Kisah Abu Jahal, Musuh Nabi yang Tewas dalam Perang Badar
CNN Indonesia
Jumat, 31 Mar 2023 16:45 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Ilustrasi. Abu Jahal dikenal sebagai salah satu musuh Nabi Muhammad SAW dan Islam yang paling jahat. (CNN Indonesia/Astari Kusumawardhani)
Jakarta, CNN Indonesia --
Abu Jahal dikenal sebagai salah satu musuh Nabi Muhammad SAW dan Islamyang paling jahat. Rasulullah bahkan menggambarkannya sebagai Fir'aun-nya umat Muslim.
Nama asli Abu Jahal adalah Amr bin Hisyam. Namun, ia lebih dikenal dengan sebutan Abu Hakam atau 'bapak kebijaksanaan' di kalangan suku Quraisy.
Permusuhan dan peperangannya yang tiada henti terhadap Islam membuatnya dijuluki Abu Jahal atau 'bapak kebodohan'. Dia adalah anggota klan Bani Makhzum dari suku Quraisy.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Melansir laman Islamic Landmarks, Abu Jahal adalah seorang musyrik yang gigih dan sangat tidak menyukai Nabi Muhammad. Ia mengambil setiap kesempatan untuk menegur dan mempermalukan Rasulullah di depan umum.
Abu Jahal adalah salah satu orang yang paling menganiaya umat Muslim.
Ketika seorang mualaf ditemukan di antara hirarki sebuah suku, Abu Jahal akan menegur mualaf tersebut dan kemudian mengejeknya di depan sesama anggota sukunya.
Ketika ia menemukan seorang pedagang yang masuk Islam, ia memerintahkan agar tidak ada seorang pun yang berbisnis dengannya. Akibatnya, pedagang mualaf tersebut tidak dapat menjual barang dagangannya dan menjadi miskin.
Budak-budak yang menjadi mualaf dari kaum Quraisy menerima hukuman yang paling berat. Misalnya saja Harithah binti al-Muammil yang dipukuli hingga kehilangan penglihatannya hanya karena bertobat.
Dia juga menikam Sumayyah binti Khayyat dengan tombak di bagian kemaluannya hingga terluka. Wanita ini adalah orang pertama yang menemui kesyahidan di jalan Islam.
Aksi Abu Jahal di Perang Badar
Ilustrasi. Abu Jahal adalah pemimpin kaum Quraisy di Perang Badar. (xisdom/Pixabay)
Mengutip berbagai sumber, Abu Jahal selalu mengambil peran utama dalam kegiatan melawan Islam sepanjang hidupnya. Dia mengamati dan memboikot kaum Muslim hingga menentang pencabutan boikot tersebut.
Tak berhenti di situ, Abu Jahal tak segan mengajukan tawaran untuk membunuh Nabi Muhammad melalui sekelompok penyerang. Ia memilih satu anggota dari setiap suku dalam sebuah negosiasi yang dilakukan di Dar an-Nadwa beberapa saat sebelum hijrahnya Nabi Muhammad ke Madinah.
Itulah Abu Jahal yang selalu menunjukkan permusuhannya terhadap Islam pada setiap kesempatan.
Simak kisah musuh nabi Abu Jahal selengkapnya di halaman berikutnya..
Bahkan, kekejiannya terus dilakukan meski kaum Muslim sudah meninggalkan rumah, kekayaan, dan tempat tinggal demi agama mereka sendiri untuk bermigrasi ke Madinah. Hal ini yang kemudian memicu terjadinya Perang Badar.
Ia kemudian meninggalkan Mekkah dengan pasukan besar untuk mencegah kafilah milik Quraisy yang dipimpin oleh Abu Sufyan. Ketika mengetahui bahwa kafilah itu aman dan menuju Mekah, Abu Jahal terus memerangi kaum Muslim hanya karena kebenciannya terhadap Islam.
Saat Abu Jahal tiba di Badar, dia menolak tawaran Nabi Muhammad untuk berdamai. Dia juga menentang pandangan beberapa sosok di pasukannya yang ingin mencegah pertempuran dan menuduh mereka pengecut, sehingga perang tetap dimulai.
Kematian Abu Jahal
Abu Jahal dibunuh dalam Perang Badar oleh dua anak al-Ansar. Kedua anak tersebut berasal dari keluarga petani. Profesi ini dipandang rendah oleh suku Quraisy.
Kedua anak laki-laki itu menyerang Abu Jahal hingga ia terjatuh ke tanah dan kakinya terpotong. Dia tidak dapat bergerak tetapi masih cukup sadar untuk melihat dan merasakan aibnya.
Kepala Abu Jahal kemudian dipenggal oleh Abdullah bin Mas'ud, salah satu sahabat Nabi Muhammad yang terkenal. Kepalanya dibawa kepada Nabi Muhammad dan mayatnya dilemparkan ke dalam sumur tempat mayat-mayat kaum musyrik dilemparkan, yakni di dalam sumur Badar.
Bahkan, setelah berada di ambang kematian, Abu Jahal masih dapat menatap Abdullah bin Masʾud dan berkata, "Beritahukanlah kepada Nabi kalian bahwa saya telah membencinya sepanjang hidup saya, dan bahkan sampai saat ini, api kebencian masih membara di hati saya."
Ketika Abdullah bin Masʾud menyampaikan perkataan itu ke Nabi Muhammad, Nabi Muhammad pun menjawab:
"Aku adalah yang paling terhormat dan mulia di antara para Nabi, umatku adalah yang terbesar di antara umat-umat yang ada, dan Fir'aun di antara umatku adalah yang paling keras kepala dan paling kejam di antara Fir'aun yang lain."
Jakarta, CNN Indonesia --
Abu Jahal dikenal sebagai salah satu musuh Nabi Muhammad SAW dan Islamyang paling jahat. Rasulullah bahkan menggambarkannya sebagai Fir'aun-nya umat Muslim.
Nama asli Abu Jahal adalah Amr bin Hisyam. Namun, ia lebih dikenal dengan sebutan Abu Hakam atau 'bapak kebijaksanaan' di kalangan suku Quraisy.
Permusuhan dan peperangannya yang tiada henti terhadap Islam membuatnya dijuluki Abu Jahal atau 'bapak kebodohan'. Dia adalah anggota klan Bani Makhzum dari suku Quraisy.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Melansir laman Islamic Landmarks, Abu Jahal adalah seorang musyrik yang gigih dan sangat tidak menyukai Nabi Muhammad. Ia mengambil setiap kesempatan untuk menegur dan mempermalukan Rasulullah di depan umum.
Abu Jahal adalah salah satu orang yang paling menganiaya umat Muslim.
Ketika seorang mualaf ditemukan di antara hirarki sebuah suku, Abu Jahal akan menegur mualaf tersebut dan kemudian mengejeknya di depan sesama anggota sukunya.
Ketika ia menemukan seorang pedagang yang masuk Islam, ia memerintahkan agar tidak ada seorang pun yang berbisnis dengannya. Akibatnya, pedagang mualaf tersebut tidak dapat menjual barang dagangannya dan menjadi miskin.
Budak-budak yang menjadi mualaf dari kaum Quraisy menerima hukuman yang paling berat. Misalnya saja Harithah binti al-Muammil yang dipukuli hingga kehilangan penglihatannya hanya karena bertobat.
Dia juga menikam Sumayyah binti Khayyat dengan tombak di bagian kemaluannya hingga terluka. Wanita ini adalah orang pertama yang menemui kesyahidan di jalan Islam.
Aksi Abu Jahal di Perang Badar
Ilustrasi. Abu Jahal adalah pemimpin kaum Quraisy di Perang Badar. (xisdom/Pixabay)
Mengutip berbagai sumber, Abu Jahal selalu mengambil peran utama dalam kegiatan melawan Islam sepanjang hidupnya. Dia mengamati dan memboikot kaum Muslim hingga menentang pencabutan boikot tersebut.
Tak berhenti di situ, Abu Jahal tak segan mengajukan tawaran untuk membunuh Nabi Muhammad melalui sekelompok penyerang. Ia memilih satu anggota dari setiap suku dalam sebuah negosiasi yang dilakukan di Dar an-Nadwa beberapa saat sebelum hijrahnya Nabi Muhammad ke Madinah.
Itulah Abu Jahal yang selalu menunjukkan permusuhannya terhadap Islam pada setiap kesempatan.
Simak kisah musuh nabi Abu Jahal selengkapnya di halaman berikutnya..
Kematian Abu Jahal
Ilustrasi. Abu Jahal tewas dalam Perang Badar. (iStock/acavalli)
Bahkan, kekejiannya terus dilakukan meski kaum Muslim sudah meninggalkan rumah, kekayaan, dan tempat tinggal demi agama mereka sendiri untuk bermigrasi ke Madinah. Hal ini yang kemudian memicu terjadinya Perang Badar.
Ia kemudian meninggalkan Mekkah dengan pasukan besar untuk mencegah kafilah milik Quraisy yang dipimpin oleh Abu Sufyan. Ketika mengetahui bahwa kafilah itu aman dan menuju Mekah, Abu Jahal terus memerangi kaum Muslim hanya karena kebenciannya terhadap Islam.
Saat Abu Jahal tiba di Badar, dia menolak tawaran Nabi Muhammad untuk berdamai. Dia juga menentang pandangan beberapa sosok di pasukannya yang ingin mencegah pertempuran dan menuduh mereka pengecut, sehingga perang tetap dimulai.
Kematian Abu Jahal
Abu Jahal dibunuh dalam Perang Badar oleh dua anak al-Ansar. Kedua anak tersebut berasal dari keluarga petani. Profesi ini dipandang rendah oleh suku Quraisy.
Kedua anak laki-laki itu menyerang Abu Jahal hingga ia terjatuh ke tanah dan kakinya terpotong. Dia tidak dapat bergerak tetapi masih cukup sadar untuk melihat dan merasakan aibnya.
Kepala Abu Jahal kemudian dipenggal oleh Abdullah bin Mas'ud, salah satu sahabat Nabi Muhammad yang terkenal. Kepalanya dibawa kepada Nabi Muhammad dan mayatnya dilemparkan ke dalam sumur tempat mayat-mayat kaum musyrik dilemparkan, yakni di dalam sumur Badar.
Bahkan, setelah berada di ambang kematian, Abu Jahal masih dapat menatap Abdullah bin Masʾud dan berkata, "Beritahukanlah kepada Nabi kalian bahwa saya telah membencinya sepanjang hidup saya, dan bahkan sampai saat ini, api kebencian masih membara di hati saya."
Ketika Abdullah bin Masʾud menyampaikan perkataan itu ke Nabi Muhammad, Nabi Muhammad pun menjawab:
"Aku adalah yang paling terhormat dan mulia di antara para Nabi, umatku adalah yang terbesar di antara umat-umat yang ada, dan Fir'aun di antara umatku adalah yang paling keras kepala dan paling kejam di antara Fir'aun yang lain."