7 Ciri Orang Haus Validasi, Tak Bisa Lepas dari Pengakuan Orang Lain

CNN Indonesia
Sabtu, 20 Jun 2026 12:20 WIB
Ilustrasi. Ada beberapa ciri khas yang kerap ditunjukan oleh orang yang haus validasi. (iStockphoto/DragonImages)
Jakarta, CNN Indonesia --

Senang dipuji dan diapresiasi merupakan hal yang wajar. Hampir semua orang ingin merasa dihargai, diterima, dan diakui oleh lingkungan sekitarnya.

Namun, kebutuhan akan pengakuan bisa menjadi masalah ketika berubah menjadi ketergantungan. Seseorang merasa dirinya berharga hanya jika mendapat persetujuan atau pujian dari orang lain. Kondisi ini kerap disebut sebagai haus validasi.

Mengutip Vox, validasi pada dasarnya merupakan kebutuhan manusia yang normal. Masalah muncul ketika kebutuhan tersebut berkembang menjadi obsesi yang membuat seseorang terus-menerus mencari pengakuan demi merasa cukup dan berharga.

Berikut beberapa ciri orang yang haus validasi yang sering kali tidak disadari:

1. Terus mencari pujian

Orang yang haus validasi biasanya merasa lebih tenang setelah menerima pujian. Namun, rasa tenang itu sering kali hanya bertahan sementara.

Ketika tidak mendapatkan respons yang diharapkan, keraguan terhadap diri sendiri kembali muncul. Akibatnya, pujian terasa seperti 'bahan bakar' yang harus terus diperoleh agar bisa merasa cukup baik.

2. Rasa berharga bergantung pada respons orang lain

Konsep contingencies of self-worth menjelaskan bahwa harga diri seseorang dapat bertumpu pada faktor tertentu, termasuk persetujuan dari orang lain.

Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Personality and Social Psychology menyebut bahwa salah satu sumber harga diri adalah approval from others. Pada sebagian orang, rasa berharga muncul hanya ketika mereka memperoleh pengakuan. Saat pengakuan itu tidak ada, kepercayaan diri pun ikut goyah.

3. Sering meminta diyakinkan berulang kali

Ciri lain yang cukup umum adalah kebiasaan mencari kepastian secara terus-menerus. Misalnya, berulang kali bertanya apakah dirinya sudah melakukan hal yang benar, masih disukai, atau cukup baik.

Sesekali meminta kepastian tentu merupakan hal yang normal. Namun, jika dilakukan terus-menerus hingga membuat hubungan terasa melelahkan, hal itu bisa menjadi tanda ketergantungan pada validasi dari orang lain.

4. Suasana hati mudah dipengaruhi likes dan komentar

Di era media sosial, haus validasi sering terlihat dari suasana hati yang sangat dipengaruhi oleh angka.

Jumlah likes, komentar, views, atau siapa saja yang melihat unggahan dapat terasa sangat menentukan nilai diri seseorang. Ketika respons yang diterima tidak sesuai harapan, suasana hati pun ikut menurun.

Penelitian dalam Journal of Experimental Social Psychology menemukan bahwa orang yang memiliki tujuan hidup lebih kuat cenderung tidak terlalu bergantung pada jumlah likes untuk merasa baik tentang dirinya sendiri.

5. Sering membandingkan diri dengan orang lain

Haus validasi tidak selalu muncul dalam bentuk keinginan untuk dipuji. Seseorang juga bisa terus membandingkan respons yang diterimanya dengan orang lain.

Ia merasa gelisah ketika perhatian, jumlah likes, atau komentar yang diterima terlihat lebih sedikit dibandingkan orang lain. Kebiasaan ini dapat memicu rasa iri, tidak puas, dan menurunkan kepercayaan diri.

6. Sulit mengambil keputusan sendiri

Orang yang terlalu bergantung pada validasi sering kesulitan membuat keputusan tanpa persetujuan orang lain. Bukan sekadar meminta saran, mereka merasa tidak tenang sebelum ada yang membenarkan pilihannya.

Kondisi ini bisa terlihat dalam hal-hal sederhana, seperti memilih pakaian, mengunggah foto, atau membeli barang, hingga keputusan besar yang berkaitan dengan masa depan. Akibatnya, suara dan penilaian orang lain terasa lebih dominan dibandingkan keyakinan diri sendiri.

7. Terlalu takut dikritik

Bagi orang yang sangat membutuhkan validasi, kritik kecil bisa terasa sangat menyakitkan. Mereka tidak hanya merasa dikoreksi, tetapi juga merasa ditolak secara pribadi.

Studi dalam International Journal of Psychology menunjukkan bahwa kebutuhan tinggi akan persetujuan dari orang lain berkaitan dengan harga diri yang rendah serta tingkat neurotisisme yang lebih tinggi, yaitu kecenderungan mudah cemas dan sensitif secara emosional.

Dalam kehidupan sehari-hari, kondisi ini dapat terlihat dari sikap yang mudah tersinggung, defensif, atau langsung merasa gagal ketika menerima masukan dari orang lain.

(anm/tis)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK