Letupan bak Suara Pesta dari Kerusuhan Prancis, Halte Hangus Esok Pagi
Aseani Sethiorini Karna | CNN Indonesia
Sabtu, 08 Jul 2023 11:32 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Lokasi halte bus Clos Toreau di Kota Nantes, yang dibakar massa saat kerusuhan berhari-hari di Prancis. (Arsip Aseani Sethiorini Karna)
Jakarta, CNN Indonesia --
Sekitar pukul 00.00 sampai 01.00 dini hari, di dekat apartemen tempat saya tinggal, terdengar suara letupan atau ledakan. Awalnya saya pikir ada orang yang pesta sedang pasang petasan. Tapi, suara ledakannya berulang-ulang. Saya mulai berpikir ada yang aneh.
Karena kemudian setelah itu terdengar suara tembakan, lalu ada suara letupan-letupan lagi. Ini pasti ada yang aneh. Akhirnya saya dan suami melihat berita. Benar saja, ternyata kerusuhan di mana-mana.
Saya pantau juga berita di sosial media dan siaran langsung televisi. Saya tinggal di Kota Nantes, Prancis. Saya pun langsung menghubungi teman yang WNI (Warga Negara Indonesia) yang di Nantes juga.
Teman saya yang di Nantes, apartemennya beda distrik dengan saya. Saya tanyakan kondisi dia. Teman saya apartemennya lebih dekat dengan titik rawan, karena dia tinggal agak di pinggiran kota, yang termasuk pemukiman padat dan berdekatan dengan wilayah-wilayah konflik.
Dari cerita teman saya yang tinggal di lantai empat, dia mengaku melihat beberapa kelompok remaja berpakaian hitam, ada yang memakai topeng mulai menembak-nembaki secara asal. Kemudian mobil-mobil dibakar. Ada orang yang berkendara yang lewat, dikejar oleh kelompok itu.
Kejadian itu hari Kamis tanggal 29 Juni 2023. Saya sedang kerja malam, mulai pukul 17.00 sampai pukul 22.30. Saat pertama kerusuhan, transportasi tidak ada masalah. Cuma memang di daerah pusat kota yang biasanya ramai saat musim panas, kelihatan agak sepi.
Musim panas kan jangka waktu matahari bersinar lebih lama. Jadi saat pukul 22.30 itu langit masih terang, karena matahari baru terbenam. Keesokan paginya, saya ke salah satu supermarket yang jaraknya sekitar 1 kilometer dari apartemen saya.
Situasi malam kelima kerusuhan di Prancis. (REUTERS/Nacho Doce)
Di dekat supermarket itu saya melihat tempat pemberhentian bus atau halte yang sudah dibakar. Yang tersisa tinggal onggokan besi-besi dari fasilitas halte yang tampak sudah hangus. Ternyata, suara tembakan yang saya dengar semalam itu berasal dari area itu.
Perusuh-perusuh ini memang lebih mengincar fasilitas umum, kantor-kantor pemerintahan, dan bank. Di beberapa distrik, supermarket juga diincar untuk dijarah. Ada supermarket bernama Lidl di Prancis yang dijarah dan dibakar.
Puncak kerusuhan di Prancis sendiri saat Kamis (29 Juni), Jumat (30 Juni), dan Sabtu (1 Juli). Belakangan saya nonton TV mulai ada aksi damai. Tapi, saat puncak kerusuhan, ada rumah wali kota L'Haÿ Les Roses, Vincent Jeanbrun, yang berada di dekat Paris, yang dibakar oleh perusuh. Saya juga dengar berita bahwa satu anggota pemadam kebakaran meninggal karena kerusuhan ini.
Pusat kerusuhan berawal dari Nanterre, di mana TKP penembakan lokasinya berdekatan dengan kota Paris, yang kemudian menyebar ke Paris dan kota-kota besar Prancis lainnya. Selain di Paris, ada di Marseille, di Lyon, di Toulouse, di Nantes, dan banyak kota-kota lain yang juga rusuh.
Kalau bicara demonstrasi di Prancis, ya negara ini warganya selalu berdemonstrasi. Kalau demonstrasi anti kebijakan biasanya aksi damai atau long march dan itu dimulainya pagi. Kalau sejak kejadian penembakan remaja 17 tahun bernama Nahel Merzouk di Nanterre, pinggiran kota Paris, kebanyakan pergerakan massa dari sore ke malam. Tembak-tembakan dan penjarahan itu awalnya terjadi saat malam.
Lanjut ke sebelah...
Yang dijarah ada supermarket, butik, bank, toko emas, dan toko-toko barang mewah lain. Banyak sekali yang dijarah, tidak pandang toko besar atau kecil. Karena di sini kebanyakan bukan mal, tapi outlet, itu yang dijarah.
Target perusuh sendiri adalah pemerintah Prancis, polisi, pemadam kebakaran, pokoknya yang dianggap merepresentasikan pemerintahan dan keamanan. Dari dua tahun saya tinggal di Prancis, kerusuhan kali ini yang terparah.
Meskipun rusuh dan banyak penjarahan, warga sipil di Prancis relatif aman. Kantor-kantor juga tetap beraktivitas seperti biasa, jadi malam harinya kejadian rusuh, besok pagi kantor tetap buka seperti biasa. Sekolah-sekolah juga tidak diliburkan.
Kalau soal demonstrasi, orang-orang di Prancis sudah terbiasa dan sadar akan ada chaos. Tapi, warga tetap bisa beraktivitas, yang terganggu paling transportasi umum. Kalau ada demonstrasi di Prancis itu, kaya kita sudah tahu saja titik-titik rawannya ada di mana, sehingga bisa dihindari. Demonstrasi di Paris juga sering terjadi.
Perusuh dan polisi juga tidak pernah menyerang pemukiman warga, karena tidak bisa main masuk ke properti orang. Cuma saya sempat kaget saja, suara tembak-tembakan itu ternyata dekat apartemen saya yang biasanya aman-aman saja.
Yang paling harus dihindari ya gas air mata, karena biasanya di sini, para perusuh itu juga bikin gas air mata sendiri. Jadi, mereka bawa gas air mata, bawa bom molotov kecil, bawa petasan. Biasanya begitu. Tapi yang diincar tetap orang-orang yang dianggap bagian dari pemerintah Prancis.
Suasana Prancis sempat mencekam usai polisi tembak remaja 17 tahun. (AFP/Jeff Pachoud)
Waktu demonstrasi anti reformasi pensiun juga sebenarnya sempat rusuh. Kalau soal skala, lebih besar waktu demonstrasi anti reformasi pensiun. Tapi kalau horor, yang lebih horor kerusuhan setelah penembakan remaja 17 tahun ini.
Bahkan saat demonstrasi anti reformasi pensiun di Prancis, saya berada di tengah-tengah aksi itu. Awalnya sempat aman, tapi kemudian rusuh. Tapi, kalau di Prancis, kita tuh seperti bisa bedakan mana yang demonstran mana yang bukan. Bisa kelihatan saja bedanya.
Kalau soal dampak dari kerusuhan, ya terutama transportasi publik yang biasanya beroperasi sampai pukul 02.00 dini hari, saat kerusuhan terbatas hanya sampai pukul 20.00. Buat saya yang biasa kerja malam menggunakan transportasi umum, harus cari cara lain. Saya akhirnya pilih naik sepeda dari apartemen ke tempat kerja.
Jakarta, CNN Indonesia --
Sekitar pukul 00.00 sampai 01.00 dini hari, di dekat apartemen tempat saya tinggal, terdengar suara letupan atau ledakan. Awalnya saya pikir ada orang yang pesta sedang pasang petasan. Tapi, suara ledakannya berulang-ulang. Saya mulai berpikir ada yang aneh.
Karena kemudian setelah itu terdengar suara tembakan, lalu ada suara letupan-letupan lagi. Ini pasti ada yang aneh. Akhirnya saya dan suami melihat berita. Benar saja, ternyata kerusuhan di mana-mana.
Saya pantau juga berita di sosial media dan siaran langsung televisi. Saya tinggal di Kota Nantes, Prancis. Saya pun langsung menghubungi teman yang WNI (Warga Negara Indonesia) yang di Nantes juga.
Teman saya yang di Nantes, apartemennya beda distrik dengan saya. Saya tanyakan kondisi dia. Teman saya apartemennya lebih dekat dengan titik rawan, karena dia tinggal agak di pinggiran kota, yang termasuk pemukiman padat dan berdekatan dengan wilayah-wilayah konflik.
Dari cerita teman saya yang tinggal di lantai empat, dia mengaku melihat beberapa kelompok remaja berpakaian hitam, ada yang memakai topeng mulai menembak-nembaki secara asal. Kemudian mobil-mobil dibakar. Ada orang yang berkendara yang lewat, dikejar oleh kelompok itu.
Kejadian itu hari Kamis tanggal 29 Juni 2023. Saya sedang kerja malam, mulai pukul 17.00 sampai pukul 22.30. Saat pertama kerusuhan, transportasi tidak ada masalah. Cuma memang di daerah pusat kota yang biasanya ramai saat musim panas, kelihatan agak sepi.
Musim panas kan jangka waktu matahari bersinar lebih lama. Jadi saat pukul 22.30 itu langit masih terang, karena matahari baru terbenam. Keesokan paginya, saya ke salah satu supermarket yang jaraknya sekitar 1 kilometer dari apartemen saya.
Situasi malam kelima kerusuhan di Prancis. (REUTERS/Nacho Doce)
Di dekat supermarket itu saya melihat tempat pemberhentian bus atau halte yang sudah dibakar. Yang tersisa tinggal onggokan besi-besi dari fasilitas halte yang tampak sudah hangus. Ternyata, suara tembakan yang saya dengar semalam itu berasal dari area itu.
Perusuh-perusuh ini memang lebih mengincar fasilitas umum, kantor-kantor pemerintahan, dan bank. Di beberapa distrik, supermarket juga diincar untuk dijarah. Ada supermarket bernama Lidl di Prancis yang dijarah dan dibakar.
Puncak kerusuhan di Prancis sendiri saat Kamis (29 Juni), Jumat (30 Juni), dan Sabtu (1 Juli). Belakangan saya nonton TV mulai ada aksi damai. Tapi, saat puncak kerusuhan, ada rumah wali kota L'Haÿ Les Roses, Vincent Jeanbrun, yang berada di dekat Paris, yang dibakar oleh perusuh. Saya juga dengar berita bahwa satu anggota pemadam kebakaran meninggal karena kerusuhan ini.
Pusat kerusuhan berawal dari Nanterre, di mana TKP penembakan lokasinya berdekatan dengan kota Paris, yang kemudian menyebar ke Paris dan kota-kota besar Prancis lainnya. Selain di Paris, ada di Marseille, di Lyon, di Toulouse, di Nantes, dan banyak kota-kota lain yang juga rusuh.
Kalau bicara demonstrasi di Prancis, ya negara ini warganya selalu berdemonstrasi. Kalau demonstrasi anti kebijakan biasanya aksi damai atau long march dan itu dimulainya pagi. Kalau sejak kejadian penembakan remaja 17 tahun bernama Nahel Merzouk di Nanterre, pinggiran kota Paris, kebanyakan pergerakan massa dari sore ke malam. Tembak-tembakan dan penjarahan itu awalnya terjadi saat malam.
Lanjut ke sebelah...
Gas Air Mata Buatan Para Perusuh
Lokasi halte bus Clos Toreau di Kota Nantes, yang dibakar massa saat kerusuhan berhari-hari di Prancis. (Arsip Aseani Sethiorini Karna)
Yang dijarah ada supermarket, butik, bank, toko emas, dan toko-toko barang mewah lain. Banyak sekali yang dijarah, tidak pandang toko besar atau kecil. Karena di sini kebanyakan bukan mal, tapi outlet, itu yang dijarah.
Target perusuh sendiri adalah pemerintah Prancis, polisi, pemadam kebakaran, pokoknya yang dianggap merepresentasikan pemerintahan dan keamanan. Dari dua tahun saya tinggal di Prancis, kerusuhan kali ini yang terparah.
Meskipun rusuh dan banyak penjarahan, warga sipil di Prancis relatif aman. Kantor-kantor juga tetap beraktivitas seperti biasa, jadi malam harinya kejadian rusuh, besok pagi kantor tetap buka seperti biasa. Sekolah-sekolah juga tidak diliburkan.
Kalau soal demonstrasi, orang-orang di Prancis sudah terbiasa dan sadar akan ada chaos. Tapi, warga tetap bisa beraktivitas, yang terganggu paling transportasi umum. Kalau ada demonstrasi di Prancis itu, kaya kita sudah tahu saja titik-titik rawannya ada di mana, sehingga bisa dihindari. Demonstrasi di Paris juga sering terjadi.
Perusuh dan polisi juga tidak pernah menyerang pemukiman warga, karena tidak bisa main masuk ke properti orang. Cuma saya sempat kaget saja, suara tembak-tembakan itu ternyata dekat apartemen saya yang biasanya aman-aman saja.
Yang paling harus dihindari ya gas air mata, karena biasanya di sini, para perusuh itu juga bikin gas air mata sendiri. Jadi, mereka bawa gas air mata, bawa bom molotov kecil, bawa petasan. Biasanya begitu. Tapi yang diincar tetap orang-orang yang dianggap bagian dari pemerintah Prancis.
Suasana Prancis sempat mencekam usai polisi tembak remaja 17 tahun. (AFP/Jeff Pachoud)
Waktu demonstrasi anti reformasi pensiun juga sebenarnya sempat rusuh. Kalau soal skala, lebih besar waktu demonstrasi anti reformasi pensiun. Tapi kalau horor, yang lebih horor kerusuhan setelah penembakan remaja 17 tahun ini.
Bahkan saat demonstrasi anti reformasi pensiun di Prancis, saya berada di tengah-tengah aksi itu. Awalnya sempat aman, tapi kemudian rusuh. Tapi, kalau di Prancis, kita tuh seperti bisa bedakan mana yang demonstran mana yang bukan. Bisa kelihatan saja bedanya.
Kalau soal dampak dari kerusuhan, ya terutama transportasi publik yang biasanya beroperasi sampai pukul 02.00 dini hari, saat kerusuhan terbatas hanya sampai pukul 20.00. Buat saya yang biasa kerja malam menggunakan transportasi umum, harus cari cara lain. Saya akhirnya pilih naik sepeda dari apartemen ke tempat kerja.