'Saya Itu Mengidap Gangguan Bipolar, Bukan Kerasukan Jin'
CNN Indonesia
Kamis, 30 Mar 2023 19:15 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Ilustrasi. Alih-alih malu, Afina Syifa Biladina justru bangga terhadap gangguan bipolar yang dimilikinya. (iStock/Alpgiray Kelem)
Jakarta, CNN Indonesia --
Perjalanan saya bersama gangguan bipolar memang tak mudah. Namun saya, Afina Syifa Biladina, berani bilang bahwa saya bangga akan diri saya, apa pun kondisinya.
Tenang, saat ini kondisi saya stabil. Kemarin sempat relapse alias kambuh akibat kehabisan obat. Gangguan bipolar memang membuat saya akrab dengan obat, psikolog, dan psikiater.
Kini saya tengah mengambil studi pascasarjana. Untungnya, teman-teman menerima kondisi saya dan memberikan dukungan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saya didiagnosis mengalami gangguan bipolar semasa kuliah, tepatnya pada tahun 2018 lalu. Sebelumnya, saya juga didiagnosis memiliki attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) pada usia 7 tahun.
Sedari SMA, saya merasa semua orang membenci saya. Beruntung ada sahabat yang berusaha meyakinkan bahwa anggapan saya salah.
Akan tetapi, rasa tidak nyaman itu terus bertahan. Puncaknya, akhir 2017 saya mencoba menyakiti diri sendiri setelah ada cekcok dengan salah satu anggota keluarga.
Saya juga sempat mengurung diri di kamar kos selama tiga hari pada awal 2018. Lagi-lagi, karena saya merasa tak ada yang menyayangi saya.
Rasanya bingung, sedih. Tapi tak tahu kenapa. Saya cuma menangis.
Sempat terpikir untuk mengakhiri hidup. Saya mencoba mencari cara mengakhiri hidup melalui mesin pencari di internet.
'How to kill myself without hurt myself'
Astagfirullah! Tidak sampai membaca hasil penelusuran, saya 'menginjak rem'. Allah seperti mengingatkan saya bahwa ini tidak benar.
Terima kasih, Abah!
Ilustrasi. Gangguan bipolar membuat penderitanya mengalami dua fase, manik dan depresif. (iStock/Koldunov)
Sadar harus ke tenaga profesional, saya buru-buru mencari psikolog di kawasan Bandung. Voila! Saya menemukan Klinik Tanaya. Kemudian tanpa babibu, saya langsung reservasi untuk konsultasi.
Saya cerita dari A sampai Z. Jika diperas dalam sebuah kalimat, saya ibarat tersedot dalam ruangan kecil dan bingung mau ke mana.
"Ke psikiater mau enggak?" psikolog saya bertanya.
Kondisi saya mau tidak mau perlu ditangani psikiater. Hanya saja, konsultasi dengan psikiater harus mendapat izin dari orang tua. Psikolog pun membantu dengan menjelaskan kondisi saya pada orang tua, terutama Abah.
Abah, begitu saya menyapa ayah, adalah seorang dokter yang sadar akan kesehatan mental. Berkat izin Abah, saya konsultasi dengan psikiater dan melalui rangkaian tes hingga muncul diagnosis gangguan bipolar.
Abah adalah orang pertama yang menerima kondisi saya.
"Dik, Abah tahu apa yang Adik rasain. Diminum obatnya, dijalani terapinya. Apa pun yang Adik alami, Abah tetap sayang sama Adik," kira-kira begitu yang dikatakan Abah.
Rasanya 'nyes' banget. Seperti ada setitik kesejukan di tengah 'kemarau'.
Apakah keluarga inti langsung menerima? Jawabannya, tidak.
Ibu, misalnya, yang menganggap saya kerasukan jin. Akhirnya, saya diminta untuk mengambil jalan rukiah.
Saya itu mengidap gangguan bipolar, bukan kerasukan jin. Masak saya diperlakukan seperti ini? Saya biarkan air mata ini mengalir.
Orang-orang masih melihat bahwa pengidap gangguan bipolar sama halnya dengan 'orang gila', kurang iman, kurang bersyukur, dan kurang-kurang lainnya.
Salah seorang anggota keluarga besar bahwa pernah berkata, "Cantik-cantik, tapi sakit".
Simak cerita orang dengan gangguan bipolar selengkapnya di halaman berikutnya..
Lima tahun tak selalu cukup untuk penerimaan diri. Sampai sekarang, saya masih belajar menerima diri sendiri. Ada kalanya saya benar-benar tak ingin hidup, ada kalanya saya begitu menikmati hidup.
Gangguan bipolar memiliki dua fase yakni fase depresi dan fase manik. Fase itu selalu datang tiba-tiba.
Namun, tiap fase adalah pembelajaran. Depresi datang, saya belajar. Saya mencoba mengenal pemicunya (trigger), saya belajar menghadapinya dan akhirnya saya belajar mengenal diri saya.
Support system itu penting. Cuma yang tak kalah penting adalah diri sendiri, bagaimana saya bisa membangkitkan diri meski dalam kondisi terpuruk.
Saya mempersilakan diri saya untuk menangis saat sedih. Setelahnya, saya melakukan apa yang saya suka sebagai coping mechanism. Saya suka memasak dan memulas wajah dengan makeup. Saat gejolak emosi itu reda, saya menulis untuk menumpahkan segalanya.
Berbeda dengan fase depresi, di fase manik, saya seperti orang yang tidak pernah kehabisan energi. Yah, ada manfaatnya juga sih sebab tugas-tugas kuliah lancar dan produktif sepanjang hari.
Akan tetapi jeleknya, saya itu susah tidur, super cerewet dan impulsif apalagi soal belanja. Makeup sudah menumpuk, tapi ada saja yang dibeli.
Tak main-main, parfum seharga Rp2 juta pun pernah dibeli di tengah diri saya yang masih menyandang status mahasiswa dan berpaku pada uang jajan pemberian orang tua.
Demi kondisi tetap stabil, saya harus rutin minum obat setiap malam. Saya juga rutin konsultasi dengan psikolog seminggu sekali dan psikiater sebulan sekali.
Dengan kondisi emosi yang stabil, orang dengan gangguan bipolar tetap bisa sekolah, bekerja, dan bikin konten di media sosial, seperti yang saya lakukan.
Lewat berbagi di media sosial, saya merasa bisa memberikan dukungan atau minimal menemani orang-orang dengan kondisi serupa. Tak cuma soal gangguan bipolar, saya juga suka bikin konten soal makeup.
Kadang lucu juga saat menemukan komentar netizen yang bilang 'Bipolar kok bisa dandan?'.
Dulu, mungkin saya bisa menangis saat membaca komentar negatif. Tapi sekarang rasanya saya sudah kebal. Saya sadar tak semua orang harus paham. Ya sudah, silakan berkomentar.
Jakarta, CNN Indonesia --
Perjalanan saya bersama gangguan bipolar memang tak mudah. Namun saya, Afina Syifa Biladina, berani bilang bahwa saya bangga akan diri saya, apa pun kondisinya.
Tenang, saat ini kondisi saya stabil. Kemarin sempat relapse alias kambuh akibat kehabisan obat. Gangguan bipolar memang membuat saya akrab dengan obat, psikolog, dan psikiater.
Kini saya tengah mengambil studi pascasarjana. Untungnya, teman-teman menerima kondisi saya dan memberikan dukungan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saya didiagnosis mengalami gangguan bipolar semasa kuliah, tepatnya pada tahun 2018 lalu. Sebelumnya, saya juga didiagnosis memiliki attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) pada usia 7 tahun.
Sedari SMA, saya merasa semua orang membenci saya. Beruntung ada sahabat yang berusaha meyakinkan bahwa anggapan saya salah.
Akan tetapi, rasa tidak nyaman itu terus bertahan. Puncaknya, akhir 2017 saya mencoba menyakiti diri sendiri setelah ada cekcok dengan salah satu anggota keluarga.
Saya juga sempat mengurung diri di kamar kos selama tiga hari pada awal 2018. Lagi-lagi, karena saya merasa tak ada yang menyayangi saya.
Rasanya bingung, sedih. Tapi tak tahu kenapa. Saya cuma menangis.
Sempat terpikir untuk mengakhiri hidup. Saya mencoba mencari cara mengakhiri hidup melalui mesin pencari di internet.
'How to kill myself without hurt myself'
Astagfirullah! Tidak sampai membaca hasil penelusuran, saya 'menginjak rem'. Allah seperti mengingatkan saya bahwa ini tidak benar.
Terima kasih, Abah!
Ilustrasi. Gangguan bipolar membuat penderitanya mengalami dua fase, manik dan depresif. (iStock/Koldunov)
Sadar harus ke tenaga profesional, saya buru-buru mencari psikolog di kawasan Bandung. Voila! Saya menemukan Klinik Tanaya. Kemudian tanpa babibu, saya langsung reservasi untuk konsultasi.
Saya cerita dari A sampai Z. Jika diperas dalam sebuah kalimat, saya ibarat tersedot dalam ruangan kecil dan bingung mau ke mana.
"Ke psikiater mau enggak?" psikolog saya bertanya.
Kondisi saya mau tidak mau perlu ditangani psikiater. Hanya saja, konsultasi dengan psikiater harus mendapat izin dari orang tua. Psikolog pun membantu dengan menjelaskan kondisi saya pada orang tua, terutama Abah.
Abah, begitu saya menyapa ayah, adalah seorang dokter yang sadar akan kesehatan mental. Berkat izin Abah, saya konsultasi dengan psikiater dan melalui rangkaian tes hingga muncul diagnosis gangguan bipolar.
Abah adalah orang pertama yang menerima kondisi saya.
"Dik, Abah tahu apa yang Adik rasain. Diminum obatnya, dijalani terapinya. Apa pun yang Adik alami, Abah tetap sayang sama Adik," kira-kira begitu yang dikatakan Abah.
Rasanya 'nyes' banget. Seperti ada setitik kesejukan di tengah 'kemarau'.
Apakah keluarga inti langsung menerima? Jawabannya, tidak.
Ibu, misalnya, yang menganggap saya kerasukan jin. Akhirnya, saya diminta untuk mengambil jalan rukiah.
Saya itu mengidap gangguan bipolar, bukan kerasukan jin. Masak saya diperlakukan seperti ini? Saya biarkan air mata ini mengalir.
Orang-orang masih melihat bahwa pengidap gangguan bipolar sama halnya dengan 'orang gila', kurang iman, kurang bersyukur, dan kurang-kurang lainnya.
Salah seorang anggota keluarga besar bahwa pernah berkata, "Cantik-cantik, tapi sakit".
Simak cerita orang dengan gangguan bipolar selengkapnya di halaman berikutnya..
Penerimaan diri adalah proses
Ilustrasi. Dalam kondisi manik, orang dengan gangguan bipolar bisa merasakan semangat yang menggebu-gebu. (iStockphoto/recep-bg)
Lima tahun tak selalu cukup untuk penerimaan diri. Sampai sekarang, saya masih belajar menerima diri sendiri. Ada kalanya saya benar-benar tak ingin hidup, ada kalanya saya begitu menikmati hidup.
Gangguan bipolar memiliki dua fase yakni fase depresi dan fase manik. Fase itu selalu datang tiba-tiba.
Namun, tiap fase adalah pembelajaran. Depresi datang, saya belajar. Saya mencoba mengenal pemicunya (trigger), saya belajar menghadapinya dan akhirnya saya belajar mengenal diri saya.
Support system itu penting. Cuma yang tak kalah penting adalah diri sendiri, bagaimana saya bisa membangkitkan diri meski dalam kondisi terpuruk.
Saya mempersilakan diri saya untuk menangis saat sedih. Setelahnya, saya melakukan apa yang saya suka sebagai coping mechanism. Saya suka memasak dan memulas wajah dengan makeup. Saat gejolak emosi itu reda, saya menulis untuk menumpahkan segalanya.
Berbeda dengan fase depresi, di fase manik, saya seperti orang yang tidak pernah kehabisan energi. Yah, ada manfaatnya juga sih sebab tugas-tugas kuliah lancar dan produktif sepanjang hari.
Akan tetapi jeleknya, saya itu susah tidur, super cerewet dan impulsif apalagi soal belanja. Makeup sudah menumpuk, tapi ada saja yang dibeli.
Tak main-main, parfum seharga Rp2 juta pun pernah dibeli di tengah diri saya yang masih menyandang status mahasiswa dan berpaku pada uang jajan pemberian orang tua.
Demi kondisi tetap stabil, saya harus rutin minum obat setiap malam. Saya juga rutin konsultasi dengan psikolog seminggu sekali dan psikiater sebulan sekali.
Dengan kondisi emosi yang stabil, orang dengan gangguan bipolar tetap bisa sekolah, bekerja, dan bikin konten di media sosial, seperti yang saya lakukan.
Lewat berbagi di media sosial, saya merasa bisa memberikan dukungan atau minimal menemani orang-orang dengan kondisi serupa. Tak cuma soal gangguan bipolar, saya juga suka bikin konten soal makeup.
Kadang lucu juga saat menemukan komentar netizen yang bilang 'Bipolar kok bisa dandan?'.
Dulu, mungkin saya bisa menangis saat membaca komentar negatif. Tapi sekarang rasanya saya sudah kebal. Saya sadar tak semua orang harus paham. Ya sudah, silakan berkomentar.