran juga tampaknya turut memajang poster serial Itaewon Class di etalasenya.
Tak cuma lokasi syuting drakor, kawasan ini juga terkenal dengan berbagai restoran, pub, dan kafe kelas premium. Pelancong Muslim tak perlu khawatir, karena di sekitar lokasi ini juga banyak restoran yang memasang logo halal.
Suasana Pasar Malam Myeongdong, Seoul, yang selalu dipenuhi pengunjung. (Istockphoto/SeanPavonePhoto)
Tempat ini adalah pusat perbelanjaan di Seoul yang terkenal dengan jajanan kaki lima atau street food. Letaknya hanya 200 meter dari Balai Kota Seoul.
Sesampainya di Myeongdong, cuaca dingin makin menusuk. Ponsel pintar menunjukkan suhu udara yang mencapai -3 derajat Celcius.
Ramai sekali pasar ini! Kiranya begitu yang saya ucapkan pertama kali saat tiba. Turis domestik maupun mancanegara berbaur jadi satu. Berbagai macam jajanan kaki lima yang menggoda selera ada di sini.
Di tempat ini, saya menargetkan hanya menghabiskan 10 ribu won atau sekitar Rp112 ribu untuk jajan. Apakah cukup? Jelas cukup. Dengan nominal itu, saya mampu mendapatkan tiga jenis makanan kaki lima yang lezat.
Salah satu kios jajanan di Pasar Malam Myeongdong, Seoul. (CNN Indonesia/Ramadhan Rizki Saputra)
Pilihan pertama jatuh pada kue kustar yang berisikan krim kacang merah dan vanila seharga 3 ribu won. Dengan harga itu, saya mendapatkan lima kue kustar bersama krim di dalamnya yang terasa sangat manis.
Kemudian, saya membeli roti telur atau egg bun seharga 2 ribu won. Dengan harga ini, saya bisa mendapatkan tiga potong roti.
Setelah itu, pilihan saya jatuh pada oden atau eomuk (fishcakes) seharga 4 ribu won. Dengan harga ini, saya mendapatkan tiga tusuk oden.
Teksturnya kenyal, bentuknya mirip sate yang terbuat dari ikan. Ikan ini direbus dengan rasa kuah yang khas dari racikan daun bawang, lobak, kepiting, dan kaldu.
Tak hanya makanan kaki lima, kawasan Myeongdong juga dikenal sebagai surga belanja. Toko-toko berderet menjajakan kosmetik hingga barang fesyen.
Suasana malam di Gwanghwamun Square, Seoul. (CNN Indonesia/Ramadhan Rizki Saputra)
Suhu rendah pada malam hari tak menciutkan nyali saya untuk menikmati malam di luar ruangan. Saya lantas memilih mengunjungi Gwanghwamun Square.
Gwanghwamun Square merupakan alun-alun atau ruang terbuka bagi warga Seoul. Siapa pun bisa menikmati kawasan ini secara gratis.
Bahkan, kawasan ini juga sering dijadikan tempat syuting drakor. Beberapa film yang pernah syuting di sini adalah Queen In Hyun's Man yang dibintangi Ji Hyun-woo dan Yoo In-na, serta film Iris yang dibintangi Lee Byung Hun dan Kim Tae Hee.
Gwanghwamun memiliki makna yang berarti 'Gerbang Gwanghwa' atau gerbang masuk ke Istana Gyeongbok yang posisinya tepat ada di belakang kawasan ini.
Di lokasi ini terdapat dua patung ikonik tokoh Korea, yakni Patung Laksamana Yi Sun-sin dan di belakangnya ada patung Raja Sejong. Tentu saya tak lupa untuk menyempatkan diri berswafoto dengan latar patung tersebut.
Mengintip lokasi syuting Drakor hingga berakhir di 'alun-alun' Seoul BACA HALAMAN BERIKUTNYA