Studi: Banyak Anak Muda Indonesia Pilih Self Diagnosis Saat Sakit
Internet kini bukan lagi sekadar tempat mencari hiburan atau informasi umum. Bagi banyak anak muda urban, internet telah menjadi 'dokter pertama' saat tubuh mulai menunjukkan gejala sakit.
Studi terbaru dari Health Collaborative Center (HCC) menemukan hampir 60 persen anak muda berusia di bawah 40 tahun memilih melakukan swadiagnosis atau self-diagnosis sebelum berkonsultasi ke dokter maupun fasilitas kesehatan.
Ketua Peneliti sekaligus Pendiri HCC, Ray Wagiu Basrowi, mengatakan fenomena tersebut kini menjadi bagian dari budaya kesehatan masyarakat urban modern. Mesin pencari berbasis AI, media sosial, hingga pengalaman orang lain di internet menjadi sumber utama pencarian jawaban atas keluhan kesehatan.
"Internet dianggap lebih praktis, lebih cepat, lebih murah, dan terasa lebih personal," ujar Ray mengutip Antara, Kamis (14/5).
Menurut dia, fenomena tersebut mencerminkan adanya system fatigue atau kelelahan sistemik di masyarakat urban. Banyak orang merasa datang ke fasilitas kesehatan membutuhkan waktu panjang, antrean melelahkan, biaya tambahan, hingga energi emosional yang tidak sedikit.
Penelitian HCC dilakukan pada Maret hingga Mei 2026 menggunakan pendekatan mixed-method. Studi ini melibatkan 448 responden urban dari sejumlah kota besar di Indonesia, seperti Jabodetabek, Bandung, Surabaya, Semarang, dan Yogyakarta.
Hasil penelitian menunjukkan Google dan mesin pencari berbasis AI menjadi sumber utama swadiagnosis. Setelah itu, masyarakat juga banyak mengandalkan situs kesehatan dan berbagai konten digital lainnya.
Keluhan kesehatan yang paling sering dicari berkaitan dengan gangguan pernapasan dan kardiovaskular, masalah pencernaan, hingga persoalan psikologis.
Fenomena ini juga berkaitan dengan istilah global cyberchondria, yakni kondisi meningkatnya kecemasan kesehatan akibat terlalu sering mencari informasi medis di internet.
Hal yang menjadi perhatian, sebanyak 36 persen responden mengaku langsung melakukan swamedikasi atau mengobati diri sendiri tanpa berkonsultasi ke dokter. Sementara 27 persen lainnya bahkan mengabaikan resep dokter karena merasa informasi di internet lebih sesuai dengan kondisi mereka.
Meski demikian, studi ini juga menemukan fakta menarik. Sebanyak 57 persen hasil swadiagnosis ternyata dikonfirmasi benar oleh dokter.
Menurut Ray, pengalaman 'merasa benar' tersebut membuat kepercayaan masyarakat terhadap swadiagnosis semakin kuat.
"Ketika seseorang merasa hasil pencarian internetnya beberapa kali terbukti benar, maka kepercayaan terhadap proses swadiagnosis akan meningkat. Ini bisa membentuk ilusi kompetensi medis semu di masyarakat," katanya.
Ia menegaskan bahwa hasil pencarian internet sebenarnya lebih tepat dianggap sebagai skrining awal atau identifikasi risiko penyakit, bukan diagnosis medis yang utuh.
Penelitian tersebut juga menunjukkan responden dengan riwayat penyakit kronis memiliki kemungkinan 2,5 kali lebih besar melakukan swadiagnosis dibanding kelompok lainnya.
Selain itu, lebih dari separuh responden merasa swadiagnosis lebih nyaman dibanding datang langsung ke fasilitas kesehatan karena dinilai lebih praktis, hemat biaya, dan tidak perlu antre.
HCC menilai kondisi ini menjadi sinyal penting bahwa sistem kesehatan modern kini bukan hanya menghadapi penyakit, tetapi juga banjir informasi digital yang terus memengaruhi keputusan masyarakat.
Ray mengatakan tantangan terbesar saat ini bukan melarang masyarakat mencari informasi kesehatan di internet. Sebab, hal itu dinilai hampir mustahil dilakukan di era digital dan kecerdasan buatan.
"Tantangannya adalah bagaimana negara, tenaga kesehatan, platform digital, dan institusi pendidikan membangun literasi kesehatan digital yang sehat dan bertanggung jawab," ujarnya.
Lihat Juga : |
HCC pun menilai peningkatan literasi kesehatan digital perlu menjadi agenda nasional baru, terutama di tengah perkembangan AI dan algoritma media sosial yang semakin memengaruhi keputusan kesehatan sehari-hari.
Meski kepercayaan terhadap dokter masih tergolong tinggi, penelitian ini menunjukkan masyarakat kini semakin menjadikan internet sebagai alat rekonfirmasi terhadap diagnosis dan terapi medis yang diberikan tenaga kesehatan.
(tis/tis)