KULTUM KEMULIAAN RAMADAN

Jangan Hanya Terpaku pada Dunia, Siapkan juga Bekal di Akhirat

CNN Indonesia
Rabu, 18 Mar 2026 04:00 WIB
Kehidupan di dunia ini bersifat sementara, sedangkan akhirat kekal. Jadi, persiapkan bekal untuk di akhirat nanti.
Ilustrasi. Kehidupan di dunia ini bersifat sementara, sedangkan akhirat kekal. Jadi, persiapkan bekal untuk di akhirat nanti. (istockphoto/Ilham Saputra)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kehidupan di dunia ini bersifat sementara. Para ulama menggambarkan dunia sebagai tempat singgah yang penuh ujian dan cobaan, bukan tempat tinggal yang kekal.

"Tempat akhir kita atau Darul Qarar, itu adalah di akhirat nanti. Tetapi banyak orang yang kemudian lupa itu," ujar ulama sekaligus Wakil Presiden ke-13 RI Ma'ruf Amin dalam program Kultum Kemuliaan Ramadan 2026 CNNIndonesia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mengutip syair Syekh Nawawi, Ma'ruf menjelaskan bahwa orang yang terlalu sibuk dengan urusan dunia dan terperdaya oleh cita-cita panjangnya, akan merasa seolah hidup selamanya. Ia pun jadi lalai menghadapi kematian yang bisa datang kapan saja tanpa pemberitahuan.

Kematian selalu datang tiba-tiba dan tanpa adanya aba-aba. Oleh karena itu, manusia perlu menyiapkan bekal untuk di akhirat nanti, apalagi kuburan merupakan gudangnya aman. Artinya, kita bisa selamat di kuburan jika membawa serta amal saleh.

"Ini mengingatkan kita supaya tidak terlalu sibuk menghabiskan waktunya untuk dunia. Itu bukan tidak penting. Penting, tetapi jangan kita dari pagi sampai pagi lagi hanya untuk kepentingan dunia," tutur Ma'ruf.

Tak hanya mempersiapkan bekal saat kita meninggal dunia, tetapi meninggalkan kepentingan dunia ketika kita masih hidup juga penting.

Saat meninggalkan urusan dunia, Syekh Nawawi mengibaratkannya seperti memakan buah shabir yang pahit dan lebih dahsyat daripada sabetan pedang di dalam sabilillah. Namun sebagai gantinya akan mendapat pahala yang besar.

Adapun tanda seseorang telah meninggalkan urusan dunia terlihat dari gaya hidupnya yang sederhana, seperti makan secukupnya dan tidak berlebihan. Selain itu, meninggalkan dunia juga berarti tidak butuh pada pujian.

"Ini memang bertentangan dengan kebiasaan orang. Padahal, orang tuh mencari pujian, ingin dipuji di mana-mana. Tapi orang yang meninggalkan dunia itu, justru yang tidak ingin dipuji," ujar Ma'ruf.

Orang yang meninggalkan urusan dunia itu sadar, yang wajib dipuji adalah Allah SWT semata. Segala kebaikan yang ia dapat, itu semua berkat Allah.

Selain meninggalkan pujian, penting juga untuk meninggalkan hawa nafsu. Ini yang sering kali sulit dilakukan manusia. Demi mendapat pujian, seseorang bahkan bisa sampai menciptakan branding atau citra diri.

"Istilah sekarang itu personal branding supaya orang memuji dia. Padahal, justru itulah yang sebenarnya menyesatkan kita dan artinya kita itu dianggap sebagai cinta dunia," ucap Ma'ruf.

(rti) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]