Berhemat Bukan Satu-satunya Alasan Orang Bawa Tumbler ke Restoran

CNN Indonesia
Rabu, 07 Jan 2026 19:45 WIB
Bagi beberapa orang, kebiasaan membawa tumbler tak semata soal penghematan, tapi juga kesehatan, kepedulian lingkungan, hingga hak konsumen.
Ilustrasi. Bagi beberapa orang, kebiasaan membawa tumbler tak semata soal penghematan, tapi juga kesehatan, kepedulian lingkungan, hingga hak konsumen. (Istockphoto/kieferpix)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kabar soal viral larangan membawa tumbler ke restoran menuai beragam respons dari pengunjung. Bagi beberapa orang, kebiasaan membawa botol minum sendiri tak semata soal penghematan, tetapi juga berkaitan dengan kesehatan, kepedulian lingkungan, hingga hak konsumen.

Ade Zahra (23) mengatakan, alasan membawa tumbler ke restoran tidak hanya untuk menekan pengeluaran. Ia menilai harga minuman di luar rumah kini kian mahal, bahkan ada yang lebih tinggi dari harga makanan. Namun di luar itu, ia menyebut faktor kesehatan menjadi pertimbangan utama.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sebagai Gen-Z yang aware akan lifestyle generasiku sekarang yang didominasi oleh minuman-manis bergula tinggi, aku memilih untuk membawa air putih sendiri," ujar Ade kepada CNNIndonesia.com, Rabu (7/1).

Ia mengaku merasa bersalah jika dalam sehari terlalu banyak mengonsumsi minuman manis. Menurutnya, pola makan dan minum yang berantakan bisa cepat berdampak pada tubuh, seperti mudah mengantuk, lelah, hingga emosi tidak stabil. Ade juga menyinggung maraknya kasus gangguan ginjal di usia muda yang kerap dikaitkan dengan konsumsi minuman kekinian.

Selain kesehatan, Ade menyebut membawa tumbler sebagai bentuk kontribusi kecil untuk lingkungan.

"Rasanya lebih guilty lagi kalo tiap beli minuman kemasan harus nyampah lagi," katanya.

Soal etika larangan membawa tumbler, Ade menilai persoalan ini masih bisa diperdebatkan. Ia kurang setuju jika larangan semata-mata didorong kepentingan bisnis yang memaksa konsumen membeli minuman di restoran.

Pandangan yang sama disampaikan Iqbhal (22). Ia menilai, membawa tumbler seharusnya menjadi hak setiap orang, terutama karena lebih ramah lingkungan.

"Bawa tumbler sendiri harusnya jadi hak setiap orang. Apalagi pilihan ini jauh lebih etis terhadap keberlanjutan bumi kita bersama," kata Iqbhal.

Ia menyoroti besarnya dampak aktivitas manusia terhadap lingkungan, termasuk persoalan food waste. Menurutnya, restoran memiliki tanggung jawab besar dalam pengendalian limbah makanan dan minuman.

"Kalau kita dilarang bawa tumbler dan disuruh beli minuman yang sebenarnya kita enggak terlalu butuh, minuman itu bisa jadi enggak habis dan kita malah memperparah food waste," ujarnya.

Iqbhal juga mengkritik harga minuman di restoran yang kerap dinilai terlalu tinggi. Ia menilai, restoran seharusnya mendukung keputusan pelanggan yang ingin lebih ramah lingkungan, bukan sebaliknya.

Menurutnya, restoran harus berani mengambil langkah yang berani dalam menyikapi tuntutan pelanggan yang makin sadar dengan pentingnya menjaga lingkungan dalam kegiatan sehari-hari.

Ia menyarankan agar restoran menawarkan opsi pembelian minuman lewat isi tumbler yang diukur dari volume minuman seperti 250 ml, 750 ml, hingga 1.000 ml. Dari sini, restoran seharusnya diuntungkan karena menekan pengeluaran wadah minuman.

Sementara itu, Ridho (21) mengaku membawa tumbler ke restoran karena alasan praktis. Selain untuk berhemat, ia merasa perlu memiliki cadangan air minum.

"Aku bawa Tumbler ke restoran karena untuk berhemat dan butuh penyimpanan air kalau ada keadaan mendadak," kata Ridho.

Beragam pandangan ini menunjukkan bahwa bagi sebagian anak muda, membawa tumbler ke restoran bukan lagi sekadar kebiasaan. Melainkan bagian dari gaya hidup sehat dan berkelanjutan yang masih sering berbenturan dengan aturan bisnis kuliner.

(nga/asr)