Cerita Perjalanan Pria Denmark Rayakan Kebaikan Orang-orang di Dunia
CNN Indonesia
Kamis, 03 Agu 2023 16:30 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Bagi traveler Torbjorn 'Thor' Pedersen, perjalanan 10 tahun keliling dunia adalah caranya merayakan kebaikan orang-orang dan melihat sisi lain dunia. (AFP/JAMES BROOKS)
Jakarta, CNN Indonesia --
Traveler Torbjorn 'Thor' Pedersen akhirnya kembali ke rumahnya di Denmarksetelah perjalanan 10 tahun berkeliling dunia tanpa naik pesawat.
Pedersen tiba di Pelabuhan Aarhaus, Denmark pada Rabu (26/7) lalu. Ia disambut oleh keluarga, teman, dan ratusan fan yang telah mengikutinya di media sosial.
Maladewa adalah negara terakhir yang dikunjungi Pedersen pada 24 Mei lalu. Dari sana, ia menuntaskan perjalanan dan pulang ke Denmark menggunakan kapal laut dari Malaysia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perjalanan yang dimulai pada Oktober 2013 lalu ini tentu menyisakan banyak kisah menarik.
Sebelum berangkat mengelilingi dunia, Pedersen bekerja di bidang pelayaran dan logistik. Hal ini menjadi bekal yang berharga dalam beradaptasi selama perjalanan.
Banyak kejutan yang didapatnya sepanjang perjalanan. Misalnya saja, kesulitan-kesulitan yang dialami saat akan memasuki suatu negara.
Salah satunya adalah Guinea Khatulistiwa, yang menurut Pedersen, sebagai negara yang paling sulit diakses di dunia.
Setelah empat bulan dan banyak usaha yang gagal, Pedersen akhirnya memperoleh visa. Namun, perbatasan darat sedang ditutup saat itu.
Tapi dengan upayanya, Pedersen akhirnya dapat menyeberang berkat pertemuannya dengan orang asing yang bekerja di Guinea Khatulistiwa secara tidak sengaja. Orang asing itu menawarinya tumpangan.
Tak cuma itu, Pedersen juga sempat kesulitan saat berangkat dari China menuju Pakistan. Permasalahan pada visa membuatnya harus mundur 7.500 mil atau sekitar 12 ribu kilometer melalui beberapa negara untuk tiba di Pakistan sebelum visanya habis.
Mulanya, Pedersen menganggarkan waktu selama empat tahun untuk mencapai 203 negara yang akan dikunjungi. Tapi, dunia tampaknya punya rencana lain.
Selama perjalanan, Pedersen mengalami penundaan visa berbulan-bulan di negara seperti Suriah, Iran, Nauru, dan Angola.
Dia juga sempat terkena malaria di Ghana, selamat dari badai hebat selama empat hari saat melintasi Samudera Atlantik dari Islandia ke Kanada, dan harus menjadwal ulang banyak pelayaran karena banyak hal.
Penundaan yang paling signifikan terjadi saat pandemi Covid-19. Sejak awal 2020, dia terjebak di Hong Kong selama dua tahun. Padahal, hanya sisa sembilan negara lagi yang harus dikunjunginya.
"Itu adalah waktu terburuk sekaligus terbaik dalam hidupku," kenang Pedersen, melansir CNN Travel.
Pedersen harus berpikir keras bagaimana caranya bertahan hidup. Akhirnya, sembari menunggu 'pintu' dunia kembali terbuka, Pedersen bekerja di Hong Kong dan terlibat banyak hubungan spesial.
Setelah memperoleh visa kerja dan residensi di Hong Kong, Pedersen menikahi tunangannya, Le, secara virtual pada tahun 2021.
Pedersen akhirnya berhasil meninggalkan Hong Kong pada 5 Januari 2022. Dari sana, ia kembali melanjutkan perjalanan melintasi Samudera Pasifik.
Simak cerita Thor selengkapnya di halaman selanjutnya..
Penghentian pertamanya adalah Palau, yang kemudian dilanjutkan dengan perjalanan ke Australia, Selandia Baru, Samoa, dan Tonga.
Namun, perjalanan itu nyatanya tak mulus-mulus amat. Ia harus bernegosiasi dengan pemerintah masing-masing negara, utamanya Tonga. Salah satu pasalnya adalah pengetatan kedatangan turis mancanegara imbas pandemi Covid-19.
Setelah Tonga, Pedersen melanjutkan perjalanan ke Vanuatu. Kali ini, Le ikut dengannya untuk menggelar pernikahan secara langsung.
Selanjutnya adalah negara terakhir di Pasifik, Tuvalu. Sebagai rumah bagi sembilan pulau dan hanya berpenduduk 11.600 jiwa, Tuvalu adalah salah satu negara paling kecil dan terpencil di dunia.
"Ini [Tuvalu] sangat indah. Ombaknya luar biasa, langitnya indah, dan orang-orangnya sangat baik senang membantu," ujar Pedersen.
Namun, Pedersen tak berharap menetap di Tuvalu selama dua bulan. Salah satu pasalnya adalah akses transportasi yang sulit. Banyak kapal yang mogok dan sering menunda perjalanan.
Akhirnya, Pedersen kembali ke Fiji dengan kapal tunda. Dari sana, perjalanan 24 hari dengan kapal kontainer membawanya ke Singapura.
Dari sana, Pedersen melintasi perbatasan darat ke Malaysia dan naik kapal ke Sri Lanka, sebelum berlayar ke negara terakhir: Maladewa.
"Ketika saya berada di Maladewa, suasananya sangat sibuk, saya tak punya waktu untuk merenung," ujar Pedersen. Ia merasa lelah secara mental dengan emosi yang terus naik turun.
Jika dihitung, total Pedersen menghabiskan 3.576 hari, 37 kapal peti kemas, 158 kereta api, 351 bus, 219 taksi, 33 perahu, dan 43 becak.
Dia melintasi 223.000 mil atau setara dengan sembilan perjalanan mengelilingi Bumi.
Namun bagi Pedersen, perjalanannya bukan-lah perkara angka. Perjalanannya adalah tentang merayakan kebaikan orang dan berbagi pandangan positif tentang dunia.
Pedersen memulai perjalanannya dengan moto bahwa orang asing adalah teman yang belum pernah ditemui sebelumnya.
"Saya telah berkali-kali diperlihatkan bahwa ini [motonya] benar," ujar Pedersen.
Pedersen mengatakan bahwa dia banyak bertemu dengan orang-orang yang hangat, ramah, dan senang membantu di seluruh dunia. Banyak dari mereka yang menawarinya teh, makanan, perkenalan, atau sekadar memberikan arahan.
"Saya tinggal di banyak rumah orang asing selama perjalanan, dan saya berhasil melewati setiap negara di dunia tanpa cedera," ujarnya.
"Entah apakah saya orang paling beruntung di planet ini, atau justru sebenarnya dunia ini lebih baik daripada apa yang diyakini banyak orang saat ini oleh berbagai berita dan kabar menakutkan di media."
Jakarta, CNN Indonesia --
Traveler Torbjorn 'Thor' Pedersen akhirnya kembali ke rumahnya di Denmarksetelah perjalanan 10 tahun berkeliling dunia tanpa naik pesawat.
Pedersen tiba di Pelabuhan Aarhaus, Denmark pada Rabu (26/7) lalu. Ia disambut oleh keluarga, teman, dan ratusan fan yang telah mengikutinya di media sosial.
Maladewa adalah negara terakhir yang dikunjungi Pedersen pada 24 Mei lalu. Dari sana, ia menuntaskan perjalanan dan pulang ke Denmark menggunakan kapal laut dari Malaysia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perjalanan yang dimulai pada Oktober 2013 lalu ini tentu menyisakan banyak kisah menarik.
Sebelum berangkat mengelilingi dunia, Pedersen bekerja di bidang pelayaran dan logistik. Hal ini menjadi bekal yang berharga dalam beradaptasi selama perjalanan.
Banyak kejutan yang didapatnya sepanjang perjalanan. Misalnya saja, kesulitan-kesulitan yang dialami saat akan memasuki suatu negara.
Salah satunya adalah Guinea Khatulistiwa, yang menurut Pedersen, sebagai negara yang paling sulit diakses di dunia.
Setelah empat bulan dan banyak usaha yang gagal, Pedersen akhirnya memperoleh visa. Namun, perbatasan darat sedang ditutup saat itu.
Tapi dengan upayanya, Pedersen akhirnya dapat menyeberang berkat pertemuannya dengan orang asing yang bekerja di Guinea Khatulistiwa secara tidak sengaja. Orang asing itu menawarinya tumpangan.
Tak cuma itu, Pedersen juga sempat kesulitan saat berangkat dari China menuju Pakistan. Permasalahan pada visa membuatnya harus mundur 7.500 mil atau sekitar 12 ribu kilometer melalui beberapa negara untuk tiba di Pakistan sebelum visanya habis.
Mulanya, Pedersen menganggarkan waktu selama empat tahun untuk mencapai 203 negara yang akan dikunjungi. Tapi, dunia tampaknya punya rencana lain.
Selama perjalanan, Pedersen mengalami penundaan visa berbulan-bulan di negara seperti Suriah, Iran, Nauru, dan Angola.
Dia juga sempat terkena malaria di Ghana, selamat dari badai hebat selama empat hari saat melintasi Samudera Atlantik dari Islandia ke Kanada, dan harus menjadwal ulang banyak pelayaran karena banyak hal.
Penundaan yang paling signifikan terjadi saat pandemi Covid-19. Sejak awal 2020, dia terjebak di Hong Kong selama dua tahun. Padahal, hanya sisa sembilan negara lagi yang harus dikunjunginya.
"Itu adalah waktu terburuk sekaligus terbaik dalam hidupku," kenang Pedersen, melansir CNN Travel.
Pedersen harus berpikir keras bagaimana caranya bertahan hidup. Akhirnya, sembari menunggu 'pintu' dunia kembali terbuka, Pedersen bekerja di Hong Kong dan terlibat banyak hubungan spesial.
Setelah memperoleh visa kerja dan residensi di Hong Kong, Pedersen menikahi tunangannya, Le, secara virtual pada tahun 2021.
Pedersen akhirnya berhasil meninggalkan Hong Kong pada 5 Januari 2022. Dari sana, ia kembali melanjutkan perjalanan melintasi Samudera Pasifik.
Simak cerita Thor selengkapnya di halaman selanjutnya..
Merayakan kebaikan orang-orang di dunia
Bagi traveler Torbjorn 'Thor' Pedersen, perjalanan 10 tahun keliling dunia adalah caranya merayakan kebaikan orang-orang dan melihat sisi lain dunia. (AFP/JAMES BROOKS)
Penghentian pertamanya adalah Palau, yang kemudian dilanjutkan dengan perjalanan ke Australia, Selandia Baru, Samoa, dan Tonga.
Namun, perjalanan itu nyatanya tak mulus-mulus amat. Ia harus bernegosiasi dengan pemerintah masing-masing negara, utamanya Tonga. Salah satu pasalnya adalah pengetatan kedatangan turis mancanegara imbas pandemi Covid-19.
Setelah Tonga, Pedersen melanjutkan perjalanan ke Vanuatu. Kali ini, Le ikut dengannya untuk menggelar pernikahan secara langsung.
Selanjutnya adalah negara terakhir di Pasifik, Tuvalu. Sebagai rumah bagi sembilan pulau dan hanya berpenduduk 11.600 jiwa, Tuvalu adalah salah satu negara paling kecil dan terpencil di dunia.
"Ini [Tuvalu] sangat indah. Ombaknya luar biasa, langitnya indah, dan orang-orangnya sangat baik senang membantu," ujar Pedersen.
Namun, Pedersen tak berharap menetap di Tuvalu selama dua bulan. Salah satu pasalnya adalah akses transportasi yang sulit. Banyak kapal yang mogok dan sering menunda perjalanan.
Akhirnya, Pedersen kembali ke Fiji dengan kapal tunda. Dari sana, perjalanan 24 hari dengan kapal kontainer membawanya ke Singapura.
Dari sana, Pedersen melintasi perbatasan darat ke Malaysia dan naik kapal ke Sri Lanka, sebelum berlayar ke negara terakhir: Maladewa.
"Ketika saya berada di Maladewa, suasananya sangat sibuk, saya tak punya waktu untuk merenung," ujar Pedersen. Ia merasa lelah secara mental dengan emosi yang terus naik turun.
Jika dihitung, total Pedersen menghabiskan 3.576 hari, 37 kapal peti kemas, 158 kereta api, 351 bus, 219 taksi, 33 perahu, dan 43 becak.
Dia melintasi 223.000 mil atau setara dengan sembilan perjalanan mengelilingi Bumi.
Namun bagi Pedersen, perjalanannya bukan-lah perkara angka. Perjalanannya adalah tentang merayakan kebaikan orang dan berbagi pandangan positif tentang dunia.
Pedersen memulai perjalanannya dengan moto bahwa orang asing adalah teman yang belum pernah ditemui sebelumnya.
"Saya telah berkali-kali diperlihatkan bahwa ini [motonya] benar," ujar Pedersen.
Pedersen mengatakan bahwa dia banyak bertemu dengan orang-orang yang hangat, ramah, dan senang membantu di seluruh dunia. Banyak dari mereka yang menawarinya teh, makanan, perkenalan, atau sekadar memberikan arahan.
"Saya tinggal di banyak rumah orang asing selama perjalanan, dan saya berhasil melewati setiap negara di dunia tanpa cedera," ujarnya.
"Entah apakah saya orang paling beruntung di planet ini, atau justru sebenarnya dunia ini lebih baik daripada apa yang diyakini banyak orang saat ini oleh berbagai berita dan kabar menakutkan di media."