Liburan seharusnya menjadi momen paling menyenangkan. Setelah bekerja lembur, menutup target akhir tahun, dan akhirnya mengemas koper, Anda siap menikmati hari-hari santai, entah berjalan di taman High Line di New York atau menyusuri pasar rempah Marrakesh.
Namun, baru sehari liburan, tenggorokan mulai terasa gatal. Atau lebih buruk lagi, perut mulas yang memaksa Anda menghabiskan waktu di kamar hotel. Fenomena ini terasa menjengkelkan karena seolah tubuh justru 'berkhianat' saat liburan dimulai.
Kondisi ini dikenal sebagai leisure sickness, istilah yang menunjukkan pola ketika seseorang justru merasa tidak enak badan saat akhirnya mengambil waktu istirahat dari pekerjaan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini bukan diagnosis psikiatri resmi, tetapi cukup sering terjadi, terutama pada mereka yang sulit bertransisi dari bekerja ke tidak bekerja," kata Ong Li Anne, konsultan psikiatri di Ng Teng Fong General Hospital (NTFGH) mengutip CNA.
Kondisi ini kerap dialami individu dengan tekanan kerja tinggi dan standar diri yang juga tinggi. Untuk lebih jelasnya, berikut ini beberapa hal yang bisa memicu kenapa Anda kerap sakit saat liburan:
Stres menjadi faktor utama. Menurut Yee Szemen, konsultan senior sekaligus Kepala Divisi Endokrinologi NTFGH, tekanan pekerjaan, terutama menjelang akhir tahun, memicu respons fight or flight dalam tubuh.
"Tubuh melepaskan hormon stres seperti adrenalin dan kortisol. Dalam jangka panjang, hormon ini menekan sistem imun," jelasnya.
Saat hormon stres terus tinggi, tubuh seakan memerintahkan sistem kekebalan untuk 'mundur' demi menghemat energi menghadapi tekanan.
Akibatnya, daya tahan tubuh menurun. Begitu stres mereda saat liburan, tubuh menjadi lebih rentan terhadap virus flu atau pilek.
Ong menambahkan, ketika ritme melambat, seseorang juga menjadi lebih peka terhadap sinyal tubuh. Rasa lelah, pegal, atau tidak nyaman yang sebelumnya diabaikan saat sibuk bekerja kini terasa lebih jelas.
Faktor perjalanan juga berperan. Menurut Woo Han Yang, dokter umum dari Doctor Anywhere, udara kabin pesawat yang kering dapat mengganggu fungsi alami lendir di hidung dan tenggorokan.
"Lendir berfungsi menangkap virus dan bakteri. Saat udara terlalu kering, lendir mengering dan tidak bekerja optimal, sehingga kuman lebih mudah masuk ke saluran pernapasan," ujarnya.
Meski demikian, Woo menilai pesawat jarang menjadi penyebab langsung. Gejala biasanya muncul beberapa hari setelah tiba di destinasi, saat tubuh beradaptasi dengan iklim, lingkungan, dan pola makan baru.
Keluhan paling umum adalah diare, yang sering berkaitan dengan perbedaan standar kebersihan makanan, bakteri lokal, atau air minum. Ditambah lagi, berada di lingkungan asing dapat menimbulkan stres tersendiri, apalagi jika sulit berkomunikasi saat membutuhkan bantuan medis.
Bahkan tanpa bepergian, musim liburan tetap meningkatkan risiko sakit. Pertemuan keluarga, acara kumpul teman, hingga pusat perbelanjaan yang padat memperbesar peluang tertular penyakit.
Konsumsi alkohol berlebihan juga dapat melemahkan sistem imun. "Alkohol diketahui mengganggu proses fisiologis normal dan menurunkan pertahanan tubuh," kata Woo.
Aktivitas fisik yang berlebihan pun bisa berdampak serupa. Ada teori open window, yakni periode singkat penurunan imunitas setelah olahraga berat berkepanjangan. Jika dikombinasikan dengan stres tinggi, tubuh menjadi lebih rentan terhadap infeksi.
Saat bepergian, Woo menyarankan kebiasaan makan dan minum yang aman, memilih air kemasan, menghindari makanan mentah atau kurang matang, serta menjaga kebersihan tangan.
Soal suplemen, ia menegaskan dasar-dasar tetap yang utama. Pola makan seimbang, aktivitas fisik teratur, dan istirahat cukup adalah fondasi sistem imun yang kuat. Suplemen hanya bersifat pendukung, bukan pengganti.
Sementara itu, Ong menyarankan perubahan cara pandang terhadap istirahat. "Bagi tubuh, istirahat bukan tombol on-off, melainkan proses bertahap," ujarnya.
Ia menyarankan agar pengelolaan stres dilakukan sepanjang tahun, rutin beristirahat saat bekerja, tetap aktif bergerak, menjaga hubungan sosial yang menyenangkan, tidur cukup, dan makan seimbang. Dengan begitu, transisi menuju liburan terasa lebih alami, bukan kejutan mendadak bagi tubuh.
(tis/tis)