Pura-Pura Enggak Bisa, Kenali Apa Itu Weaponized Incompetence

CNN Indonesia
Kamis, 13 Agu 2026 20:45 WIB
Ilustrasi. Hati-hati dengan orang yang melakukan weaponized incompetence. Anda bisa terjebak mengerjakan semua hal sendiri. Kenali lebih jauh tentang pola perilaku ini. (istockphoto/zamrznutitonovi)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kalau Anda pernah meminta tolong kepada pasangan untuk melakukan sesuatu, tetapi ia menolak karena mengaku tak mahir melakukannya, hati-hati. Bisa jadi itu weaponized incompetence.

Contohnya, seorang istri meminta suaminya untuk mencuci piring. Namun sang suami menjawab, "Aku enggak bisa, nanti malah bikin piringnya pecah, kan kamu yang lebih jago." Alhasil, sang istri yang menyelesaikan pekerjaan itu.

Kalau skenario ini tak asing, kemungkinan besar pasanganmu sedang mempraktikkan weaponized incompetence. Tak hanya pada pasangan, hal ini juga bisa terjadi pada berbagai bentuk hubungan lain, baik di keluarga, pertemanan, hingga pekerjaan.

Biar tak terjebak mengerjakan semua hal sendiri, Anda perlu tahu apa itu weaponized incompetence dan cara menghadapi orang yang menggunakan taktik ini.

Apa itu weaponized incompetence?

Weaponized incompetence merupakan pola psikologis ketika seseorang menghindari atau menolak melakukan tugas dengan alasan tidak mampu. Padahal, ketidakmampuan itu sering kali hanya dijadikan alasan agar tugas tersebut dialihkan ke orang lain.

"Hal ini dapat terjadi dalam hubungan, terutama dalam hubungan romantis yang berkomitmen," kata psikolog Susan Albers, seperti dilansir Cleveland Clinic.

Meski demikian, Albers sendiri mengakui hal ini sering terjadi di lingkungan tempat kerja hingga pertemanan.

"Ini adalah situasi ketika salah satu pasangan dalam suatu hubungan secara sadar atau tidak sadar melakukan suatu tugas dengan buruk untuk menghindari melakukan tugas itu lagi di masa mendatang," kata Albers lagi.

Dalam beberapa kasus, orang yang menerapkan weaponized incompetence bahkan menyalahkan pasangannya karena dianggap tidak mengajari dengan benar. Akibatnya, tanggung jawab menumpuk pada satu orang saja.

Dampaknya tidak ringan. Ini dapat menumbuhkan rasa jengkel, memperbesar konflik, dan mengikis kepercayaan dalam hubungan.

Situasinya bisa lebih serius lagi ketika ada anak, karena pola ini dapat memberi contoh buruk bahwa salah satu orang dewasa tidak perlu bertanggung jawab.

Kenali tanda-tanda weaponized incompetence

Ilustrasi. Pola perilaku weaponized incompetence bisa terjadi dalam rumah tangga, pertemanan, hingga lingkungan kerja. (istockphoto/jhorrocks)

Ada beberapa ciri yang bisa membantu Anda mengenali weaponized incompetence dalam keseharian, seperti dikutip dari laman Find My Therapist:

  • Sering memberikan hasil buruk ketika diminta untuk mengerjakan sesuatu yang sebenarnya mudah dilakukan.
  • Sering berdalih atau beralasan ia tak mahir melakukan tugas yang diminta.
  • Minta penjelasan atau instruksi berulang kali.
  • Enggan untuk belajar dan memperbaiki diri.
  • Cenderung menunjukkan sikap defensif atau tersinggung ketika diminta berkontribusi secara setara.

Jika sejumlah perilaku tersebut terjadi berulang, Anda perlu bertanya apakah ini benar-benar ketidaksengajaan atau justru pola yang disengaja untuk menghindari beban.

Baca halaman selanjutnya untuk mengetahui bagaimana cara mengatasinya...

Cara Menghadapi Orang yang Mempraktikkan Weaponized Incompetence


BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :