'Serang Virus', Hantavirus Lokal di RI, Perlukah Kita Waspada?

CNN Indonesia
Sabtu, 16 Mei 2026 03:00 WIB
'Serang Virus' dikenal sebagai Hantavirus lokal yang ditemukan di Serang, Banten. Pertanyaannya, perlukah kita mewaspadainya?
Ilustrasi. 'Serang Virus' dikenal sebagai Hantavirus lokal yang ditemukan di Serang, Banten. (iStockphoto)
Jakarta, CNN Indonesia --

Di tengah ramainya isu mengenai Hantavirus di kapal pesiar MV Hondius, publik juga menyoroti keberadaan 'Serang Virus'. Nama terakhir disebut-sebut sebagai jenis Hantavirus lokal yang pernah ditemukan di Indonesia.

Serang Virus pertama kali terdeteksi pada tikus rumah Asia (Rattus tanezumi) di Desa Argawana, Kecamatan Pulo Ampel, Kabupaten Serang, Banten.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Temuan itu tercatat dalam penelitian Badan Litbangkes Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI pada 2012 dan kembali dibahas dalam jurnal Viruses tahun 2019 berjudul A Review of Hantavirus Research in Indonesia: Prevalence in Humans and Rodents, and the Discovery of Serang Virus.

Meski demikian, Kemenkes menegaskan, SERV sejauh ini baru ditemukan pada tikus dan belum pernah dilaporkan menginfeksi manusia di Indonesia.

Pelaksana tugas Dirjen Penanggulangan Penyakit Kemenkes Andi Saguni mengatakan, Hantavirus memiliki banyak strain atau variasi, tetapi tidak semuanya dapat menular ke manusia.

"Jadi virus ini, Hantavirus ini memiliki 50 strain, dari Orthohantavirus ini dan di antaranya 24 strain yang dapat menginfeksi manusia. Untuk Serang Virus sendiri, sejauh ini hanya menginfeksi tikus dan belum terjadi penularan dari tikus ke manusia di Indonesia," kata Andi dalam konferensi pers Kewaspadaan Penyakit Virus Hanta, Senin (11/5).

Penelitian tentang Hantavirus di Indonesia sendiri telah dilakukan selama puluhan tahun, baik pada manusia maupun hewan pengerat. Studi dalam jurnal Viruses itu mencatat, tanda paparan Hantavirus di Indonesia berkisar 0-34 persen pada hewan pengerat dan 0-13 persen pada manusia.

Andi mengatakan, pemerintah tetap melakukan surveilans untuk mendeteksi kemungkinan kasus Hantavirus di Tanah Air, salah satunya adalah rumah sakit sentinel, atau fasilitas pemantauan untuk pengawasan khusus.

"Tadi saya sudah sampaikan bahwa kita memiliki sentinel, 21 rumah sakit sentinel penyakit infeksi emerging di 20 provinsi," ujarnya.

Menurut Andi, pemantauan di 21 rumah sakit itu juga menyasar pasien dengan gejala kuning atau jaundice, sebagai bagian dari kewaspadaan terhadap Hantavirus tipe HFRS (Hemorrhagic fever renal syndrome).

Tetap waspada

Meski belum ditemukan penularan SERV ke manusia, Andi mengingatkan langkah pencegahan tetap penting dilakukan, terutama dengan menghindari kontak langsung dengan tikus atau celurut, termasuk kotoran dan sekresinya.

"Pencegahan yang sama untuk seluruh penyakit Hantavirus ini penting, pertama bahwa menghindari kontak langsung dengan reservoir, dalam hal ini tikus atau celurut, termasuk kotorannya. Apabila kontak tidak dapat menghindari, dapat menggunakan alat pelindung diri seperti masker dan sepatu bot," katanya.

Penggunaan masker juga penting dilakukan, terutama saat beraktivitas di area berisiko yang kemungkinan terdapat kotoran tikus mengering dan dapat terhirup.

Selain itu, masyarakat diminta menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, menjaga kebersihan area penyimpanan hasil panen, serta meminimalkan keberadaan tikus di sekitar rumah maupun tempat kerja.

Andi juga mengingatkan agar bangkai tikus tidak dibuang sembarangan, terutama di wilayah pertanian atau daerah dengan populasi tikus tinggi.

"Tidak dibuang di tengah jalan, atau di sungai, atau dibiarkan begitu. Ada baiknya tikus tersebut juga dimasukkan ke kubur, kemudian ditutup dengan rapat. Itu pasti akan sangat aman," kata Andi.

(anm/asr) Add as a preferred
source on Google