Gunung Fuji "Menjerit", Pengunjung Membludak Siang dan Malam
CNN Indonesia
Sabtu, 09 Sep 2023 09:27 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Panorama matahari terbit di Gunung Fuji, Jepang. (AP Photo/Jae C. Hong)
Jakarta, CNN Indonesia --
Dengan jutaan pengunjung setiap tahunnya, Gunung Fuji di Jepang bukan lagi tempat ziarah yang damai seperti dulu.
Kini pihak berwenang di Jepang sudah mulai muak dengan jumlah pengunjung yang mendaki gunung berapi tersebut pada waktu siang dan malam.
Kegiatan mendaki saat siang dan malam dianggap berbahaya dan memalukan secara ekologis. "Gunung Fuji menjerit," kata gubernur wilayah setempat pekan lalu, seperti dilansir AFP, Jumat (8/9).
Gunung Fuji dianggap penting untuk agama setempat dan kerap menjadi inspirasi bagi para seniman Jepang. Pada 2013, UNESCO menempatkan ikon Jepang ini ke dalam Daftar Warisan Dunia.
Namun, seperti yang terjadi di tempat-tempat indah lainnya di dunia, penunjukan tersebut merupakan berkah sekaligus kutukan.
Jumlah pengunjung meningkat lebih dari dua kali antara tahun 2012 dan 2019 menjadi 5,1 juta kunjungan dan angka itu hanya terjadi di Prefektur Yamanashi, titik awal utama Gunung Fuji.
Bukan hanya pada siang hari arus orang berjalan dengan susah payah melewati pasir vulkanik hitam dalam pendakian menuju gunung setinggi 3.776 meter (12.388 kaki).
Pada malam hari, antrean panjang dalam pendakian ke atas untuk melihat matahari terbit pada pagi hari, dipenuhi dengan orang-orang yang berjalan dengan obor.
Titik awal utama adalah tempat parkir mobil yang hanya dapat dicapai dengan taksi atau bus yang memakan waktu beberapa jam dari Tokyo, sekitar 100 kilometer (60 mil) jauhnya.
Pengunjung langsung disambut dengan kompleks restoran dan toko yang menjual cinderamata serta makanan ringan dan minuman untuk pejalan kaki sebelum mendaki gunung.
Mereka memakai tenaga generator diesel dan ribuan liter air, yang penggunaannya harus diangkut dengan truk. Truk juga membuang semua sampah di kawasan Gunung Fuji.
"Saya melihat banyak sisa makanan dan botol minuman kosong berserakan di sekitar area cuci tangan di toilet," keluh pendaki Jepang Yuzuki Uemura, 28 tahun.
Seorang pejabat setempat, Masatake Izumi, mengatakan tingginya jumlah orang di gunung meningkatkan risiko kecelakaan.
Kepada AFP, Izumi menyebut beberapa orang yang mendaki pada malam hari mengalami hipotermia dan harus dibawa kembali ke pusat pertolongan pertama.
Setidaknya satu orang telah meninggal di Gunung Fuji sejauh musim ini. Dengan biaya akses opsional sebesar 1.000 yen atau sekitar Rp104 ribu, pengunjung mendapat buklet dalam Bahasa Jepang, yang ada kode QR untuk versi Bahasa Inggris.
Buklet itu juga menjabarkan beberapa hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama berada di kawasan Gunung Fuji.
Namun beberapa orang tidak menyadari betapa sulitnya pendakian menuju puncak yang memakan waktu lima hingga enam jam, di mana kadar oksigen lebih rendah dan cuaca dapat berubah dengan cepat.
"Di sana hampir seperti musim dingin, sangat dingin," kata Rasyidah Hanan, seorang pendaki berusia 30 tahun dari Malaysia, kepada AFP saat turun.
"Orang-orang harus disaring sedikit karena beberapa orang belum siap untuk mendaki Gunung Fuji. Mereka seperti mengenakan pakaian yang sangat tipis. Beberapa dari mereka benar-benar terlihat sakit," tuturnya.
Ketika jumlah wisatawan kembali ke tingkat sebelum pandemi Covid-19, bukan hanya Gunung Fuji saja yang membuat pihak berwenang di Jepang khawatir.
Para menteri pemerintah Jepang pada Minggu ini bertemu untuk membahas langkah-langkah untuk mengatasi apa yang disebut oleh Kenji Hamamoto, pejabat senior Badan Pariwisata Jepang sebagai "kepadatan dan pelanggaran etiket" di lokasi-lokasi yang banyak dikunjungi wisatawan.
Untuk Gunung Fuji, pihak berwenang mengumumkan bulan lalu bahwa mereka akan menerapkan tindakan pengendalian massa untuk pertama kalinya jika jalur menjadi terlalu sibuk.
Jumlah pengunjung diperkirakan akan sedikit menurun tahun ini dibandingkan tahun 2019, namun pada tahun 2024 jumlah tersebut dapat meningkat lagi seiring kembalinya wisatawan, terutama dari China.
Gubernur Yamanashi, Kotaro Nagasaki, mengatakan pekan lalu bahwa Jepang perlu mengambil tindakan untuk memastikan Gunung Fuji tidak kehilangan status Warisan Dunia UNESCO.
Salah satu solusinya, katanya, adalah membangun sistem kereta api ringan untuk menggantikan jalan utama menuju titik awal utama bagi para pejalan kaki.
"Kami sangat yakin bahwa sehubungan dengan pariwisata Gunung Fuji, peralihan dari pendekatan kuantitas ke pendekatan kualitas sangatlah penting," kata Nagasaki.
Jakarta, CNN Indonesia --
Dengan jutaan pengunjung setiap tahunnya, Gunung Fuji di Jepang bukan lagi tempat ziarah yang damai seperti dulu.
Kini pihak berwenang di Jepang sudah mulai muak dengan jumlah pengunjung yang mendaki gunung berapi tersebut pada waktu siang dan malam.
Kegiatan mendaki saat siang dan malam dianggap berbahaya dan memalukan secara ekologis. "Gunung Fuji menjerit," kata gubernur wilayah setempat pekan lalu, seperti dilansir AFP, Jumat (8/9).
Gunung Fuji dianggap penting untuk agama setempat dan kerap menjadi inspirasi bagi para seniman Jepang. Pada 2013, UNESCO menempatkan ikon Jepang ini ke dalam Daftar Warisan Dunia.
Namun, seperti yang terjadi di tempat-tempat indah lainnya di dunia, penunjukan tersebut merupakan berkah sekaligus kutukan.
Jumlah pengunjung meningkat lebih dari dua kali antara tahun 2012 dan 2019 menjadi 5,1 juta kunjungan dan angka itu hanya terjadi di Prefektur Yamanashi, titik awal utama Gunung Fuji.
Bukan hanya pada siang hari arus orang berjalan dengan susah payah melewati pasir vulkanik hitam dalam pendakian menuju gunung setinggi 3.776 meter (12.388 kaki).
Pada malam hari, antrean panjang dalam pendakian ke atas untuk melihat matahari terbit pada pagi hari, dipenuhi dengan orang-orang yang berjalan dengan obor.
Titik awal utama adalah tempat parkir mobil yang hanya dapat dicapai dengan taksi atau bus yang memakan waktu beberapa jam dari Tokyo, sekitar 100 kilometer (60 mil) jauhnya.
Pengunjung langsung disambut dengan kompleks restoran dan toko yang menjual cinderamata serta makanan ringan dan minuman untuk pejalan kaki sebelum mendaki gunung.
Mereka memakai tenaga generator diesel dan ribuan liter air, yang penggunaannya harus diangkut dengan truk. Truk juga membuang semua sampah di kawasan Gunung Fuji.
"Saya melihat banyak sisa makanan dan botol minuman kosong berserakan di sekitar area cuci tangan di toilet," keluh pendaki Jepang Yuzuki Uemura, 28 tahun.
Seorang pejabat setempat, Masatake Izumi, mengatakan tingginya jumlah orang di gunung meningkatkan risiko kecelakaan.
Kepada AFP, Izumi menyebut beberapa orang yang mendaki pada malam hari mengalami hipotermia dan harus dibawa kembali ke pusat pertolongan pertama.
Satu Orang Telah Meninggal di Gunung Fuji
Pemandangan Gunung Fuji dari Danau Kawaguchiko, Jepang. (CNN Indonesia/Puput Tripeni Juniman)
Setidaknya satu orang telah meninggal di Gunung Fuji sejauh musim ini. Dengan biaya akses opsional sebesar 1.000 yen atau sekitar Rp104 ribu, pengunjung mendapat buklet dalam Bahasa Jepang, yang ada kode QR untuk versi Bahasa Inggris.
Buklet itu juga menjabarkan beberapa hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama berada di kawasan Gunung Fuji.
Namun beberapa orang tidak menyadari betapa sulitnya pendakian menuju puncak yang memakan waktu lima hingga enam jam, di mana kadar oksigen lebih rendah dan cuaca dapat berubah dengan cepat.
"Di sana hampir seperti musim dingin, sangat dingin," kata Rasyidah Hanan, seorang pendaki berusia 30 tahun dari Malaysia, kepada AFP saat turun.
"Orang-orang harus disaring sedikit karena beberapa orang belum siap untuk mendaki Gunung Fuji. Mereka seperti mengenakan pakaian yang sangat tipis. Beberapa dari mereka benar-benar terlihat sakit," tuturnya.
Ketika jumlah wisatawan kembali ke tingkat sebelum pandemi Covid-19, bukan hanya Gunung Fuji saja yang membuat pihak berwenang di Jepang khawatir.
Para menteri pemerintah Jepang pada Minggu ini bertemu untuk membahas langkah-langkah untuk mengatasi apa yang disebut oleh Kenji Hamamoto, pejabat senior Badan Pariwisata Jepang sebagai "kepadatan dan pelanggaran etiket" di lokasi-lokasi yang banyak dikunjungi wisatawan.
Untuk Gunung Fuji, pihak berwenang mengumumkan bulan lalu bahwa mereka akan menerapkan tindakan pengendalian massa untuk pertama kalinya jika jalur menjadi terlalu sibuk.
Jumlah pengunjung diperkirakan akan sedikit menurun tahun ini dibandingkan tahun 2019, namun pada tahun 2024 jumlah tersebut dapat meningkat lagi seiring kembalinya wisatawan, terutama dari China.
Gubernur Yamanashi, Kotaro Nagasaki, mengatakan pekan lalu bahwa Jepang perlu mengambil tindakan untuk memastikan Gunung Fuji tidak kehilangan status Warisan Dunia UNESCO.
Salah satu solusinya, katanya, adalah membangun sistem kereta api ringan untuk menggantikan jalan utama menuju titik awal utama bagi para pejalan kaki.
"Kami sangat yakin bahwa sehubungan dengan pariwisata Gunung Fuji, peralihan dari pendekatan kuantitas ke pendekatan kualitas sangatlah penting," kata Nagasaki.