Jantung Tiba-tiba Berdebar, Bahaya atau Enggak? Ini Penjelasan Dokter
Beberapa orang boleh jadi mengalami jantung yang tiba-tiba berdebar meski sedang bersantai. Kondisi ini tentu menimbulkan kekhawatiran.
Lantas, apakah jantung yang tiba-tiba berdebar selalu berbahaya?
Jawabannya, tidak. Jantung yang tiba-tiba berdebar memang jadi salah satu gejala aritmia, gangguan yang menimbulkan detak jantung tidak beraturan. Namun, jantung tiba-tiba berdebar tak melulu disebabkan aritmia.
"Jika pemicunya [jantung tiba-tiba berdebar] masih wajar, biasanya tak perlu dikhawatirkan," ujar dokter spesialis kardiovaskular konsultan aritmia Eka Hospital MT Haryono, Evan Jim Gunawan dalam keterangan resmi yang diterima CNNIndonesia.com, Selasa (31/3).
Jantung sendiri memiliki sistem kelistrikan agar dapat berfungsi. Sinyal listrik itu digunakan tubuh untuk membuat otot jantung berdenyut.
Evan mengatakan, secara umum dokter membagi penyebab jantung tiba-tiba berdegup ke dalam dua kategori. Di antaranya adalah debaran fisiologis dan patologis.
Secara fisiologis, jantung yang tiba-tiba berdegup terbilang wajar. Kondisi ini biasanya muncul setelah mengonsumsi kafein berlebih, berolahraga berat, atau saat mengalami emosi yang kuat.
"Biasanya, irama jantung akan kembali normal dengan sendirinya setelah pemicunya hilang," ujar Evan.
Beda lagi dengan penyebab patologis, yang bisa muncul tiba-tiba tanpa penyebab jelas. Dalam kasus ini, detak jantung yang cepat bertahan dalam waktu lama atau disertai gejala fisik lainnya.
"Ini menandakan adanya gangguan pada sirkuit listrik jantung, yang memerlukan pemeriksaan medis," jelas Evan.
Jika penyebabnya patologis, maka Anda boleh khawatir terhadap aritmia.
Apa itu aritmia?
Aritmia sendiri merupakan kondisi saat detak jantung tidak beraturan. Kondisi ini terjadi akibat adanya gangguan atau hambatan pada jalur sinyal listrik jantung.
"Gangguan irama jantung tidak selalu sama, tapi secara umum berdasarkan kecepatan denyut jantung dan keteraturan atau tidak," ujar Evan.
Aritmia dibagi menjadi tiga kategori pertama. Berikut di antaranya:
1. Takikardia, saat jantung berdetak terlalu cepat atau lebih dari 100 kali per menit dalam kondisi istirahat.
2. Bradikardia, saat jantung berdetak terlalu lambat atau kurang dari 60 kali per menit. Kondisi ini sering membuat penderitanya merasa mudah lelah.
3. Tidak teratur/atrial fibrilasi, merupakan jenis aritmia paling umum tapi cukup serius. Jika tidak ditangani, kondisi ini bisa memicu penggumpalan darah yang berisiko menyebabkan stroke.
Selain usia dan riwayat keluarga, beberapa kondisi lain bisa menyebabkan aritmia. Misalnya saja, hipertensi, diabetes, gangguan tiroid, sleep apnea, hingga ketidakseimbangan elektrolit.
Anda disarankan segera mencari bantuan media jika jantung berdebar disertai dengan gejala berikut:
- pingsan atau nyaris pingsan,
- sesak napas,
- nyeri dada,
- kelelahan.
Aritmia sendiri dapat ditangani dengan beberapa cara, apalagi dengan kemajuan teknologi medis saat ini. Salah satunya adalah metode ablasi jantung, sebuah prosedur minimal invasif di mana dokter akan memperbaiki jalur listrik yang rusak agar irama jantung kembali normal tanpa operasi.
"Jika Anda mengalami perubahan detak jantung yang tak biasa, melakukan screening sejak dini bukan hanya membuat pikiran tenang, tapi juga mengantisipasi gangguan medis yang mungkin ada di tubuh," pungkas Evan.
(asr)