Waspada, Alergi Susu Sapi pada Anak Bisa Terlambat Dikenali

CNN Indonesia
Senin, 10 Agu 2026 14:33 WIB
Ilustrasi. Waspada, alergi terhadap susu bisa terlambat dikenali. (iStockphoto/carlosgaw)
Jakarta, CNN Indonesia --

Alergi Protein Susu Sapi (ASS) pada anak perlu dikenali dan ditangani dengan tepat. Sebab, keterlambatan diagnosis dapat membuat proses penanganan lebih panjang dan berpotensi mengganggu tumbuh kembang anak.

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar mengatakan kesehatan anak pada 1.000 hari pertama kehidupan (HPK) menjadi periode penting yang menentukan kualitas kesehatan di masa depan, termasuk soal alergi yang bisa diidap anak.

"Periode 1.000 HPK paling menentukan bagi kualitas kesehatan, kecerdasan, dan produktivitas seseorang di masa depan. Proses perkembangan anak pada periode tersebut sangat dipengaruhi oleh kecukupan nutrisi serta kemampuan otak untuk terus berkembang melalui mekanisme neuroplastisitas," ujar Taruna dalam keterangannya, Senin (10/8).

Menurut Taruna, perhatian terhadap nutrisi anak juga tidak dapat dilepaskan dari kesehatan saluran cerna. Hal ini berkaitan dengan adanya hubungan antara saluran cerna dan otak yang dikenal sebagai gut-brain axis.

"Keseimbangan mikrobiota usus berperan penting dalam menjaga sistem imun sekaligus mendukung pematangan fungsi otak pada masa awal kehidupan," katanya.

Sebaliknya, gangguan keseimbangan mikrobiota atau disbiosis dapat memicu peradangan sistemik yang berdampak pada neuroplastisitas dan fungsi neurologis. Karena itu, kesehatan saluran cerna menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan dalam mendukung tumbuh kembang anak.

Hal tersebut juga menjadi relevan ketika membahas alergi pada anak, termasuk alergi protein susu sapi. Kondisi alergi dapat berkaitan dengan gangguan pada saluran cerna sehingga diagnosis dan penanganannya perlu dilakukan secara tepat.

Alergi susu sapi sering terlambat dikenali

Dokter Spesialis Anak Konsultan Alergi Imunologi Prof Zakiudin Munasir mengatakan keterlambatan diagnosis alergi susu sapi masih menjadi persoalan dalam praktik klinis.

"Keterlambatan diagnosis yang masih kerap terjadi dapat memperpanjang proses penanganan serta berpotensi mengganggu tumbuh kembang anak," ujar Zakiudin.

Menurut dia, diagnosis yang tepat penting untuk menentukan penanganan sekaligus pilihan nutrisi yang sesuai dengan kondisi anak. Pasalnya, tidak semua gangguan saluran cerna pada anak disebabkan oleh alergi susu sapi. Karena itu, orang tua perlu mendapatkan diagnosis dari tenaga medis sebelum mengganti jenis susu atau formula anak.

Salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam penanganan alergi susu sapi adalah pemilihan formula. Zakiudin mengatakan masih terdapat penggunaan partially hydrolyzed formula (pHF) untuk menangani anak yang sudah mengalami alergi protein susu sapi.

Padahal, berdasarkan berbagai panduan internasional, termasuk rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), pHF tidak direkomendasikan untuk anak yang sudah mengalami alergi susu sapi.

"pHF tidak direkomendasikan untuk anak yang sudah mengalami alergi susu sapi namun masih dapat digunakan untuk pencegahan alergi susu sapi serta masalah saluran cerna lainnya yang tidak disebabkan oleh alergi susu sapi," jelasnya.

Dengan kata lain, formula yang digunakan dalam konteks pencegahan alergi tidak sama dengan formula yang digunakan untuk menangani anak yang sudah mengalami alergi.

Untuk anak dengan alergi susu sapi ringan hingga sedang, Zakiudin menyebut extensively hydrolyzed formula (eHF) sebagai pilihan pertama dalam penanganan. Menurut dia, lebih dari 90 persen pasien dengan alergi susu sapi dapat mentoleransi eHF.

Sejumlah studi juga menunjukkan eHF berbasis whey lebih mudah dicerna dan memiliki penerimaan rasa yang lebih baik. Sementara itu, pada kasus alergi berat, amino acid formula (AAF) dapat diperlukan untuk membantu mengurangi gejala secara cepat.

Formula berbasis isolat protein soya juga dapat dipertimbangkan sebagai alternatif pada kasus alergi ringan hingga sedang, dengan mempertimbangkan kondisi anak, keterjangkauan, rasa, dan bukti ilmiah yang tersedia.

"Pilihan nutrisi harus mengikuti panduan berbasis bukti untuk penanganan alergi susu sapi ini," kata Zakiudin.

(tis/tis)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK