Boleh-boleh Saja Sarapan Nasi Uduk, Tapi...
Sarapan nasi uduk masih menjadi kebiasaan banyak orang Indonesia. Selain mudah ditemukan, nasi uduk dianggap praktis dan mengenyangkan untuk memulai aktivitas pagi. Namun, sebenarnya amankah menjadikan nasi uduk sebagai menu sarapan?
Dokter spesialis gizi, Johanes Chandrawinata menjelaskan bahwa mengonsumsi nasi di pagi hari pada dasarnya tak jadi masalah, termasuk nasi uduk. Namun, yang perlu diperhatikan adalah komposisi gizi dan porsinya.
"Tidak apa-apa [sarapan nasi uduk], cuma tetap harus hati-hati. Nasi uduk, kan, nasinya pakai santan, lauknya tahu goreng, tempe goreng, kalorinya tinggi semua, maka jangan terlalu sering," kata Johanes saat dihubungi CNNIndonesia.com, Senin (12/1).
Johanes menjelaskan, porsi makan yang ideal adalah membagi piring menjadi dua bagian. Bagian pertama diisi sayur dan buah, sementara bagian sisanya diisi oleh protein dan karbohidrat.
Nasi uduk sendiri dimasak dengan santan sehingga kandungan lemak jenuhnya lebih tinggi dibanding nasi putih biasa. Belum lagi lauk yang sering menyertainya, seperti tahu dan tempe goreng, ayam goreng, kerupuk, hingga sambal berbahan santan.
"Orang Indonesia sering mengonsumsi nasi sampai satu piring muncung. Itu tidak baik dari segi kesehatan karena nanti menambah risiko terjadinya asupan kalori yang berlebihan," ujarnya.
Konsumsi berlebihan, terutama jika dilakukan setiap hari, berpotensi meningkatkan asupan kalori dan lemak jenuh. Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa berdampak pada peningkatan berat badan hingga risiko gangguan metabolik.
Meski demikian, Johanes menegaskan, nasi uduk bukan makanan terlarang. Menu ini masih bisa dikonsumsi sesekali namun tetap harus memperhatikan gizinya.
"Kalau cuma seminggu sekali masih oke. Tapi hari-hari lain, Senin sampai Jumat, usahakan makan yang lebih sehat," ujarnya.
Agar nasi uduk lebih ramah bagi kesehatan, Johanes menyarankan beberapa penyesuaian. Porsi nasi sebaiknya tidak berlebihan, lauk diganti dengan protein rendah lemak seperti telur rebus atau ayam tanpa kulit serta mengurangi kerupuk dan gorengan.
Ia juga mengingatkan pentingnya protein dalam sarapan. Selain membantu rasa kenyang bertahan lebih lama, protein berperan penting dalam pembentukan antibodi dan menjaga daya tahan tubuh.
"Protein itu penting supaya kita nggak cepat lapar dan tetap produktif," tutupnya.
(nga/asr)