Dialami Pria Tuban di Usia 20-an, Mi Instan Picu Gagal Ginjal Kronis?
Seorang pria asal Tuban, Jawa Timur, Edi Utomo viral usai membagikan kisahnya terkenal gagal ginjal kronis stadium 5 di usianya yang baru menginjak 20-an. Rutin konsumsi mi instan diduga jadi salah satu biang keroknya.
Edi bercerita dirinya didiagnosis gagal ginjal langsung stadium 5 pada 2019 lalu. Sejak saat itu, ia harus rutin menjalani cuci darah. Hingga saat ini, total sudah nyaris 700 kali cuci darah yang telah dijalaninya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mengutip detikhealth, gejala awalnya sendiri berupa tubuh yang mudah lelah dan tanda-tanda lain yang dikiranya mirip masuk angin. Ia juga sempat didiagnosis dokter dengan penyakit lambung.
Namun, karena kondisinya tak kunjung membaik, Edi melakukan pemeriksaan lebih lanjut hingga didiagnosis gagal ginjal stadium 5.
Gagal ginjal yang dialaminya, disebut Edi, disebabkan oleh tekanan darah tinggi. Menurutnya, kondisi ini terjadi akibat keseringan makan mi instan. Ia mengaku rutin mengonsumsi mi instan, bahkan bisa sampai lebih dari satu bungkus per hari.
"Aku kalau makan mi instan itu hampir setiap hari dan itu biasanya lebih dari satu. Itu terjadi selama aku masih kecil sampai gede," ujar Edi.
Mi instan picu gagal ginjal?
Meski enak, mi instan sebenarnya merupakan makanan yang diproses berlebihan. Proses panjang inilah yang membuat 'comfort food' banyak orang ini jadi tidak sehat.
Menukil laman National Kidney Foundation Amerika Serikat (AS), sebuah studi menemukan hubungan antara konsumsi makanan ultra-olahan dengan kerusakan ginjal.
Studi yang dipublikasikan dalam American Journal of Kidney Disease (AJKD) ini meneliti data lebih dari 14 ribu orang. Hasilnya, risiko penyakit ginjal kronis 24 persen lebih tinggi pada kelompok orang yang rutin mengonsumsi makanan ultra-olahan.
"Kami menemukan bahwa setiap tambahan porsi makanan ultra-olahan dikaitkan dengan risiko penyakit ginjal kronis yang 5 persen lebih tinggi," ujar salah satu penulis studi, Casey M Rebholz dari John Hopkins Bloomberg School of Public Health.
Ada banyak cara yang membuat mi instan bisa memicu gagal ginjal. Berikut beberapa caranya.
1. Natrium berlebih meningkatkan tekanan darah tinggi
Salah satu yang paling utama adalah kandungan natrium tinggi pada mi instan. Satu bungkus mi instan sering kali mengandung sebagian besar atau bahkan melebihi kebutuhan garam harian.
Mengutip laman Mayo Clinic, setiap orang dibatasi mendapatkan asupan natrium harian tak lebih dari 2.300 miligram (mg) atau sekitar 1 sendok teh (sdt).
Natrium bekerja dengan meningkatkan tekanan darah yang bisa berujung pada kerusakan ginjal. Mengutip American Heart Foundation (AHA), tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol dapat menyebabkan penyempitan arteri di sekitar ginjal. Akibatnya, ginjal tak dapat menerima oksigen dan nutrisi dengan baik untuk berfungsi optimal.
Selain itu, tekanan darah tinggi juga dapat menyebabkan jaringan parut pada ginjal. Kondisi ini dapat mengganggu kemampuan ginjal untuk menyaring darah dan mengatur cairan.
2. Kadar fosfor yang tinggi
Selain natrium, kandungan lain yang jadi permasalahan pada mi instan adalah fosfor. Banyak bumbu kemasan pada mi instan mengandung bahan tambahan fosfat untuk meningkatkan tekstur dan daya tahan.
Studi yang dipublikasikan dalam Journal of Clinical Biochemistry and Nutrition menemukan, kadar fosfor yang tinggi pada mi instan sangat berkaitan dengan penurunan fungsi ginjal hingga peningkatan risiko masalah kardiovaskular.
3. Mengandung pengawet
Hampir semua mi instan mengandung bahan pengawet. Dalam jangka panjang, konsumsi zat kimia seperti bahan pengawet bisa merusak ginjal.
Makan mi instan sebenarnya boleh-boleh saja. Makanan ini dianggap praktis dan sat-set di tengah minimnya waktu. Namun, biasakan untuk mengonsumsinya secara bijak.
Batasi makan mi instan maksimal atau tak lebih dari 1-2 kali dalam sepekan. Sebuah studi dari Harvard School of Public Health menemukan, konsumsi mi instan lebih dari dua kali dalam sepekan dapat meningkatkan risiko penyakit.
Untuk itu, jangan jadikan mi instan sebagai makanan utama. Tapi, cukup jadikan mi instan hanya sebagai variasi makanan yang tidak dikonsumsi terlalu sering atau setiap hari.
(asr) Add
as a preferred source on Google

