Gempa NTT: Hipertensi Jadi Penyakit Nomor 2, Ini Penjelasan Medisnya

CNN Indonesia
Jumat, 28 Agu 2026 06:00 WIB
Ilustrasi. Hipertensi jadi penyakit kedua terbanyak di wilayah terdampak gempa NTT. (ANTARA FOTO/FIKRI YUSUF)
Jakarta, CNN Indonesia --

Hipertensi menjadi salah satu penyakit terbanyak yang dilaporkan di wilayah terdampak gempa Nusa Tenggara Timur (NTT). Bukan tanpa alasan, bencana alam seperti gempa bumi memang berkaitan dengan meningkatnya tekanan darah pada warga terdampak.

Dikutip dari detikhealth, berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI, hipertensi menjadi penyakit kedua yang dilaporkan di wilayah terdampak gempa NTT, setelah infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Sebanyak 4686 kasus hipertensi, tercatat pada periode 15-25 Agustus 2026.

Tingginya laporan hipertensi setelah gempa ini menarik perhatian. Gempa tak secara langsung membuat seseorang menjadi hipertensi lantaran tubuh mengalami getaran. Lebih dari itu, ada kaitan medis antara bencana dan tekanan darah yang telah ditemukan sejumlah studi.

Sebuah studi yang dipublikasikan dalam American Journal of Hypertension meneliti 221 pasien hipertensi usai gempa Hanshin-Awaji di Jepang pada 1995 silam. Tekanan darah pasien ditemukan meningkat secara signifikan dalam beberapa pekan setelah gempa.

Pada kelompok yang tinggal di wilayah dengan dampak gempa paling berat, kenaikan tekanan darah mencapai puncaknya pada minggu pertama, sekitar 6,7 mmHg sebelum perlahan kembali ke kondisi awal dalam sekitar enam minggu.

Tekanan darah normal menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) adalah 120/80 mmHg. Jika kenaikan 6,7 mmHg pada tekanan sistolik, maka berarti angkanya dapat berada di kisaran 127 mmHg.

Jadi, kenaikannya mungkin terlihat kecil dalam angka, tetapi cukup untuk menunjukkan adanya perubahan tekanan darah setelah gempa.

Penelitian lain terhadap 16 pasien hipertensi yang tinggal dalam radius 50 kilometer dari episentrum juga menemukan tekanan darah meningkat sekitar 11/6 mmHg pada hari terjadinya gempa. Tekanan darah kemudian tetap lebih tinggi selama sekitar satu minggu dan berangsur kembali ke kondisi awal dalam empat minggu.

Hal tersebut menunjukkan bahwa respons tubuh terhadap gempa dapat terjadi sangat cepat.

Bisa terjadi hanya dalam hitungan menit

Mengutip Nature, studi lain yang dipublikasikan dalam jurnal Hypertension Research menggunakan ambulatory blood pressure monitoring untuk mengukur tekanan darah 11 pasien hipertensi atau yang dicurigai mengalami hipertensi. Pengukuran pertama dilakukan rata-rata hanya 14 menit setelah gempa.

Hasilnya, tekanan darah meningkat dengan cepat dan tetap berada pada tingkat yang lebih tinggi selama sekitar enam jam. Temuan tersebut menunjukkan bahwa reaksi kardiovaskular terhadap gempa dapat muncul dalam waktu sangat singkat setelah seseorang mengalami kejadian yang mengancam atau menakutkan.

Belum lagi, keterbatasan obat dalam kondisi bencana. Bagi orang yang memang sudah memiliki hipertensi, ada satu persoalan lain yang tidak kalah penting, yaitu pengobatan. Kondisi darurat dapat membuat seseorang kesulitan mendapatkan obat atau tidak lagi mengonsumsi obat secara rutin.

Selain hipertensi dan ISPA, Kemenkes juga mencatat beberapa kasus lain seperti myalgia, trauma, diare atau gastroenteritis akut, gastritis, dispepsia, diabetes, penyakit kulit, hingga low back pain.

Gempa utama berkekuatan M7,7 mengguncang wilayah Flores pada 15 Agustus 2026. Hingga Rabu (26/8), tercatat 7.492 gempa susulan, dengan kekuatan terbesar mencapai M6,2 dan terkecil M1,0. Sebanyak 33 gempa susulan tercatat memiliki magnitudo di atas 5.

(anm/asr)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK