Jakarta, CNN Indonesia -- Setiap anak memiliki cara berbeda dalam mengekspresikan emosi, mulai dari menangis, marah, diam, hingga menunjukkan perubahan perilaku. Lalu, bagaimana memvalidasi perasaan anak? Simak penjelasannya di sini.
Validasi emosi bukan berarti selalu menyetujui semua tindakan atau pendapat anak, melainkan menunjukkan bahwa perasaan mereka dapat dipahami dan diterima. Ketika anak merasa didengar, hubungan antara orang tua dan anak dapat menjadi lebih dekat serta penuh kepercayaan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebaliknya, respons yang mengabaikan emosi anak dapat membuat mereka merasa tidak dipahami. Dengan mempelajari cara memvalidasi perasaan anak, orang tua dapat membantu anak mengenali, mengelola, dan mengekspresikan emosinya dengan lebih sehat.
Bagaimana memvalidasi perasaan anak?
Dikutip dari laman Rady Children's Health, berikut bagaimana cara memvalidasi perasaan anak agar merasa dipahami.
1. Dengarkan anak dengan penuh perhatian
Langkah pertama untuk memvalidasi perasaan anak adalah menjadi pendengar yang aktif. Saat anak mulai bercerita, luangkan waktu untuk benar-benar hadir dalam percakapan tanpa terganggu oleh hal lain.
Orang tua dapat menunjukkan perhatian melalui kontak mata, mengangguk sebagai tanda memahami, serta menghindari penggunaan ponsel atau aktivitas lain selama anak berbicara.
Selain itu, gunakan pertanyaan terbuka agar anak merasa lebih nyaman menjelaskan perasaannya.
Contohnya, orang tua dapat bertanya, "Apa yang terjadi hari ini?" atau "Bagaimana perasaan kamu saat mengalami hal tersebut?". Pertanyaan sederhana ini membantu anak merasa bahwa ceritanya penting untuk didengarkan.
2. Perhatikan reaksi dan respons diri sendiri
Terkadang, ketika melihat anak mengalami masalah, orang tua secara spontan ingin segera memberikan solusi. Namun, anak sering kali tidak selalu membutuhkan nasihat. Mereka mungkin hanya ingin didengarkan dan mendapatkan dukungan emosional.
Orang tua perlu menyadari reaksi yang muncul ketika mendengar keluhan anak. Hindari respons seperti mengabaikan perasaan anak, memberikan candaan untuk mengalihkan suasana, atau langsung mengatakan 'jangan khawatir' tanpa memahami masalahnya terlebih dahulu.
Kalimat seperti 'semuanya akan baik-baik saja' memang bermaksud menenangkan, tetapi terkadang dapat membuat anak merasa bahwa emosinya tidak dianggap serius.
3. Coba pahami perasaan yang tersembunyi
Anak terkadang belum mampu menjelaskan emosinya dengan jelas. Mereka mungkin hanya mengatakan bahwa sesuatu 'menyebalkan' atau 'tidak adil', padahal di baliknya terdapat perasaan lain seperti sedih, kecewa, takut, marah, atau kewalahan.
Orang tua perlu mencoba membaca situasi dan memahami emosi yang mungkin sedang dirasakan anak. Misalnya, ketika anak mengatakan dirinya tidak memiliki teman di sekolah, kemungkinan ia sedang merasa kesepian, sedih, atau tidak percaya diri.
Dengan memahami emosi yang lebih dalam membantu orang tua memberikan respons yang lebih tepat.
Simak bagaimana cara memvalidasi perasaan anak lainnya di halaman berikutnya..
Bagaimana Cara Memvalidasi Perasaan Anak?
Ilustrasi. Banyak orang tua yang belum tahu bagaimana cara memvalidasi perasaan anak. (Istockphoto/ Fizkes)
4. Tunjukkan bahwa perasaan anak valid
Setelah memahami emosi anak, langkah berikutnya adalah mencerminkan kembali perasaan tersebut tanpa memberikan penilaian. Tujuannya bukan untuk membenarkan semua tindakan anak, tetapi menunjukkan bahwa orang tua memahami sudut pandangnya.
Beberapa contoh kalimat validasi yang dapat digunakan antara lain:
- "Kedengarannya kamu sedang mengalami hari yang sulit."
- "Wajar kalau kamu merasa kecewa dengan situasi itu."
- "Aku bisa memahami kenapa kamu merasa sedih."
Kalimat tersebut membuat anak merasa diterima dan tidak perlu menyembunyikan emosinya.
5. Lihat situasi dari sudut pandang anak
Setiap anak memiliki pengalaman, karakter, dan cara berpikir yang berbeda. Orang tua tidak harus selalu setuju dengan pemikiran anak untuk dapat memahami perasaannya.
Cobalah melihat situasi berdasarkan pengalaman anak. Hal yang terlihat sederhana bagi orang dewasa bisa menjadi masalah besar bagi anak karena mereka masih belajar memahami dunia dan mengelola emosi.
Dengan mengambil perspektif anak, orang tua dapat membangun empati dan mengurangi kemungkinan terjadinya konflik.
6. Tunjukkan bahwa perasaan anak diperhatikan
Langkah terakhir adalah menunjukkan dukungan melalui perkataan dan tindakan. Setelah mendengarkan cerita anak, tanyakan apa yang mereka butuhkan.
Orang tua dapat bertanya, "Apa yang bisa Mama/Papa lakukan untuk membantu?" atau "Kamu ingin didengarkan saja atau ingin mencari solusi bersama?".
Bentuk dukungan setiap anak juga berbeda. Ada anak yang merasa nyaman dengan pelukan, ada yang lebih menghargai waktu bersama, atau sekadar mendapatkan perhatian kecil seperti catatan penyemangat dari orang tua.
Nah, itulah cara bagaimana memvalidasi perasaan anak yang perlu diketahui orang tua. Perlu diingat bahwa memvalidasi emosi anak membutuhkan proses dan latihan.
Orang tua tidak harus selalu memberikan respons yang sempurna, tetapi berusaha untuk mendengarkan, memahami, dan menunjukkan kepedulian sudah menjadi langkah penting dalam membangun hubungan yang lebih kuat dengan anak.