Kesepian dan Depresi Lansia, Tantangan RI saat Populasi Kian Menua

rti | CNN Indonesia
Kamis, 25 Jun 2026 09:00 WIB
Indonesia memasuki fase aging population. Adapun kesepian dan depresi pada lansia menjadi tantangan yang harus dijawab.
Ilustrasi. Indonesia memasuki fase aging population dengan penduduk lansia mencapai 11,97 persen. Adapun kesepian dan depresi lansia menjadi tantangan yang harus dijawab. (iStock/amenic181)

Kesendirian tak sama dengan kesepian

Seperti yang disebutkan sebelumnya, lansia yang tinggal sendiri menjadi salah satu faktor penyebab depresi. Namun, ini bukan berarti lansia yang tinggal bersama keluarga tidak mengalami kesepian sama sekali.

"Miskonsepsi yang sering terjadi adalah menyamakan kesepian dengan sendirian. Kesepian sifatnya subjektif, yaitu gap antara kedekatan yang seseorang butuhkan dan kedekatan yang benar-benar ia rasakan," tutur Arnold.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Inilah mengapa seorang lansia yang tinggal di rumah bersama anak cucu bisa tetap merasa kesepian. Terlebih jika interaksi dengan keluarga terasa dangkal atau ia merasa dianggap sebagai beban di rumah.

"Di Indonesia, hal ini sering luput karena kita berasumsi tinggal bersama keluarga otomatis membuat lansia lebih aman atau terlindungi. Padahal, ditemani secara fisik dan terhubung secara emosional adalah dua hal yang berbeda," kata Arnold.

Penyebab kesepian dan depresi pada lansia sendiri bersifat multifaktor. Arnold mengatakan, penyebabnya bisa karena kehilangan beruntun, misalnya pasangan, saudara, dan teman sebaya yang meninggal satu per satu.

Bisa pula karena lansia kehilangan peran dan tujuan hidup setelah pensiun atau anak-anaknya mulai mandiri. Kesepian dan depresi juga bisa diperparah dengan menurunnya kondisi fisik.

Lansia cenderung mengalami penurunan kesehatan, mobilitas, hingga gangguan pendengaran dan penglihatan yang bisa membuat mereka makin menarik diri dari kehidupan sosial.

Arnold pun menyebut, ada beberapa kelompok lansia yang secara umum paling rentan mengalami kesepian dan depresi.

"Lansia yang baru ditinggal pasangan, yang tinggal sendiri, yang punya penyakit kronis atau keterbatasan gerak, dan yang merasa dirinya tidak lagi berguna dan menjadi tanggungan. Di banyak daerah, kerentanan ini bertambah pada [lansia] yang ditinggal anak-anaknya merantau ke kota besar," tutur Arnold.

Pentingnya memberikan sense of purpose pada lansia

Retired couple walking around the town with a map. Smiling mature man and woman roaming around the city.Ilustrasi lansia. (Istockphoto/jacoblund)

Lansia perlu didukung untuk menghindari kesepian dan depresi. Misalnya, menciptakan berbagai kegiatan yang bisa dilakukan lansia seperti menekuni hobi berkebun, bertani, atau aktivitas ringan lainnya.

Arnold tak menampik kebutuhan aktivitas untuk lansia seperti yang disebutkan di atas. Hanya saja, ia mengingatkan, setiap kegiatan harus memberikan rasa berdaya dan rasa yang dibutuhkan lansia.

Lansia, lanjut Arnold, bisa bertahan dan semangat saat mereka punya sesuatu untuk diurus dan ada keputusan yang bisa diambil. Jangan juga menempatkan lansia menjadi pihak yang harus diurus.

Itulah mengapa, keluarga ataupun pengasuh lansia perlu menghindari ucapan seperti, 'bapak/ibu istirahat saja, biar kami yang urus'. Kata-kata seperti ini sering kali diucapkan sebagai bentuk hormat dan kasih sayang.

"Padahal secara psikologis, itu bisa memicu apa yang Martin Seligman, Bapak Psikologi Positif, sebut sebagai learned helplessness atau ketidakberdayaan yang dipelajari. Saat pilihan dan peran 'dicabut' dari seseorang, semangat hidupnya pun ikut padam," ujar Arnold.

Oleh karena itu, Arnold menyarankan aktivitas yang diciptakan untuk lansia perlu memiliki sense of purpose alias tujuan. Setiap komunitas lansia harus bisa berkontribusi, bukan sekadar jadi tempat berkumpul.

(asr) Add as a preferred
source on Google

HALAMAN:
1 2