Malu Bertanya di Korea Lebih Baik dari Sesat di Jalan
Yolanda Normagupita | CNN Indonesia
Minggu, 21 Mei 2023 11:00 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Area Cafe di Appgujeong, Gangnam, Seoul, Korea Selatan. (Arsip Pribadi Yolanda Normagupita)
Jakarta, CNN Indonesia --
Hampir empat tahun saya tinggal di Korea Selatan untuk menamatkan kuliah S2 di Academy of Korean Studies. Sejak lama saya tertarik dengan hal-hal yang berbau Korea.
Saat kuliah S1 di Universitas Indonesia, saya pun mengambil jurusan Bahasa dan Kebudayaan Korea. Jurusan Sosiologi yang saya ambil di Academy of Korean Studies juga karena minat saya terhadap orang-orang dari Negeri Ginseng ini.
Saya tinggal di asrama kampus yang berada di Gyeonggido Seongnam, sebelah selatan Kota Seoul, ibu kota Korea Selatan. Jika Seoul diibaratkan Jakarta, maka Seongnam adalah Depok. Pada dasarnya, saya tinggal di kawasan kota besar.
Sebelum tinggal di Korea, saya pernah berkunjung juga ke sini untuk liburan. Jadi, sebenarnya saat pindah ke Korea, sedikit banyak tahu soal Korea, karena saya juga mempelajarinya di kampus. Sambil kuliah, saya seringkali juga mendapat job sebagai penerjemah bahasa Korea dan Indonesia.
Saya pernah mendengar tentang tipikal masyarakat Korea yang individualistis. Saya pun akhirnya merasakan bagaimana sikap masyarakat di sana ketika naik MRT di Korea bersama teman-teman asal Indonesia, di mana beberapa di antaranya ada yang memakai hijab.
Saat di MRT, tiba-tiba ada seorang kakek yang marah dan meminta teman saya melepas hijabnya dengan alasan harus mengikuti budaya di Korea. Lalu, saya menegur kakek itu dan memberi penjelasan dengan bahasa Korea bahwa ini ajaran agama, walaupun sepertinya itu tidak mengubah sikap dia.
Tapi, yang lebih menyebalkan dan mengecewakan adalah tidak ada satu pun orang di kereta itu yang membela atau melerai kami. Orang-orang di kereta cuma melihat. Mereka juga kaget sepertinya saya bisa bahasa Korea dengan baik.
Distrik Gangnam, Seoul, Korea Selatan. (Istockphoto/Getty Images/Mlenny)
Bahkan, seorang ibu di samping kakek itu malah geser ke samping menunjukkan gesture tak mau ikut campur. Dari pengalaman itu saya pertama kali tahu dan merasakan karakter masyarakat di sini, kaget juga.
Ternyata setelah aku tanya teman-teman asli Korea, orang-orang yang tidak peduli dengan orang lain itu biasa, memang seperti itu. Mereka tidak mau ikut campur urusan orang lain, karena kalau ikut campur, nanti malah kita yang kena masalah. Itu yang jadi masalah di Korea sekarang.
Salah satu bentuk masyarakat Korea yang individualistis adalah seperti itu. Mungkin salah satu positifnya dari sifat individualistis ini, mereka tahu batasan antara satu sama lain.
Pengalaman lain yang saya rasakan yakni ketika saya mengikuti beberapa les di Korea, nyaris di semua tempat les itu, orang-orang tidak saling berkomunikasi satu sama lain. Mereka tidak ada yang tanya seperti: dari mana atau namanya siapa.
Kami benar-benar cuma datang, terus belajar, habis itu pulang. Minim banget komunikasi satu sama lain, termasuk juga sesama orang Korea. Bahkan, saat les dance yang harusnya seru, mereka sibuk main ponsel masing-masing saat pintu tempat les belum dibuka.
Menurut teman-teman saya yang orang Korea, mereka memang pergi untuk melakukan tujuan mereka saja. Jadi, mereka tidak terlalu peduli sama orang lain.
Kalau ditanya apakah orang di Korea seperti yang digambarkan di drama-drama Korea? Itu tergantung genre dramanya ya. Tapi, kebanyakan memang beda banget dengan realitas yang ada. Saya enggak bilang ini bagus atau buruk ya.
Tapi, misalnya drama yang lucu, kadang yang digambarkan di drama dengan kenyataannya tidak seramah itu. Aslinya, orang-orang di sini itu formalitas banget. Banyak komunikasi antar manusianya berupa formalitas.
Misalnya, kalau di cafe, minimarket, atau salon, orang Korea punya nada bicaranya sendiri untuk bidang ekonomi mereka, jadi kedengarannya enggak natural. Ini mungkin agak sulit dijelaskan kepada orang yang enggak paham Bahasa Korea. Tapi kalau saya yang dengar tuh kaya: formalitas banget ngomongnya, jadi terlalu kaku.
Jadi kalau ada momen-momen di drama Korea yang kadang bikin saya berpikir dan bilang begini: Ini mah enggak mungkin di dunia asli bisa begini. Banyak poin-poin kaya begitu.
Misalnya ada adegan di kereta atau stasiun, terus mengajak bicara orang di sebelahnya, itu kalau di kehidupan nyata bakal bisa dapat respons sinis dari gestur mata orangnya. "Apa sih ini orang, enggak kenal juga."
Memang ada sebuah budaya di Korea yang tidak mau merepotkan orang dengan level yang sangat tinggi. Sebenarnya bagus, tapi terlalu kaku sehingga tidak bersosialisasi dengan yang lain karena tidak mau merepotkan orang.
Untuk menanyakan jalan atau arah saja di Korea hampir menjadi tabu. Kecuali bapak-bapak atau ibu-ibu yang sudah tua yang menanyakan jalan atau arah, untuk orang muda, mereka tidak ada sama sekali menanyakan arah jalan. Untuk bertanya di mana letak toilet kepada pelayan restoran di sebuah mal saja itu sungkan dilakukan orang-orang muda di Korea. Padahal, kalau di Indonesia hal begitu kan biasa saja.
Kalau kita bertanya seperti itu, malah dianggap tidak tahu budaya Korea. Sampai segitunya tidak mau merepotkan orang lain. Saya pernah alami kejadian ini saat jalan-jalan bersama teman-teman saya yang orang Korea, waktu itu mereka sama sekali tidak mau tanya orang lain saat kami sedang mencari sebuah lokasi.
Lalu, saya sampai menjelaskan bahwa di Indonesia bahkan ada peribahasa, malu bertanya sesat di jalan. Tapi, pada dasarnya, orang Korea hanya enggan bersinggungan dengan orang yang tidak mereka kenal. Fenomena ini sebenarnya terjadi pada orang-orang muda yang tinggal di kota-kota besar di Korea.
Suasana di dalam kereta bawah tanah Seoul, Korea. (CNN Indonesia/Ramadhan Rizki Saputra)
Kalo dipikir apa pemicu anak-anak mudanya menjadi sangat individualistis, kembali lagi ke sejarahnya, di mana Korea berkembang dalam waktu yang cepat, zaman ibu mereka sebenarnya atau sekitar 30-40 tahun yang lalu, Korea masih tradisional, seperti Indonesia. Tapi sekarang, sudah sangat pesat sampai akhirnya banyak struktur sosial yang sudah berubah. Misalnya, bentuk perumahan.
Di kota besar di Korea, bentuk perumahannya vertikal atau seperti apartemen, sendiri-sendiri. Sudah jarang itu bentuk perumahan, kalau ada, harganya pasti mahal. Karena perkembangan negaranya pesat, akhirnya rumah-rumah yang dibikin seperti apartemen.
Mereka pun akhirnya tidak berkomunikasi dengan tetangga. Untuk orang yang masih muda nih, sejak mereka lahir sudah terbentuk situasi seperti itu. Orang-orang ini tinggalnya di apartemen, ketemu sama tetangga di lift, itu pun enggak menyapa, karena dianggap orang asing, karena enggak kenal.
Perubahan struktur seperti ini salah satunya yang membentuk karakter orang-orang mudanya seperti sekarang, punya batasan. Untuk anak-anak mudanya kenapa seperti itu, Korea dalam 30 tahun terakhir banyak sekali perubahannya.
Saya pernah dengar pembahasan soal ini bawah sociality itu terbentuk dari sistem negaranya itu juga, salah satunya sistem perumahannya yang mempengaruhi. Selain itu, ini karena Korea negara yang terbuka, jadi mereka semakin kebarat-baratan.
Orang Korea semakin menerima pendapat-pendapat dari luar. Karena sebenarnya Korea kan negara yang tradisional, orang Timur. Tapi, Korea itu lebih terbuka terhadap pendapat-pendapat dari Barat.
Jakarta, CNN Indonesia --
Hampir empat tahun saya tinggal di Korea Selatan untuk menamatkan kuliah S2 di Academy of Korean Studies. Sejak lama saya tertarik dengan hal-hal yang berbau Korea.
Saat kuliah S1 di Universitas Indonesia, saya pun mengambil jurusan Bahasa dan Kebudayaan Korea. Jurusan Sosiologi yang saya ambil di Academy of Korean Studies juga karena minat saya terhadap orang-orang dari Negeri Ginseng ini.
Saya tinggal di asrama kampus yang berada di Gyeonggido Seongnam, sebelah selatan Kota Seoul, ibu kota Korea Selatan. Jika Seoul diibaratkan Jakarta, maka Seongnam adalah Depok. Pada dasarnya, saya tinggal di kawasan kota besar.
Sebelum tinggal di Korea, saya pernah berkunjung juga ke sini untuk liburan. Jadi, sebenarnya saat pindah ke Korea, sedikit banyak tahu soal Korea, karena saya juga mempelajarinya di kampus. Sambil kuliah, saya seringkali juga mendapat job sebagai penerjemah bahasa Korea dan Indonesia.
Saya pernah mendengar tentang tipikal masyarakat Korea yang individualistis. Saya pun akhirnya merasakan bagaimana sikap masyarakat di sana ketika naik MRT di Korea bersama teman-teman asal Indonesia, di mana beberapa di antaranya ada yang memakai hijab.
Saat di MRT, tiba-tiba ada seorang kakek yang marah dan meminta teman saya melepas hijabnya dengan alasan harus mengikuti budaya di Korea. Lalu, saya menegur kakek itu dan memberi penjelasan dengan bahasa Korea bahwa ini ajaran agama, walaupun sepertinya itu tidak mengubah sikap dia.
Tapi, yang lebih menyebalkan dan mengecewakan adalah tidak ada satu pun orang di kereta itu yang membela atau melerai kami. Orang-orang di kereta cuma melihat. Mereka juga kaget sepertinya saya bisa bahasa Korea dengan baik.
Distrik Gangnam, Seoul, Korea Selatan. (Istockphoto/Getty Images/Mlenny)
Bahkan, seorang ibu di samping kakek itu malah geser ke samping menunjukkan gesture tak mau ikut campur. Dari pengalaman itu saya pertama kali tahu dan merasakan karakter masyarakat di sini, kaget juga.
Ternyata setelah aku tanya teman-teman asli Korea, orang-orang yang tidak peduli dengan orang lain itu biasa, memang seperti itu. Mereka tidak mau ikut campur urusan orang lain, karena kalau ikut campur, nanti malah kita yang kena masalah. Itu yang jadi masalah di Korea sekarang.
Salah satu bentuk masyarakat Korea yang individualistis adalah seperti itu. Mungkin salah satu positifnya dari sifat individualistis ini, mereka tahu batasan antara satu sama lain.
Pengalaman lain yang saya rasakan yakni ketika saya mengikuti beberapa les di Korea, nyaris di semua tempat les itu, orang-orang tidak saling berkomunikasi satu sama lain. Mereka tidak ada yang tanya seperti: dari mana atau namanya siapa.
Kami benar-benar cuma datang, terus belajar, habis itu pulang. Minim banget komunikasi satu sama lain, termasuk juga sesama orang Korea. Bahkan, saat les dance yang harusnya seru, mereka sibuk main ponsel masing-masing saat pintu tempat les belum dibuka.
Menurut teman-teman saya yang orang Korea, mereka memang pergi untuk melakukan tujuan mereka saja. Jadi, mereka tidak terlalu peduli sama orang lain.
Kalau ditanya apakah orang di Korea seperti yang digambarkan di drama-drama Korea? Itu tergantung genre dramanya ya. Tapi, kebanyakan memang beda banget dengan realitas yang ada. Saya enggak bilang ini bagus atau buruk ya.
Tapi, misalnya drama yang lucu, kadang yang digambarkan di drama dengan kenyataannya tidak seramah itu. Aslinya, orang-orang di sini itu formalitas banget. Banyak komunikasi antar manusianya berupa formalitas.
Misalnya, kalau di cafe, minimarket, atau salon, orang Korea punya nada bicaranya sendiri untuk bidang ekonomi mereka, jadi kedengarannya enggak natural. Ini mungkin agak sulit dijelaskan kepada orang yang enggak paham Bahasa Korea. Tapi kalau saya yang dengar tuh kaya: formalitas banget ngomongnya, jadi terlalu kaku.
Menanyakan Arah Jalan di Korea Hampir Menjadi Tabu
Keramaian di area pertokoan Stasium Gangnam, Seoul, Korea Selatan. (Arsip Pribadi Yolanda Normagupita)
Jadi kalau ada momen-momen di drama Korea yang kadang bikin saya berpikir dan bilang begini: Ini mah enggak mungkin di dunia asli bisa begini. Banyak poin-poin kaya begitu.
Misalnya ada adegan di kereta atau stasiun, terus mengajak bicara orang di sebelahnya, itu kalau di kehidupan nyata bakal bisa dapat respons sinis dari gestur mata orangnya. "Apa sih ini orang, enggak kenal juga."
Memang ada sebuah budaya di Korea yang tidak mau merepotkan orang dengan level yang sangat tinggi. Sebenarnya bagus, tapi terlalu kaku sehingga tidak bersosialisasi dengan yang lain karena tidak mau merepotkan orang.
Untuk menanyakan jalan atau arah saja di Korea hampir menjadi tabu. Kecuali bapak-bapak atau ibu-ibu yang sudah tua yang menanyakan jalan atau arah, untuk orang muda, mereka tidak ada sama sekali menanyakan arah jalan. Untuk bertanya di mana letak toilet kepada pelayan restoran di sebuah mal saja itu sungkan dilakukan orang-orang muda di Korea. Padahal, kalau di Indonesia hal begitu kan biasa saja.
Kalau kita bertanya seperti itu, malah dianggap tidak tahu budaya Korea. Sampai segitunya tidak mau merepotkan orang lain. Saya pernah alami kejadian ini saat jalan-jalan bersama teman-teman saya yang orang Korea, waktu itu mereka sama sekali tidak mau tanya orang lain saat kami sedang mencari sebuah lokasi.
Lalu, saya sampai menjelaskan bahwa di Indonesia bahkan ada peribahasa, malu bertanya sesat di jalan. Tapi, pada dasarnya, orang Korea hanya enggan bersinggungan dengan orang yang tidak mereka kenal. Fenomena ini sebenarnya terjadi pada orang-orang muda yang tinggal di kota-kota besar di Korea.
Suasana di dalam kereta bawah tanah Seoul, Korea. (CNN Indonesia/Ramadhan Rizki Saputra)
Kalo dipikir apa pemicu anak-anak mudanya menjadi sangat individualistis, kembali lagi ke sejarahnya, di mana Korea berkembang dalam waktu yang cepat, zaman ibu mereka sebenarnya atau sekitar 30-40 tahun yang lalu, Korea masih tradisional, seperti Indonesia. Tapi sekarang, sudah sangat pesat sampai akhirnya banyak struktur sosial yang sudah berubah. Misalnya, bentuk perumahan.
Di kota besar di Korea, bentuk perumahannya vertikal atau seperti apartemen, sendiri-sendiri. Sudah jarang itu bentuk perumahan, kalau ada, harganya pasti mahal. Karena perkembangan negaranya pesat, akhirnya rumah-rumah yang dibikin seperti apartemen.
Mereka pun akhirnya tidak berkomunikasi dengan tetangga. Untuk orang yang masih muda nih, sejak mereka lahir sudah terbentuk situasi seperti itu. Orang-orang ini tinggalnya di apartemen, ketemu sama tetangga di lift, itu pun enggak menyapa, karena dianggap orang asing, karena enggak kenal.
Perubahan struktur seperti ini salah satunya yang membentuk karakter orang-orang mudanya seperti sekarang, punya batasan. Untuk anak-anak mudanya kenapa seperti itu, Korea dalam 30 tahun terakhir banyak sekali perubahannya.
Saya pernah dengar pembahasan soal ini bawah sociality itu terbentuk dari sistem negaranya itu juga, salah satunya sistem perumahannya yang mempengaruhi. Selain itu, ini karena Korea negara yang terbuka, jadi mereka semakin kebarat-baratan.
Orang Korea semakin menerima pendapat-pendapat dari luar. Karena sebenarnya Korea kan negara yang tradisional, orang Timur. Tapi, Korea itu lebih terbuka terhadap pendapat-pendapat dari Barat.