Jakarta, CNN Indonesia -- Masuk angin? Ya, kerokan saja.
Sakit, tapi enak. Kiranya sensasi itulah yang dirasakan orang saat kerokan. Semakin merah rona yang muncul di punggung, maka semakin nikmat rasanya.
Perlahan, tubuh pun rasanya jadi lebih enteng. Sendawa berkali-kali, konon, jadi tanda angin yang keluar. Kerokan dipercaya membawa hasil.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Budaya kerokan telah eksis di Nusantara sejak lama. Tak tercatat dengan jelas waktu kemunculannya. Namun, dipercaya bahwa kerokan menjadi salah satu metode pengobatan yang digunakan oleh para raja dan petinggi kerajaan, khususnya di tengah budaya Jawa.
Dalam sebuah ulasan berjudul Masuk Angin dalam Konteks Kosmologi Jawa yang diterbitkan dalam jurnal Humaniora, antropolog Universitas Gadjah Mada Atik Triratnawati mengatakan bahwa dalam mengatasi masuk angin, orang Jawa menggunakan cara kerokan sebagai penyembuhan holistik.
Dalam kosmologi Jawa, masuk angin sendiri dianggap sebagai akibat dari menurunnya keseimbangan manusia. Dalam budaya Jawa, keseimbangan diartikan sebagai seimbangnya antara dunia atas dan bawah, lingkungan fisik dan nonfisik.
"Artinya, kondisi fisik manusia harus seimbang dengan emosi. Apabila emosi seseorang terlalu dominan, maka kondisi fisiknya akan mengalami kemunduran," tulis Atik.
Ketidakseimbangan itu kemudian dipercaya berdampak pada peredaran darah yang terganggu. Akibatnya, muncul berbagai gejala seperti panas dingin, perut kembung, pegal linu, yang kemudian diartikan sebagai 'masuk angin'.
Untuk mengatasi masuk angin yang dianggap sebagai ketidakseimbangan ini, orang Jawa biasanya memilih cara penyembuhan dengan mempertimbangkan tradisi atau kebiasaan yang dibawa secara turun temurun.
"Dalam hal masuk angin, cara kerokan merupakan penyembuhan yang paling populer dan dipilih dalam masyarakat Jawa karena dianggap sudah menjadi tradisi," tulis Atik.
Kerokan dilakukan dengan menggurat atau menggores bagian tubuh tertentu dengan menggunakan benda tumpul seperti koin, setelah tubuh diolesi minyak atau balsam.
Guratan itu kemudian perlahan akan menimbulkan rona merah. Semakin lama digurat, semakin merah rona yang keluar. Rona merah itu dipercaya sebagai penanda sirkulasi darah yang jadi lebih lancar.
Simak asal-usul kerokan di halaman berikutnya..
Tak cuma ada di Indonesia
Ilustrasi. Kerokan jadi salah satu metode pengobatan tradisional untuk mengatasi masuk angin. (iStockphoto/AAlves)
Namun, pengobatan ini tak hanya dikenal di tengah masyarakat Jawa, tapi juga sebagian besar Indonesia, bahkan hingga beberapa negara lain. Misalnya saja Vietnam (gao cio), Kambojan (goh kyol), China (gua sha), atau Amerika Serikat (coin rubbing).
Tak jelas asal usul kerokan berasal. Namun, sejumlah literatur menyebutkan bahwa gua sha di China dianggap sebagai tradisi kerokan tertua di dunia.
Secara harfiah, 'gua' berarti menggosok, sedangkan 'sha' berarti racun. Gua sha diterjemahkan sebagai salah satu cara membuang berbagai racun dari dalam tubuh.
Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Sebelas Maret Didik Gunawan Tamtomo mencatat bahwa di China, kerokan tak dilakukan dengan menggunakan uang logam, melainkan batu jade. Gua sha juga terkadang disebut dengan istilah 'jade stone therapy'.
Pengobatan ini diindikasikan untuk mengatasi osteoporosis, nyeri bahu, nyeri punggung, nyeri sendi, fibromialgia, migrain, cedera olahraga, dan masih banyak lagi.
"Di China terdapat ribuan terapis jade stone karena merupakan pengobatan rakyat dan dapat menurunkan health care cost," tulis Didik dalam ulasannya berjudul Gambaran Histopatologi Kulit pada Pengobatan Tradisional Kerokan.
Menukil laman Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata China, gua sha sendiri telah lama menjadi metode pengobatan yang digunakan oleh masyarakat China kuno. Pada Dinasti Ming (1368-1644), gua sha secara sistematis tertulis sebagai salah satu metode penyembuhan yang resmi.
Penggunaan batu untuk mengikis kulit dan mengobati penyakit ini terus berkembang seiring kemajuan zaman, sejalan dengan praktik pengobatan tradisional China.
Tapi, jika mau ditarik lebih mundur lagi, metode kerokan sebenarnya mirip dengan cara yang digunakan pada Zaman Paleolitikum. Kala itu, tangan dan batu digunakan untuk menggosok bagian tubuh seseorang yang jatuh sakit atau pingsan.
Terlepas dari mana asal usulnya, yang jelas hingga saat ini kerokan masih terus dipraktikkan oleh masyarakat.