8 Tahun Mencari Pengrajin, LAKON Tutup JF3 2026 lewat 'HARSA'
Delapan tahun bukan waktu yang singkat untuk menemukan pengrajin yang mampu menerjemahkan gagasan menjadi sebuah karya.
Proses panjang itu menjadi napas koleksi terbaru LAKON Indonesia bertajuk HARSA, yang menutup JF3 Fashion Festival 2026 di Summarecon Mall Kelapa Gading, Jakarta, Rabu (29/7).
Pendiri LAKON Indonesia, Thresia Mareta menjelaskan, HARSA lahir sebagai perayaan atas perjalanan kreatif sekaligus penghormatan kepada para pengrajin yang berada di balik setiap karya.
"Presentasi kali ini penting untuk LAKON Indonesia. HARSA adalah tentang proses, karya, dan semua orang yang terlibat di dalamnya," ujar Thresia, dalam konferensi pers sebelum peragaan busana.
Presentasi penutup JF3 tahun ini juga menghadirkan sentuhan berbeda melalui kerja sama dengan euneun, brand tas asal Korea Selatan milik aktris sekaligus anggota grup K-pop T-ara, Hahm Eun-jung.
Delapan tahun bereksperimen dengan batik
Di balik HARSA, Thresia menyimpan cerita yang jauh lebih panjang dibanding proses merancang koleksi musiman.
Ia mengatakan, LAKON memiliki Teras Lakon, ruang yang diibaratkan sebagai laboratorium untuk meneliti sekaligus mengembangkan teknik kriya tradisional Indonesia.
"Di Teras Lakon kami bekerjanya seperti laboratorium. Kami mengumpulkan bukan hanya kain tua, tetapi juga kebaya, wayang, dan berbagai arsip budaya. Dari situ kami mempelajari bagaimana teknik-teknik lama itu dibuat," paparnya.
Eksperimen tersebut, lanjut Thresia, tidak berhenti pada tahap riset. Bersama para pengrajin, LAKON terus mencoba menghidupkan kembali keterampilan yang mulai ditinggalkan.
"Kadang saya membawa kain-kain koleksi saya ke pengrajin dan bertanya, 'Bisa bikin seperti ini?' Jawabannya sering kali tidak bisa. Padahal dulu nenek saya bisa. Berarti ada keterampilan yang hilang dan itu yang kami coba bangun kembali," tuturnya.
Baginya, meningkatkan kemampuan pengrajin bukan berarti membuat mereka bekerja lebih cepat atau memproduksi lebih banyak.
"Yang kami lakukan adalah membantu mereka level up. Kalau keterampilannya bertambah, kesempatan mereka juga semakin luas. Mereka bisa menerima lebih banyak jenis pekerjaan dengan kualitas yang lebih baik," kata Theresia.
Selain kemampuan teknis, profesionalisme juga menjadi tantangan yang tak kalah penting.
"Konsistensi itu sering kali menjadi tantangan. Bukan hanya bisa membuatnya, tetapi apakah hasilnya konsisten, apakah bisa selesai tepat waktu. Itu juga bagian dari kualitas," lanjut Thresia.
Bukan sekadar membawa tas Korea ke runway
Di atas panggung HARSA, busana LAKON juga dipadukan dengan tas dari euneun.
Meski berasal dari dua negara berbeda, Thresia menegaskan kerja sama tersebut dibangun bukan sekadar menghadirkan kolaborasi lintas negara.
"Kami bukan sekadar membawa tas mereka ke runway. Mereka membuat warna khusus mengikuti konsep koleksi kami. Jadi benar-benar bekerja bersama," jelasnya.
Ia mengakui, proses diskusi dengan tim Korea berlangsung cukup panjang karena masing-masing memiliki sudut pandang berbeda.
"Kalau saya datang dari sisi fesyen dan brand, sementara mereka lebih banyak dari industri kreatif dan IP. Tantangannya memang menyatukan cara pandang, tapi yang penting kami sama-sama percaya hasil akhirnya harus bagus," tambah Thresia.
Pendiri euneun, Hahm Eun-jung mengatakan, Indonesia menjadi negara pertama yang dipilih untuk memperkenalkan brand tersebut di luar Korea Selatan.
Ia menjelaskan, nama euneun berasal dari bahasa Korea yang menggambarkan aura atau energi yang terpancar dari seseorang. Hahm mengibaratkannya seperti aroma parfum yang menyebar di udara.
"Semua orang bisa merasakan aura atau keindahan itu. Filosofi tersebut juga kami temukan pada LAKON," ujarnya.
Menurut Hahm, baik LAKON maupun euneun sama-sama dibangun di atas penghargaan terhadap karya para artisan.
"Kami berasal dari negara dan bahasa yang berbeda, tetapi menghargai keindahan yang lahir dari craftsmanship. Itu yang membuat kami merasa memiliki filosofi yang sama," tuturnya.
Bagi Hahm, tas bukan hanya berfungsi membawa barang, tetapi juga menjadi medium yang memancarkan karakter orang yang memakainya.
"Tas bukan hanya tempat menyimpan barang. Tas juga bisa menghadirkan suasana dan menunjukkan karakter orang yang memakainya," pungkasnya.
Lewat HARSA, LAKON Indonesia menutup JF3 Fashion Festival 2026 bukan hanya dengan koleksi baru, tetapi juga dengan pengingat bahwa di balik setiap karya mode terdapat proses panjang, eksperimen bertahun-tahun, dan tangan-tangan pengrajin yang terus belajar agar tradisi tetap hidup di tengah industri fesyen modern.
(anm/asr)