Ini yang Terjadi pada Tubuh saat Tato Permanen

CNN Indonesia
Kamis, 25 Jun 2026 22:30 WIB
Ilustrasi. Dibalik tato, ada proses biologis yang cukup kompleks di dalam tubuh. (Mbragion/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia --

Tato sering dianggap sekadar gambar atau tinta di atas kulit. Padahal, di balik garis dan warna yang terlihat permanen itu, ada proses biologis yang cukup kompleks di dalam tubuh.

Mulai dari tusukan jarum, respons imun, hingga sel kulit yang menyimpan tinta, semuanya ikut berperan membuat tato bisa bertahan bertahun-tahun, bahkan seumur hidup.

Karena itu, tato sebenarnya bukan hanya soal estetika, tetapi juga melibatkan proses luka mikro dan reaksi tubuh terhadap benda asing.

Tinta tato masuk ke lapisan kulit yang lebih dalam

Mengutip National Library of Medicine, tato permanen dibuat menggunakan jarum yang menusuk kulit berulang kali untuk memasukkan tinta ke lapisan dermis, yaitu lapisan kulit yang berada di bawah epidermis.

Lapisan epidermis merupakan bagian kulit paling luar yang terus berganti dan mengelupas secara alami. Jika tinta hanya berada di lapisan ini, warnanya akan cepat hilang.

Karena itu, tinta tato dimasukkan lebih dalam ke dermis yang lebih stabil sehingga pigmen dapat bertahan lebih lama dan tentunya menghasilkan pigmentasi permanen.

Tubuh menganggap tinta sebagai benda asing

Meski tato sengaja dibuat, tubuh tetap membaca tinta sebagai benda asing. Setelah tinta masuk ke kulit, sistem imun langsung merespons seperti saat tubuh mengalami luka kecil.

Area kulit bisa menjadi merah, bengkak ringan, nyeri, atau terasa hangat selama proses penyembuhan.

Dalam proses ini, sel imun bernama makrofag datang ke area kulit untuk membersihkan partikel tinta. Makrofag sendiri merupakan sel pertahanan tubuh yang bertugas menangkap benda asing, kuman, atau partikel yang masuk ke tubuh.

Penelitian dalam Journal of the American Academy of Dermatology (JAAD) menjelaskan bahwa sebagian pigmen tato kemudian tersimpan di dalam makrofag dan sel kulit lain seperti fibroblas, sehingga tinta tersebut tidak benar-benar hilang.

Saat makrofag mati, partikel pigmen dapat dilepaskan lalu ditangkap kembali oleh makrofag lain. Siklus inilah yang membuat warna tato tetap bertahan lama di kulit.

Karena dibuat menggunakan banyak tusukan jarum, tato tetap memiliki risiko tertentu, terutama jika prosesnya tidak steril. Tinta tato yang terkontaminasi mikroorganisme dapat menyebabkan infeksi dan cedera serius karena zat berbahaya dapat masuk ke sistem darah atau limfatik.

(anm/asr)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK