Perhatikan, 5 Hal Ini Bisa Jadi Tanda Fungsi Otak Mulai Menurun
Lupa tujuan masuk ruangan atau kehilangan alur cerita saat berbicara adalah hal yang umum dialami banyak orang. Meski menimbulkan rasa cemas, tapi hal ini tidak selalu jadi tanda penurunan fungsi otak.
Psikolog klinis, Sarah Garcia Beaumier menjelaskan fenomena 'otak tiba-tiba nge-blank' lebih sering dipicu faktor psikologis dibanding gangguan saraf. Stres, multitasking, kecemasan, hingga depresi menjadi penyebab yang paling umum.
Penurunan kognitif umumnya ditandai dengan memburuknya kemampuan memori, perhatian, dan bahasa. Contohnya, sering lupa menelepon orang penting atau kesulitan menemukan kata yang tepat dan terjadi semakin sering hingga disadari orang lain.
"Melupakan percakapan atau janji penting, merasa tersesat di tempat-tempat yang familiar, lebih mengkhawatirkan dan menunjukkan adanya gangguan kognitif dini yang signifikan," jelas dokter saraf, Thomas Hammond.
Meski begitu, tidak semua gangguan kognitif berkembang menjadi demensia. Beberapa orang dengan gangguan kognitif ringan bisa stabil atau membaik, terutama jika faktor psikologis dan kondisi kesehatan lain ditangani sejak dini.
Melansir dari Eating Well, berikut merupakan tanda-tanda umum penurunan fungsi otak.
1. Sulit mengatur dan menyelesaikan tugas
Stres dan kecemasan memengaruhi sistem otak yang mengatur perhatian, perencanaan, dan pengambilan keputusan. Saat otak terus berada dalam mode 'siaga', kemampuan berpikir pun ikut menurun.
Area otak yang mengatur emosi juga berkaitan erat dengan fungsi perencanaan dan pengambilan keputusan. Saat stres berkepanjangan, otak akan memprioritaskan respons bertahan hidup sehingga kemampuan berpikir kompleks ikut menurun.
2. Sering kesulitan menemukan kata
Kesulitan menyebutkan kata sederhana lalu menggantinya dengan deskripsi bisa menjadi tanda awal gangguan bahasa. Seiring waktu, kondisi ini dapat memicu kecemasan sosial karena sulit mengikuti percakapan.
Penurunan ini berkaitan dengan menurunnya produksi BDNF, protein penting untuk pembentukan sel otak baru.
Asupan makanan seperti blueberry, kunyit, teh hijau, dan cokelat hitam disebut dapat membantu mendukung kesehatan otak.
3. Kehilangan minat pada hal yang dulu disukai
Perasaan kehilangan minat sering disalah artikan sebagai kelelahan atau burnout, padahal bisa menjadi gejala penurunan kognitif. Menarik diri dari aktivitas seperti membaca, berkebun, atau hobi lain perlu mendapat perhatian khusus.
Seseorang dapat mempercepat penurunan fungsi otak karena berkurangnya stimulasi mental. Para ahli menyarankan tetap terlibat dalam aktivitas yang menyenangkan seperti musik, olahraga ringan, atau interaksi sosial untuk menjaga kesehatan otak.
4. Perubahan kepribadian
Perubahan sikap seperti menjadi lebih mudah marah, pendiam, atau menarik diri dari lingkungan sosial seringkali tidak disadari. Orang terdekat justru lebih dulu melihat perbedaan ini dibandingkan individu yang mengalaminya.
Perubahan kepribadian bisa terjadi akibat gangguan pada area otak yang mengatur emosi dan interaksi sosial.
Meski kerap dikaitkan dengan stres, perubahan yang berlangsung terus-menerus perlu diwaspadai sebagai kemungkinan tanda penurunan kognitif.
5. Terus-menerus khawatir dan overthinking
Kebiasaan terus-menerus mengkhawatirkan banyak hal dapat membuat otak berada dalam kondisi siaga berkepanjangan. Akibatnya, daya ingat dan konsentrasi menurun karena otak kelelahan memproses stres.
Dalam jangka panjang, pola pikir negatif yang tidak terkelola dapat memicu peradangan ringan di otak. Jika dibiarkan, kondisi ini berpotensi memperburuk fungsi kognitif dan meningkatkan risiko gangguan daya ingat.
(nga/asr)