Rayakan Hari Kartini, Perempuan Berhak Punya Waktu Buat Diri Sendiri
Perayaan Hari Kartini mengingatkan bahwa perempuan punya hak yang setara dengan laki-laki. Namun kesetaraan di sini kerap dikaitkan dengan peran. Padahal, kesetaraan juga bisa soal hak memperoleh kesejahteraan secara mental. Perempuan juga perlu waktu untuk dirinya sendiri.
Dalam kehidupan sehari-hari, banyak perempuan disibukkan dengan berbagai peran seperti, pekerja, ibu, anak, hingga pengelola rumah tangga. Tanpa disadari, waktu untuk diri sendiri sering jadi yang pertama dikorbankan.
Lihat Juga : |
Memiliki hobi bukan sekadar aktivitas pengisi waktu luang. Lebih dari itu, hobi berkaitan langsung dengan kesehatan mental, kebahagiaan, dan kualitas hidup.
Dalam perayaan Hari Kartini, semangat emansipasi yang diperjuangkan Kartini memang dipahami dalam konteks besar, seperti akses pendidikan dan kesetaraan hak.
Di konteks masa kini, semangat itu bisa dimaknai lebih luas, termasuk kebebasan untuk punya waktu sendiri, menikmati aktivitas yang disukai, dan merawat diri secara utuh.
Sejumlah riset menunjukkan bahwa aktivitas leisure seperti membaca, olahraga, berkebun, atau berkarya, punya dampak nyata pada kesehatan mental dan fisik. Studi yang dipublikasikan di The Lancet Psychiatry menyebut aktivitas ini berkaitan dengan peningkatan kesehatan dan kesejahteraan secara umum.
Sementara studi lintas negara dalam Nature Medicine menemukan bahwa orang yang memiliki hobi cenderung memiliki tingkat depresi lebih rendah, kesehatan lebih baik, serta kebahagiaan dan kepuasan hidup yang lebih tinggi.
Artinya, hobi bukan sekadar pelengkap hidup, tetapi salah satu faktor penting yang menopang kualitas hidup.
Mengapa perempuan lebih rentan kehilangan waktu?
Bagi perempuan, memiliki hobi sering kali bukan hal yang mudah. Data Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) dan UN Women menunjukkan perempuan masih menghabiskan waktu lebih banyak untuk pekerjaan domestik dan perawatan yang tidak dibayar. Secara global, perempuan menghabiskan sekitar 2,8 jam lebih banyak per hari dibanding laki-laki untuk pekerjaan ini.
Akibatnya, banyak perempuan mengalami time poverty, keterbatasan waktu untuk diri sendiri, termasuk untuk beristirahat atau menjalani hobi.
Di sinilah hobi menjadi lebih dari sekadar kesenangan. Ia menjadi cara untuk reclaiming time, mengambil kembali ruang personal yang sering tersisih oleh berbagai tanggung jawab.
Dari sisi psikologis, hobi juga berperan dalam membantu seseorang menghadapi stres. Aktivitas menyenangkan dapat memperkuat resilience, yaitu kemampuan seseorang untuk bertahan dan beradaptasi dalam situasi yang sulit.
Kegiatan sederhana seperti berkebun, membuat kerajinan, atau aktivitas kreatif lain bahkan dikaitkan dengan meningkatnya kepuasan hidup serta berkurangnya gejala depresi dan kecemasan.
Jika berupa aktivitas fisik, manfaatnya juga semakin jelas. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut aktivitas fisik rutin dapat membantu mengurangi gejala depresi dan kecemasan, sekaligus meningkatkan kesejahteraan secara keseluruhan.
Selama ini, hobi sering dianggap sebagai bentuk self-care. Bagi perempuan, maknanya bisa lebih dalam, ini tentang hak atas waktu, ruang, dan identitas diri di luar peran-peran yang dijalani.
Hari Kartini menjadi pengingat bahwa emansipasi tidak selalu hadir dalam bentuk besar. Memiliki waktu untuk membaca, berolahraga, melukis, atau sekadar menikmati aktivitas yang disukai juga bagian dari kebebasan itu.
(anm/els)