KULTUM KEMULIAAN RAMADAN

Hindari Kesombongan yang Tak Mendapat Ampunan dari Allah SWT

CNN Indonesia
Jumat, 27 Feb 2026 04:00 WIB
Nafsu syahwat masih mendapat ampunan dari Allah SWT, tetapi kesombongan tidak diampuni karena berakar dari sifat iblis.
Ilustrasi. Nafsu syahwat masih mendapat ampunan dari Allah SWT, tetapi kesombongan tidak diampuni karena berakar dari sifat iblis. (iStockphoto/Khosrork)
Jakarta, CNN Indonesia --

Nafsu manusia sering kali menjadi sumber ujian sekaligus godaan. Ada dua jenis nafsu yang menimbulkan dosa, tetapi salah satunya sulit dimaafkan oleh Allah SWT.

"Jadi, ada dua bentuk dosa atau penyebab daripada kemaksiatan itu. Ada yang sifatnya itu karena semata-mata nafsu [syahwat], tapi ada yang karena kesombongan. Kalau nafsu itu mudah dimaafkan," ujar ulama sekaligus Wakil Presiden ke-13 RI Ma'ruf Amin dalam program Kultum Kemuliaan Ramadan 2026 CNNIndonesia pada Rabu (25/2).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ma'ruf membahas dua jenis nafsu yang menyebabkan maksiat menurut pandangan ulama besar Sufyan ats-Tsauri yang dikutip oleh Syekh Nawawi Al-Bantani. Jenis nafsu tersebut, yakni nafsu syahwat dan kesombongan. Kedua nafsu ini memiliki konsekuensi yang berbeda dalam hal pengampunan dari Allah SWT.

Maksiat dari nafsu syahwat, yang datangnya dari keinginan semata untuk melakukan sesuatu yang dilarang, masih memiliki harapan untuk mendapatkan ampunan.

Contohnya, kisah Nabi Adam AS yang tergiur untuk merasakan buah dari pohon syahwat. Namun, setelah menyadari kesalahannya, Beliau memohon ampun dan tobatnya diterima oleh Allah SWT.

Sebaliknya, maksiat akibat kesombongan tidak diharapkan ampunannya. Kesombongan digambarkan sebagai sifat yang mengakui memiliki kelebihan, merasa memiliki segala hal yang paling besar dan paling tinggi.

Kesombongan tak bisa diampuni, karena berakar dari sifat iblis. Iblis merasa lebih tinggi derajatnya, sehingga ia tidak mau memberi hormat atau sujud kepada Nabi Adam waktu diperintah oleh Allah SWT

"Persoalan yang sebenarnya itu bukan soal dia tidak sujudnya, tapi dia menentang perintah Allah. Karena sombongnya itu, kemudian dia tidak menjalankan perintah Allah, maka akhirnya dikutuklah oleh Allah SWT," tutur Ma'ruf mengisahkan.

Sifat sombong inilah yang membuat banyak orang meninggalkan ajaran agama dan tak mau mendengar nasihat baik.

Fenomena kesombongan ini juga terlihat pada orang-orang kafir Quraisy yang menolak ajaran Nabi Muhammad SAW. Mereka bukan menolak Al-Qur'an karena tidak percaya, melainkan karena kesombongan yang menganggap Nabi Muhammad bukan orang besar, kaya, atau berpengaruh.

Mereka mempertanyakan mengapa Al-Qur'an diturunkan kepada orang biasa seperti Nabi Muhammad, bukan kepada orang yang mereka anggap lebih tinggi.

Namun orang yang sombong dan menolak ayat-ayat-Nya tidak akan mendapatkan pintu langit terbuka untuk mereka dan tidak akan masuk surga, kecuali jika seekor unta berhasil masuk melalui lubang jarum.

"Itu tidak mungkin [terjadi]. Oleh karena itu, [ini artinya] orang sombong tidak mungkin masuk surga," ucap Ma'ruf.

Oleh karena itu, sangat penting bagi setiap Muslim untuk menghindari sifat sombong dan selalu merendahkan hati. Kesombongan bukan hanya menghalangi pengampunan Allah, tetapi juga menjauhkan seseorang dari rahmat dan kebahagiaan di dunia maupun akhirat.

(rti)


[Gambas:Video CNN]