Kenalan dengan Konsep 3P dari Dokter Harvard yang Bikin BAB Lancar
Buang air besar atau BAB lancar merupakan salah satu tanda penting dari kesehatan pencernaan yang baik. Namun, sering kali kita kurang memperhatikan kebiasaan buang air besar yang sebenarnya sangat berpengaruh pada kualitas hidup.
Ada banyak faktor yang memengaruhi frekuensi dan kualitas BAB, mulai dari pola makan, aktivitas fisik, hingga kebiasaan menahan buang air besar. Misalnya, karena malu BAB di toilet umum.
Dokter sekaligus asisten profesor kedokteran di Harvard Medical School di Boston, Trisha Pasricha, memperkenalkan konsep 3P yang membantu kita memahami dan mengoptimalkan proses BAB agar tetap lancar. Simak ulasannya berikut ini
Mengapa kebiasaan buang air besar bisa berubah?
Mengutip Cleveland Clinic, perubahan dalam kebiasaan buang air besar bisa menjadi tanda ada yang tidak beres di sistem pencernaan kita. Perubahan ini bisa berupa warna dan konsistensi tinja, frekuensi buang air besar, hingga kontrol atas proses tersebut.
Salah satu penyebab utama perubahan ini, yaitu gaya hidup yang kurang sehat. Misalnya, konsumsi serat yang rendah, kurang olahraga, dehidrasi, dan stres bisa menyebabkan masalah seperti sembelit atau diare.
Selain itu, obat-obatan tertentu juga bisa memengaruhi kebiasaan BAB. Biasanya, setelah mengubah kebiasaan hidup atau menghentikan obat, kondisi BAB akan kembali normal.
Konsep 3P untuk membantu agar BAB Lancar
Pasricha mengembangkan konsep 3P untuk membantu orang memahami bagaimana tubuh mereka bekerja saat buang air besar.
"Untuk buang air besar dengan lancar, Anda membutuhkan ketiga P agar selaras," kata Pasricha, seperti dilansir CNN Health.
Kesehatan usus yang buruk juga terkait erat dengan sejumlah masalah, seperti wasir, penurunan kognitif, demensia, penyakit ginjal kronis, hingga Parkinson. Jadi, kenali 3P ini dan cara mengoptimalkannya:
1. Propulsion (dorongan)
Propulsi merupakan tekanan internal yang mendorong tinja bergerak ke rektum dan keluar dari tubuh.
Tekanan ini terdiri dari dua jenis, yaitu tekanan sadar (valsalva maneuver) dan kontraksi alami usus besar yang terjadi beberapa kali sehari, terutama setelah bangun tidur, makan, atau berolahraga.
Mengatur waktu untuk melakukan dorongan ini bersamaan dengan kontraksi usus akan membantu BAB lancar.
Menahan BAB, terutama karena rasa malu atau ketidaknyamanan di toilet umum, justru dapat memperburuk sembelit. Menurut Pasricha, penting pula bagi kita menormalisasi kegiatan BAB tanpa perlu menghakimi orang yang melakukannya.
2. Pliability (kelembutan tinja)
Pliability mengacu pada kelembutan tinja yang memengaruhi kemudahan tinja bergerak melalui usus.
Setelah penyerapan nutrisi, usus besar menyerap air dari tinja untuk menjaga keseimbangan cairan tubuh. Namun, tinja harus tetap mengandung cukup air agar tidak keras dan sulit dikeluarkan.
Sekadar minum banyak air tidak cukup membuat tinja tetap lunak. Apalagi menunda BAB juga bisa membuat tinja kehilangan air, sehingga menjadi keras dan susah dikeluarkan.
Oleh karena itu, perlu ditambah konsumsi serat yang cukup, seperti dari buah, sayur, dan biji-bijian. Serat makanan bisa membantu menahan air dalam tinja agar tetap lunak.
3. Pelvic floor (otot dasar panggul)
Pelvic floor atau otot dasar panggul merupakan kelompok otot yang mendukung organ-organ internal dan mengontrol keluarnya tinja. Saat melakukan valsalva maneuver, otot-otot ini harus rileks agar tinja bisa keluar dengan lancar.
Posisi duduk yang tepat di toilet, misalnya dengan menaikkan lutut sedikit lebih tinggi dari pinggang, dapat membantu otot-otot ini rileks.
Jika otot dasar panggul terlalu tegang akibat sering mengejan, bisa menyebabkan sembelit kronis dan masalah lain seperti inkontinensia. Terapi fisik biofeedback bisa membantu melatih otot ini agar bekerja lebih baik.
Jika Anda masih belum melihat peningkatan setelah 2-3 bulan berusaha mengintegrasikan 3P, Pasricha menyarankan untuk segera mengunjungi dokter. Apalagi jika ada nyeri atau pendarahan.
"Yang saya inginkan untuk semua orang, yaitu menjalani hidup di mana kebiasaan buang air besar mereka tidak mengganggu jadwal sosial, tidak menghentikan mereka melakukan hal-hal yang disukai," tutur Pasricha.
(rti)