Sama-sama Mirip Flu, Ini Bedanya COVID-19 dan Hantavirus
Daftar Isi
Hantavirus menjadi sorotan setelah muncul laporan wabah di kapal pesiar MV Hondius yang menyebabkan beberapa kasus kematian. Karena sama-sama bisa menimbulkan gejala mirip flu dan gangguan pernapasan, banyak orang mulai membandingkannya dengan COVID-19.
Meskipun sama-sama disebabkan oleh virus dan dapat menyerang sistem pernapasan, COVID-19 dan hantavirus sebenarnya sangat berbeda dari sisi penyebab, cara penularan, hingga risiko penyebarannya.
COVID-19 disebabkan oleh virus SARS-CoV-2 yang mudah menular antarmanusia. Sementara itu, hantavirus merupakan kelompok virus yang umumnya berasal dari hewan pengerat seperti tikus dan lebih sering menular melalui paparan lingkungan yang terkontaminasi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lalu, apa saja perbedaan utama antara COVID-19 dan hantavirus?
Asal-usul
Melansir dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC), COVID-19 adalah penyakit akibat infeksi virus SARS-CoV-2 yang pertama kali menyebar secara global pada 2020 dan kemudian menjadi pandemi.
Sementara itu, hantavirus bukan virus baru. Hantavirus merupakan kelompok virus zoonotik yang sudah lama dikenal dan dibawa oleh hewan pengerat seperti tikus.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjelaskan bahwa hantavirus biasanya menular melalui paparan urine, feses, atau air liur tikus yang terinfeksi.
Di Indonesia sendiri, penelitian terkait hantavirus sebenarnya sudah pernah ditemukan sejak lama. Studi Kosasih dan kolega tahun 2011 di jurnal Vector-Borne and Zoonotic Diseases melaporkan adanya infeksi virus Seoul, salah satu jenis hantavirus, pada manusia dan tikus di Jawa Barat.
Penularan
Perbedaan terbesar COVID-19 dan hantavirus ada pada cara penyebarannya.
COVID-19 sangat mudah menular antarmanusia melalui partikel pernapasan saat seseorang batuk, bersin, berbicara, atau bernapas. Karena itu, virus dapat menyebar cepat di rumah, kantor, sekolah, transportasi umum, hingga ruangan tertutup dengan ventilasi buruk.
Sementara itu, hantavirus umumnya tidak menyebar melalui interaksi sehari-hari antarmanusia. Penularan paling sering terjadi ketika seseorang menghirup debu yang terkontaminasi urine, feses, atau air liur tikus yang terinfeksi, misalnya saat membersihkan gudang, rumah kosong, atau area tertutup yang banyak jejak tikus.
Mengutip European Centre for Disease Prevention and Control (ECDC), ada jenis tertentu seperti hantavirus Andes yang dalam kasus langka dapat menular antarmanusia melalui kontak dekat berkepanjangan.
Gejala
Pada tahap awal, COVID-19 dan hantavirus memang bisa terlihat mirip karena sama-sama menimbulkan gejala seperti flu.
COVID-19 dapat menyebabkan demam, batuk, pilek, sakit tenggorokan, nyeri tubuh, hingga hilang penciuman. Gejalanya bisa ringan sampai berat tergantung kondisi tubuh dan infeksi yang terjadi.
Sementara itu, hantavirus biasanya dimulai dengan demam, lemas, nyeri otot, sakit kepala, menggigil, mual, muntah, hingga nyeri perut. Namun pada fase lanjut, hantavirus pulmonary syndrome (HPS) dapat berkembang menjadi sesak napas berat karena paru-paru terisi cairan dan berpotensi fatal.
Masa inkubasi
Gejala COVID-19 umumnya muncul lebih cepat setelah paparan. CDC menyebut gejala bisa muncul sekitar 2-14 hari setelah terinfeksi.
Sementara pada hantavirus, gejala dapat muncul lebih lambat, bahkan 1-8 minggu setelah seseorang terpapar lingkungan yang terkontaminasi tikus. Karena itu, pasien kadang tidak langsung menyadari bahwa gejala yang muncul berkaitan dengan aktivitas beberapa minggu sebelumnya.
Pencegahan
Karena pola penularannya berbeda, langkah pencegahan kedua penyakit ini juga berbeda. COVID-19 lebih difokuskan pada pencegahan penularan antarmanusia, seperti:
• Vaksinasi;
• Memakai masker pada situasi berisiko;
• Menjaga ventilasi;
• Mencuci tangan; dan
• Menghindari kontak dekat saat sakit.
Sementara itu, pencegahan hantavirus lebih fokus pada mengurangi paparan tikus dan lingkungannya. WHO menyarankan beberapa langkah seperti:
• Menutup celah masuk tikus;
• Menyimpan makanan dengan rapat;
• Membersihkan kotoran tikus dengan disinfektan;
• Memakai sarung tangan atau masker saat membersihkan area berisiko; dan
• Menghindari menyapu kering kotoran tikus agar debu tidak beterbangan.
(anm/tis) Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]

