Sunat pada Bayi Laki-laki, Kenali Manfaat dan Risikonya

CNN Indonesia
Sabtu, 17 Jan 2026 11:40 WIB
Ilustrasi. Meski sunat bisa dilakukan kapan saja, bahkan setelah bayi lahir, tetapi orang tua perlu memahami manfaat serta risiko sebelum menyunatkan bayi laki-lakinya. (AFP/JUNG YEON-JE)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sunat atau sirkumsisi adalah prosedur pengangkatan kulit kulup (foreskin) pada ujung penis. Di Indonesia, sunat umumnya dilakukan pada masa pra-pubertas, sekitar usia 6-10 tahun. Namun tak jarang, praktik ini dilakukan sejak masih bayi.

Kendati sunat bisa dilakukan kapan saja, bahkan setelah bayi laki-laki lahir, tetapi orang tua perlu memahami manfaat serta risiko sebelum memutuskan melakukan sunat pada bayi laki-laki.

Lihat Juga :

Dilansir dari laman Cleveland Clinic, waktu terbaik untuk melakukannya sunat pada bayi laki-laki adalah sedini mungkin atau usia 10 hari pertama saat bayi masih sehat.

Di fase tersebut, proses penyembuhan luka pada bayi tergolong lebih cepat dibandingkan saat dewasa, dan rasa sakitnya cenderung minim apabila menggunakan anestesi lokal.


Manfaat sunat pada bayi laki-laki

Penelitian menunjukkan bahwa sunat memiliki manfaat untuk kesehatan. Setelah kulit kulup diangkat, penis menjadi lebih mudah dibersihkan terutama pada anak-anak sehingga membantu menjaga kebersihan dan kesehatan penis secara keseluruhan.

Selain itu, sunat juga dapat menurunkan risiko beberapa kondisi medis, antara lain:

Sunat termasuk prosedur medis yang aman dengan tingkat keberhasilan sangat tinggi. Hanya sekitar kurang dari tiga persen kasus yang mengalami komplikasi, dan sebagian besar komplikasinya bersifat ringan.

Risiko sunat pada bayi laki-laki

Meskipun sunat merupakan tindakan yang umum dilakukan pada bayi atau anak laki-laki, tetap ada beberapa risiko yang mungkin terjadi, seperti:

Pada kasus yang sangat jarang, luka sunat mungkin untuk menempel kembali pada kepala penis atau pelengketan sehingga membutuhkan tindakan lebih lanjut agar tidak terjadi infeksi.

Ada anggapan bahwa sunat dapat menurunkan kenikmatan seksual di masa dewasa. Namun hingga kini, tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa sunat mengurangi sensitivitas atau mengurangi intensitas orgasme.

Selain itu, sunat juga tidak memengaruhi kesuburan dan prosedur ini tidak berdampak pada kemampuan seseorang untuk memiliki anak secara biologis.

Meski sudah banyak penjelasan soal manfaat sunat pada bayi dan anak laki-laki, keputusan menyunat atau tidak adalah pilihan pribadi.

Orang tua hanya perlu mempertimbangkan faktor kesehatan, agama, budaya, serta kenyamanan masing-masing. Apabila masih ragu, jangan ragu untuk diskusikan dengan dokter agar mendapatkan saran yang paling sesuai dengan kondisi anak.

(avd/fef)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK