Mayoritas Warga Jepang Tak Ingin Hidup Sampai 100 Tahun, Ini Alasannya
Masalah finansial ikut menghantui
Tak sedikit pula yang memikirkan soal biaya hidup di usia lanjut. Sekitar 36,7 persen responden mengaku khawatir kondisi keuangan mereka tidak akan cukup jika harus menjalani hidup hingga usia yang sangat tua.
Kekhawatiran ini muncul di tengah perubahan demografi Jepang yang semakin menua. Jumlah penduduk lansia terus bertambah, sementara populasi usia produktif justru menyusut.
Kondisi tersebut membuat isu jaminan sosial, biaya kesehatan, dan dana pensiun menjadi perhatian besar bagi masyarakat Jepang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mayoritas pria ingin meninggal lebih dulu daripada pasangan
Survei tersebut juga mengungkap pandangan menarik soal kehidupan bersama pasangan. Lebih dari 60 persen pria di semua kelompok usia mengaku ingin meninggal lebih dulu dibanding pasangan mereka. Pada kelompok pria berusia di atas 50 tahun, angkanya bahkan mendekati 80 persen.
Alasan utamanya adalah tidak sanggup menghadapi kesedihan akibat kehilangan pasangan. Pilihan ini dipilih oleh 58,6 persen responden. Sebaliknya, banyak perempuan justru berharap hidup lebih lama dibanding pasangan mereka.
Sebagian besar mengatakan mereka khawatir terhadap kehidupan pasangan jika ditinggalkan terlebih dahulu.
Sebanyak 48,1 persen lainnya ingin terus mendampingi dan merawat pasangan hingga akhir hayat.
Meski mayoritas responden tidak ingin hidup sampai 100 tahun, sebagian lainnya memiliki pandangan berbeda. Sebanyak 68,2 persen dari kelompok yang ingin hidup panjang mengatakan mereka ingin menikmati hidup selama mungkin. Sementara itu, 38,6 persen lainnya berharap dapat melihat anak dan cucu mereka tumbuh dewasa.
Survei ini muncul di tengah tantangan demografi yang dihadapi Jepang. Selain memiliki populasi lansia yang terus meningkat, Jepang juga mengalami penurunan angka kelahiran selama bertahun-tahun.
Perdana Menteri Jepang saat itu, Fumio Kishida, bahkan menyebut rendahnya angka kelahiran dan meningkatnya populasi lansia sebagai ancaman serius bagi masa depan negaranya.
"Jepang berada di ambang apakah kita masih dapat terus berfungsi sebagai sebuah masyarakat," kata Kishida.
Data Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang menunjukkan jumlah kelahiran pada 2025 hanya mencapai 671.236 bayi, turun hampir 15 ribu dibandingkan tahun sebelumnya. Angka tersebut menjadi rekor terendah selama 10 tahun berturut-turut.
Sementara itu, tingkat kesuburan total Jepang turun menjadi 1,14 anak per perempuan, jauh di bawah angka pengganti populasi sebesar 2,1. Kondisi ini membuat Jepang menghadapi tantangan besar, jumlah penduduk usia lanjut terus bertambah, sementara generasi muda dan angka kelahiran terus menyusut.
(anm/fef) Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]