Ratusan Ribu Anak Indonesia Alami Kecemasan, Bisa Berujung Depresi
Kecemasan yang terjadi terus-menerus dan tidak ditangani dapat berkembang menjadi depresi. Kondisi ini menjadi perhatian setelah hasil skrining nasional menemukan ratusan ribu anak di Indonesia terindikasi mengalami gejala kecemasan dan depresi.
Dalam program Cek Kesehatan Gratis (CKG) periode 2025-2026 yang dilakukan Kementerian Kesehatan RI, sekitar 7 juta anak telah menjalani pemeriksaan kesehatan. Dari jumlah tersebut, hampir 10 persen terindikasi mengalami masalah kesehatan jiwa.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebut sebanyak 4,4 persen atau sekitar 338 ribu anak menunjukkan gejala gangguan kecemasan. Sementara itu, 4,8 persen atau sekitar 363 ribu anak lainnya menunjukkan gejala depresi. Secara keseluruhan, sekitar 700 ribu anak teridentifikasi mengalami kedua kondisi tersebut.
Melansir Psych Central, kecemasan dan depresi merupakan dua kondisi yang kerap muncul bersamaan. Seseorang yang hidup dengan gangguan kecemasan memiliki kemungkinan lebih besar mengalami gejala depresi dibandingkan mereka yang tidak mengalami kecemasan.
Sementara itu, laporan dari National Depression Center menyebut sekitar 50 persen orang yang didiagnosis depresi juga mengalami gangguan kecemasan. Kondisi ini juga ditemukan lebih banyak terjadi pada perempuan dengan prevalensi sekitar 23,4 persen, dibandingkan laki-laki yang sebesar 14,3 persen.
Kecemasan yang dibiarkan tanpa penanganan sering kali berkembang menjadi depresi melalui tekanan psikologis yang berkepanjangan serta ketidakseimbangan neurotransmiter di otak.
Beberapa gejala yang sering muncul pada kecemasan dan depresi antara lain:
• Kekhawatiran yang terus-menerus
• Gangguan tidur
• Menarik diri dari pergaulan
Para ahli menjelaskan ada sejumlah mekanisme yang membuat kecemasan yang tidak ditangani dapat berkembang menjadi depresi, hal itu yakni:
1. Kecemasan mendorong perilaku menghindar
Ketika seseorang merasa cemas terhadap situasi tertentu, otak cenderung menghindari hal-hal yang memicu rasa takut atau gugup.
Akibatnya, seseorang dapat merasa hidupnya semakin sempit dan kurang bermakna. Kondisi ini dalam jangka panjang bisa memicu perasaan sedih hingga putus asa.
2. Kecemasan memengaruhi cara seseorang memandang dirinya
Ketika seseorang terus merasa tidak mampu menghadapi situasi tertentu karena kecemasan, hal tersebut dapat menurunkan rasa percaya diri dan memunculkan kritik terhadap diri sendiri.
Perasaan tidak berharga dan rendah diri merupakan salah satu gejala utama depresi.
3. Kecemasan jangka panjang menguras energi emosional
Kecemasan yang berlangsung lama juga dapat menguras energi emosional dan fisik. Respons stres dalam tubuh memicu pelepasan hormon seperti adrenalin yang membuat tubuh selalu berada dalam kondisi siaga.
Dalam jangka panjang, stres dan kecemasan yang terus berlangsung juga dapat memengaruhi fungsi otak, termasuk bagian yang berperan dalam memori dan proses belajar.
Karena itu, dukungan dari keluarga, sekolah, serta lingkungan sosial dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga kesehatan mental anak. Dengan penanganan yang tepat sejak dini, kecemasan yang dialami anak diharapkan tidak berkembang menjadi gangguan kesehatan mental yang lebih berat di kemudian hari.
(nga/tis)