Mengenal Functional Freeze, Stres Kronis yang Bikin Mati Rasa
Memasuki tahun baru, tidak sedikit orang yang menjadikannya alat untuk menyongsong kebahagiaan. Mulai dari membuat resolusi, berbagai rencana, bahkan niatan untuk menjalin kembali kehidupan sosial yang mungkin sempat putus di tahun sebelumnya.
Tapi tidak sedikit juga orang justru merasa kelelahan, tertekan, dan kehilangan energi di periode ini.
Kesibukan meningkat, agenda menumpuk, tubuh rentan sakit, ditambah tekanan untuk menciptakan momen yang 'sempurna'. Kombinasi tersebut kerap berujung pada stres yang menguras fokus dan motivasi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di media sosial, kondisi ini belakangan dikenal dengan sebutan functional freeze.
Istilah functional freeze ramai digunakan di berbagai platform, terutama TikTok, untuk menggambarkan kondisi mati rasa secara emosional dan rendahnya motivasi. Meski bukan istilah resmi dalam psikologi, para ahli menilai fenomena ini patut diperhatikan.
Apa itu functional freeze?
Mengutip CNA, functional freeze bukan diagnosis klinis dan tidak tercantum dalam buku teks psikologi. Istilah ini populer di media sosial sejak 2024 dan banyak dibahas oleh media internasional.
Dave Boyd, terapis pernikahan dan keluarga di Olympia, Washington, mengaku pertama kali mendengar istilah ini dari pasiennya, seorang ibu muda, yang menonton video TikTok tentang functional freeze. Reaksi awalnya sederhana: "Itu bukan istilah psikologi." Namun, penjelasan pasiennya justru membuka pemahaman baru.
Pasien tersebut menggambarkan perasaan kewalahan, terjebak, dan tak berdaya di lingkungan penuh tekanan. Ia masih bisa menjalani aktivitas harian, tetapi merasa hanya "sekadar ada" dan menjalani hidup secara otomatis.
Banyak orang menyamakan functional freeze dengan kondisi 'lelah tapi gelisah', campuran kecemasan dan kelelahan. Ada pula yang mengaitkannya dengan disosiasi, perasaan kabur, atau mati rasa secara emosional, meski secara fungsi tetap berjalan.
Psikolog klinis Janina Fisher menjelaskan, istilah ini bisa merujuk pada berbagai kondisi berbeda. Gejala yang diceritakan warganet bisa tumpang tindih dengan seasonal affective disorder, depersonalisasi, atau dampak jangka panjang trauma.
Meski tidak formal, istilah functional freeze dinilai penting karena memberi bahasa yang lebih bermakna bagi pengalaman seseorang. Menyebut "saya kehilangan motivasi" terasa berbeda dibanding mengatakan "saya mengalami functional freeze".
Seperti apa rasanya mengalami functional freeze?
Gambaran functional freeze di media sosial sangat beragam. Ada yang memperlihatkan diri mereka menatap ponsel tanpa henti, duduk diam setelah mandi, berbaring di tempat tidur, atau sekadar memegang kepala dengan tatapan kosong.
Kata 'freeze' memang identik dengan respons bertahan hidup. Namun, kondisi ini bukan reaksi sesaat terhadap bahaya, melainkan hasil dari upaya terus-menerus untuk tetap berfungsi di tengah tekanan.
Hal-hal penting tetap dilakukan. Seperti pekerjaan selesai, pesan penting dibalas, anak-anak tetap makan. Namun, untuk aktivitas di luar kebutuhan dasar, motivasi terasa nyaris tidak ada.
Menurut George A. Bonanno, profesor psikologi klinis dari Columbia University, kondisi ini kerap muncul karena tuntutan hidup sehari-hari yang terasa berlebihan. Faktor lain yang tak kalah besar adalah banjir informasi.
Paparan berita buruk dan konten mengganggu secara terus-menerus membuat otak selalu berada dalam mode waspada. "Otak kita dirancang untuk mendeteksi ancaman dengan cepat, dan sekarang pemicunya datang tanpa henti," ujarnya.
Cara keluar dari functional freeze
Langkah pertama, para ahli menyarankan untuk memahami alasan mengapa istilah ini terasa relevan bagi diri sendiri. Apakah karena pekerjaan, kondisi keluarga, kelelahan fisik, atau kecemasan akan situasi global?
Bonanno menyarankan untuk mengidentifikasi masalah utama, lalu menghadapinya satu per satu. Jika merasa mati rasa secara emosional, coba tanyakan, emosi apa yang sebenarnya ingin dihindari?
Jika kelelahan menjadi masalah utama, evaluasi pola tidur dan istirahat. Kurang tidur sering kali memperparah rasa beku secara mental.
Untuk stres dan rasa kewalahan, Fisher menyarankan aktivitas yang merangsang sistem saraf otonom, seperti meditasi, yoga, tai chi, atau olahraga ringan. Aktivitas ini membantu tubuh kembali merasakan ketenangan.
Berbicara dengan terapis juga bisa menjadi pilihan, terutama jika gejala terasa berat atau berlangsung lama. Bisa jadi ada kondisi kesehatan mental lain yang mendasari, atau sekadar kebutuhan akan ruang aman untuk memproses pikiran dan perasaan.
Hal yang terpenting, para ahli menekankan bahwa setiap orang tetap memiliki kendali. Mengalami functional freeze bukan berarti tidak mampu berubah. Manusia memiliki kapasitas besar untuk beradaptasi dan pulih, bahkan dari tekanan yang tampak paling melelahkan.
(tis/tis)[Gambas:Video CNN]


