Vaksinasi Super Flu Masih Belum Perlu, Ini Penjelasan Kemenkes

CNN Indonesia
Selasa, 13 Jan 2026 15:30 WIB
Ilustrasi. Kemenkes RI menegaskan, vaksinasi untuk melawan Influenza A subclade K atau 'super flu' belum diperlukan secara massal. (iStock/ozgurdonmaz)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI menegaskan, vaksinasi untuk melawan Influenza A H3N2 subclade K atau yang dikenal sebagai 'super flu' belum diperlukan secara massal.

Pemerintah menilai, penguatan imunitas tubuh masih menjadi langkah utama dalam menghadapi virus tersebut.

"Vaksin itu boleh-boleh saja, tapi sifatnya opsional. Jadi enggak wajib, boleh untuk kelompok rentan lansia, anak-anak, tenaga kesehatan," kata Kepala Biro Komunikasi Kemenkes, Aji Muhawarman, Jakarta Timur, Rabu (7/1) melansir detikhealth.

Menurut Kemenkes, situasi saat ini belum menunjukkan urgensi untuk penerapan vaksinasi massal. Pemerintah justru menekankan pentingnya menjaga daya tahan tubuh agar masyarakat tetap terlindungi dari infeksi.

"Menurut kami, pertahanan terbaik adalah imunitas tubuh yang harus diperkuat. Jadi anak-anak atau siapapun itu, dewasa, lansia, perkuatlah pertahanan tubuh dengan imunitas tubuh yang baik. Makan bergizi dan istirahat cukup," ujar Aji.

Kemenkes tetap mengimbau masyarakat waspada terhadap gejala flu. Warga yang mengalami batuk, pilek, atau bersin diminta membatasi interaksi sosial untuk menekan risiko penularan.

"Stay dulu di rumah, pakai masker, terapkan etiket batuk bersin segala macam. Kalau sudah berat sakitnya, lebih dari 2-3 hari, segera saja ke dokter atau fasilitas kesehatan," tegasnya.

Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin juga meminta masyarakat tidak panik menyikapi merebaknya subclade K. Ia menyebut, virus ini memang mudah menular, tetapi tingkat keparahannya relatif rendah.

"Dia penularannya cepat, tapi kematiannya sangat rendah. Dan ini selalu terjadi biasanya di musim-musim dingin. Di Indonesia kita juga sudah identifikasi, terakhir jumlahnya puluhan. Enggak parah, sih, artinya bisa dengan pengobatan biasa," ujarnya.

Ia menegaskan, masyarakat tidak perlu menyamakan kondisi ini dengan pandemi COVID-19.

"Enggak usah panik, karena sama seperti flu biasa, bukan seperti Covid-19 yang dulu-dulu," pungkas Budi.

(nga/asr)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK