Cara Menumbuhkan Rasa Welas Asih Anak di Tengah Dunia yang Kian Rapuh

CNN Indonesia
Senin, 20 Jul 2026 12:15 WIB
Cara membesarkan anak yang punya welas asih.
Ilustrasi. Membesarkan anak yang memiliki welas asih jadi prioritas orang tua di tengah dunia yang kian mengancam. (iStock/MaximFesenko)

3. Ceritakan masalah dunia tanpa membuat mereka takut

Anak bisa menyerap sedikit informasi tentang konflik, kekerasan, dan bencana melalui banyak medium. Baik itu teman sekelas, televisi, atau percakapan orang dewasa yang tak sengaja terdengar.

Alih-alih membiarkan anak mengisi kekosongan informasi dengan rasa takut, orang tua didorong berperan aktif membantu mereka memahahi peristiwa dunia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Anak-anak sering kali memahami lebih banyak daripada yang kita sadari. Ambil inisiatif dan jelaskan dengan cara sesuai usia soal apa yang terjadi di tempat-tempat seperti Ukraina, Gaza, dan zona krisis lainnya," ujar tim komunikasi UNHCR Andrea Mucino-Sanchez.

Berikan penjelasan singkat dan berfokus pada hal-hal yang paling penting seperti keselamatan, keadilan, dan relawan yang bekerja untuk menolong serta melindungi orang-orang.

"Misalnya, 'beberapa keluarga terpaksa meninggalkan rumah karena tidak aman, tapi orang-orang di seluruh dunia membantu mereka'," tambah Mucino-Sanchez mencontohkan.

Saat mendapatkan informasi tersebut, anak akan merasa lebih aman dan terhubung dengan pengalaman dunia.

4. Akui keistimewaan yang dimiliki anak

Buat anak memahami ketidaksetaraan. Sampaikan bahwa dia termasuk anak yang beruntung karena bisa tumbuh dengan damai.

Hal tersebut bukan berarti membuat mereka merasa bersalah, tapi membantu mereka memperhatikan kondisi yang tidak semua anak bisa alami. Harapannya, anak bisa menggunakan kesadaran akan 'keistimewaan' yang dimilikinya untuk menumbuhkan rasa syukur.

"Bantu anak memahami bahwa tumbuh dalam kedamaian dan keamanan adalah sesuatu yang tidak dimiliki banyak anak. Dorong mereka untuk merasa bersyukur," ujar Mucino-Sanchez.

5. Ciptakan ruang percakapan yang rutin

Empati tidak dibangun melalui tindakan besar, melainkan tumbuh dalam ritme sederhana kehidupan keluarga sehari-hari.

"Prioritaskan waktu bersama, sepert makan malam keluarga, untuk pelan-pelan membicarakan apa yang terjadi di dunia," ujar Mucino-Sanchez.

Rutinitas yang konsisten membantu anak merasa aman dan nyaman. Beri mereka kesempatan untuk mengajukan pertanyaan besar dan kekhawatiran kecil. Anak mungkin saja bertanya mengapa seseorang di berita menangis.

Saat percakapan seperti itu terjadi secara teratur, anak akan belajar bahwa pikiran mereka penting. Mereka juga akan sadar bahwa orang tua adalah penuntun yang aman saat dunia terasa membingungkan.

6. Dorong anak untuk bertindak

Perbuatan baik memperkuat rasa keterhubungan anak.

"Memberi, berbuat baik, dan peduli pada orang lain meningkatkan rasa percaya diri dan dapat memberi anak rasa tujuan hidup," ujar Laino.

Coba ajak anak untuk membuat kartu ucapan buat tetangga yang sedang kesulitan. Ajak juga anak untuk memilih mainan, buku, atau pakaian untuk disumbangkan.

Orang tua punya peran penting dalam membimbing anak di tengah dunia yang semakin gonjang-ganjing. Cara-cara di atas bisa membantu menumbuhkan rasa welas asih anak terhadap sesama.

(asr) Add as a preferred
source on Google

HALAMAN:
1 2