HARI ANAK NASIONAL

Perilaku Anak Bisa Dibentuk Algoritma, Bagaimana Cara Mencegahnya?

Rhea Febriani Tritami | CNN Indonesia
Kamis, 23 Jul 2026 11:15 WIB
Algoritma platform digital bisa membentuk emosi dan perilaku anak. Namun keterikatan yang erat dengan orang tua bisa mencegah hal itu terjadi.
Ilustrasi. Algoritma platform digital diam-diam bisa membentuk emosi dan perilaku anak. Namun keterikatan yang erat dengan orang tua bisa mencegah hal itu terjadi. (Istockphoto/ljubaphoto)

Association Professor sekaligus Pengajar di Fakultas Pendidikan Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), Charyna Ayu mengatakan, algoritma platform digital memang berpotensi memberikan dampak buruk pada perilaku dan kesejahteraan mental anak. Namun, hal ini tetap harus dilihat sebagai isu multifaktor.

Setiap individu memiliki kerentanan emosi dan tipe kepribadian masing-masing. Semua hal itu berpengaruh terhadap kecenderungan perilaku dan kesehatan mentalnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Dan lagi-lagi, bagaimana dukungan dan attachment sama keluarganya. Kalau misalnya memang dia merasakan kedekatan dengan keluarga sangat baik, artinya hal-hal seperti ini [konten platform digital] bisa didiskusikan dulu," tutur Charyna kepada CNNIndonesia.comdi kampus UIII, Depok, Selasa (7/7).

Namun, alih-alih menyaring tontonan anak di platform digital,Charyna berpendapat, yang lebih dibutuhkan adalah kehadiran orang tua. Menurutnya, orang tua sebagai sosok terdekat perlu lebih jeli melihat terpenuhi atau tidaknya kebutuhan dasar anak.

"Karena kalau kebutuhan dasarnya saja tidak bisa terpenuhi, mereka akan mencoba untuk memenuhi dengan cara lain, untuk memenuhi kesenangan mata mereka, kesenangan hati mereka," ujar Charyna.

Kebutuhan di sini, bukan berarti segala sesuatu yang diberikan kepada anak harus serba mewah. Salah satu yang paling sederhana adalah kebutuhan akan kehadiran orang tua yang selalu membuat mereka lebih nyaman.

Kehadiran orang tua dan waktu berkumpul keluarga menjadi kunci untuk memastikan pembentukan karakter, emosi, hingga perilaku anak memang berasal dari didikan orang tua, bukan dari algoritma platform digital.

Dunia maya sudah menjadi bagian dari keseharian manusia. Anak pun tak bisa dihindarkan dari paparan konten, sekalipun orang tua melarang total penggunaan gawai di rumah.

"Kalau akses pornografi dan lain-lain, kan [bisa saja] dia enggak lihat di rumah. Dia bisa lihat di sekolah sama teman-temannya. Nah, sekarang masalahnya, bagaimana kita bisa menciptakan mindset bahwa jangan sampai dia tertarik sama sesuatu yang belum waktunya," tutur Charyna.

Yang harus dilatih oleh orang tua, yaitu bagaimana menumbuhkan kompas moral pada anak. Ini merupakan sistem nilai batin yang memandu anak dalam membedakan hal 'baik' dan 'buruk' serta mengarahkan keputusan moral mereka. Untuk ini, dibutuhkan ekosistem empati untuk melatih kompas moral anak.

"Bukan tentang bahwa dia harus jujur, bukan tentang bahwa dia harus bisa menghargai orang lain, bukan di situ. Karena sekali empati itu jalan, kejujuran, rasa toleransi, rasa menghargai, itu akan jalan," tutur Charyna.

Empati sendiri, lanjut Charyna, dimiliki manusia sejak lahir. Misalnya, bayi yang ikut menangis saat mendengar bayi lain menangis. Contoh ini dianggap sebagai empati afektif atau kemampuan dasar untuk beresonansi dengan perasaan orang lain.

"Ada satu lagi yang disebut empati kognitif, kemampuan dia untuk memahami perspektif orang lain. Nah, empati kognitif ini harus ada pendidikan dari orang tua," ucap Charyna.

Berangkat dari sini, Charyna mengungkapkan, setidaknya dibutuhkan tiga hal dari orang tua agar bisa mendampingi perkembangan anak di era digital. Pertama, menciptakan ekosistem empati sehingga interaksi orang tua dan anak berada dalam suatu zona yang nyaman.

Misalnya, ketimbang menginterogasi anak tentang tontonan dan akses digitalnya, biarkan anak menceritakan secara bebas tentang konten yang ia lihat atau tonton. Jika konten tersebut mengkhawatirkan, orang tua bisa meminta anak untuk tak lagi mengonsumsi konten semacam itu disertai argumen yang kuat.

Ketika orang tua menyampaikan permintaan dalam situasi yang membuat anak merasa nyaman, mereka pasti tak keberatan melakukan hal yang diminta. Anak bisa lebih berempati dalam situasi seperti ini.

"Kuncinya, anak merasakan bahwa orang tuanya itu memahami dia. Kemudian orang tua juga yakin bahwa anak bisa merasakan kekhawatiran yang orang tua rasakan, jadi dua arah," kata Charyna.

Kedua, orang tua perlu menjadi role model. Selanjutnya, orang tua juga perlu menetapkan zona atau waktu yang memang tidak mengizinkan adanya gawai. Tujuannya, agar bisa mempererat hubungan keluarga. Misalnya, lewat makan malam bersama tanpa distraksi apa pun.

"Jadi, makan malam itu memang ditujukan sebagai suatu aktivitas yang saya katakan 'by design.' Di sini anggota keluarga itu memang tujuannya untuk buat release saja. Makan bareng, ketawa, meskipun enggak ngobrol hal yang penting," tutur Charyna.

Hal-hal sederhana seperti makan malam tanpa distraksi bisa ikut berkontribusi dalam perkembangan anak di era digital. Ikatan yang kuat antara orang tua dan anak bisa menjadi 'tameng' terdepan untuk mencegah efek buruk paparan platform digital terhadap perkembangan si kecil.

(rti/asr) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]

HALAMAN:
1 2