Saat Anak Jadi Wajah Endorse, di Mana Batas Etisnya?
Kapan konten anak berubah menjadi eksploitasi?
Meski platform mulai dibebani tanggung jawab yang lebih besar, perdebatan tak berhenti di sana. Persoalan berikutnya muncul ketika kehadiran anak di media sosial mulai atau mendatangkan keuntungan.
"Begitu sudah ada keuntungan yang ditarik, jadi monetisasi dari konten yang isinya anak, menghasilkan uang, itu sudah eksploitasi ekonomi," ujarnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Risikonya, kata Ciput, jauh melampaui persoalan uang. Foto anak dapat dicuri untuk kepentingan komersial tanpa izin. Informasi pribadi yang tampak sepele, seperti lokasi rumah, sekolah, atau kebiasaan sehari-hari, juga dapat dimanfaatkan pihak yang berniat buruk.
"Itu adalah para pedofil yang memanfaatkan konten-konten anak ini untuk kepuasan seksual mereka. Karena itulah pintu untuk grooming ke anak-anak ini. Dampaknya panjang, bisa sampai eksploitasi seksual dan ekonomi," jelasnya.
Pandangan senada disampaikan Mantan Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Titik Haryati. Ia menilai, dalam banyak kasus, orang tua justru menjadi pihak yang tanpa sadar membuka pintu eksploitasi terhadap anaknya sendiri.
"Orang tua itu sering memperlihatkan anak sendiri dalam suatu konten-konten. Dengan konten ini, dengan urusan mendapatkan uang endorsement, kemudian mendapatkan sponsor, sehingga akan diulang kembali," kata Titik kepada CNNIndonesia.com, Jumat (18/7).
Ia mencontohkan fenomena anak-anak usia balita yang sudah dilibatkan untuk mempromosikan produk perawatan kulit.
"Anak yang usianya masih di bawah, katakan lima tahun pun sudah menggunakan skincare, itu adalah suatu kesalahan yang besar sekali. Itu sudah melanggar yang namanya Undang-Undang Perlindungan Anak," ujarnya.
Bagi Titik, persoalannya bukan sekadar anak tampil di media sosial, melainkan ketika kehidupan anak terus-menerus dipertontonkan demi memperoleh keuntungan.
"Nah, yang paling parah lagi adalah dalam media sosial, itu seperti ada eksploitasi pada anak. Eksploitasi pada anak dari segi sosialnya, media sosialnya, dari segi ekonominya, itu malah dikomersialkan sekarang ini melalui TikTok, melalui Instagram," katanya.
Wanita yang juga aktif sebagai pemerhati anak itu menilai setiap foto, video, hingga aktivitas keseharian anak yang dijadikan konten komersial berpotensi menggerus hak-hak dasar anak, mulai dari hak atas privasi, keamanan, hingga tumbuh kembang yang sehat.
"Privasi anak itu harus dijaga. Harus dilindungi. Siapa yang melindungi? Yang melindungi adalah orang tua," tegasnya.
Etis atau tidak, apa batasnya?
Sementara itu, Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Aris Adi Leksono berpandangan yang menjadi ukuran eksploitasi adalah apakah kepentingan terbaik anak tetap menjadi prioritas.
"Ketika orang tua melibatkan anak, terutama ketika mengekspos di media sosial, ini harus memperhatikan prinsip-prinsip dasar perlindungan anak," kata Aris.
Ia menekankan bahwa orang tua tidak bisa beranggapan bahwa karena anak adalah miliknya maka mereka bebas melakukan apa saja terhadap anak, termasuk menjadikannya bagian dari aktivitas komersial.
"Bukan serta-merta sebagai orang tua, terus karena itu anaknya sendiri, maka bebas untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang nanti bisa berpotensi menjadi bentuk eksploitasi," ujarnya.
Aris menegaskan bahwa etis atau tidaknya konten yang melibatkan anak tidak bisa dilihat hanya dari ada atau tidaknya endorsement maupun bayaran. Yang menjadi ukurannya adalah substansi konten dan dampaknya terhadap anak.
"Etis dan tidak itu tergantung pada substansi konten. Kalau kontennya sampai mengganggu privasi anak, berdampak pada data pribadinya, situasi tempat tinggalnya, sehingga mengancam keselamatan anak, itu tidak etis," tutur Aris.
Hal yang sama juga berlaku apabila konten tersebut merendahkan martabat anak atau mengabaikan hak-hak dasarnya.
"Kalau berdampak pada harga martabat anak, itu juga tidak etis dan tidak diperbolehkan," paparnya.
Karena itu, batasnya dapat dilihat dari sejumlah indikator, mulai dari apakah privasi anak tetap terlindungi, martabatnya dihormati, hak bermain, belajar, dan beristirahat tetap terpenuhi, hingga apakah anak dipaksa atau dilibatkan dalam konten yang tidak sesuai dengan usia maupun tahap perkembangannya.
"Kalau hak-hak itu dilanggar, ya bisa berpotensi menjadi eksploitasi," tambahnya.
Pertanyaan tentang etis atau tidaknya anak menerima endorsement mungkin memang tidak memiliki jawaban hitam atau putih. Persoalannya bukan semata-mata apakah seorang anak dibayar atau tidak, melainkan apakah seluruh proses itu benar-benar menempatkan kepentingan terbaik anak di atas kepentingan konten, popularitas, dan keuntungan ekonomi.
Sebab, setiap unggahan mungkin hanya berdurasi beberapa detik. Akan tetapi, jejak digital yang ditinggalkannya bisa bertahan jauh lebih lama, bahkan mungkin seumur hidup anak itu sendiri.
(fef/asr) Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]

