Karhutla Bromo Meluas, Lakukan 6 Cara Agar Terhindar ISPA karena Asap
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur, terus meluas. Hingga Senin (10/8) pukul 06.00 WIB, area yang terbakar dilaporkan mencapai sekitar 550 hektare.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Provinsi Jawa Timur Satriyo Nurseno mengatakan data tersebut masih dapat berkembang karena proses pendataan ulang masih dilakukan.
"Luas area terbakar kurang lebih 550 hektare. Data berkembang dalam proses pendataan ulang," tulis Satriyo dalam laporannya.
Kebakaran menghanguskan sejumlah vegetasi, mulai dari cemara gunung, mentigen, akasia, hingga semak belukar. Tidak ada korban jiwa yang dilaporkan dalam kejadian tersebut.
Namun, kondisi di lapangan perlu diwaspadai. Titik api yang sebelumnya berada di kawasan P30 dilaporkan merembet mendekati permukiman warga. Perkembangan terbaru juga menunjukkan penanganan kebakaran terus dilakukan oleh tim gabungan.
Di tengah meluasnya karhutla, masyarakat yang berada di sekitar lokasi kebakaran juga perlu memperhatikan kualitas udara. Pasalnya, asap kebakaran hutan dan lahan dapat membawa berbagai polutan, termasuk partikel halus PM2.5 yang dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan.
Asap karhutla bisa ganggu pernapasan
Asap kebakaran hutan bukan sekadar membuat udara terasa pengap atau mengganggu jarak pandang. Paparan asap juga dapat menimbulkan gangguan kesehatan, terutama pada mata dan sistem pernapasan.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut asap kebakaran hutan mengandung campuran polutan berbahaya, dengan partikulat atau particulate matter (PM) menjadi salah satu ancaman utama bagi kesehatan.
Partikel PM2.5 berukuran sangat kecil sehingga dapat masuk jauh ke dalam paru-paru. Paparan asap kebakaran dapat menyebabkan iritasi saluran pernapasan, menurunkan fungsi paru-paru, serta memperburuk penyakit seperti asma dan bronkitis.
Kementerian Kesehatan juga mencatat asap kebakaran hutan dan lahan dapat menyebabkan iritasi pada mata, hidung, dan tenggorokan serta meningkatkan risiko gangguan pernapasan akut atau ISPA. Karena itu, masyarakat yang tinggal di wilayah terdampak asap perlu lebih berhati-hati, terutama anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang yang memiliki penyakit jantung atau gangguan paru-paru seperti asma dan PPOK.
Kenali gejala akibat paparan asap
Mengutip EMC Healthcare, gangguan kesehatan akibat asap karhutla dapat muncul dalam bentuk yang beragam. Beberapa keluhan yang perlu diperhatikan antara lain mata perih dan berair, hidung berair atau tersumbat, tenggorokan terasa tidak nyaman, batuk, sakit kepala, hingga sesak atau kesulitan bernapas.
Pada orang yang sudah memiliki penyakit pernapasan, paparan asap juga dapat memperburuk gejala yang sebelumnya sudah ada. Jika mengalami sesak napas atau keluhan pernapasan yang semakin berat, jangan menunggu kondisi memburuk. Segera cari pertolongan medis di fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.
Cara melindungi diri dari asap karhutla
Ada sejumlah langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk mengurangi paparan asap selama karhutla berlangsung:
1. Kurangi aktivitas di luar ruangan
Sebisa mungkin tetap berada di dalam ruangan ketika kondisi udara di luar dipenuhi asap. Hindari aktivitas fisik berat di luar rumah karena aktivitas tersebut membuat seseorang bernapas lebih cepat dan menghirup lebih banyak udara.
WHO juga menyarankan masyarakat tetap berada di dalam ruangan apabila kondisi tersebut aman dan mengurangi masuknya udara luar ke dalam rumah ketika kualitas udara sedang buruk.
2. Gunakan masker saat harus keluar
Jika harus beraktivitas di luar rumah, gunakan masker yang dapat memberikan perlindungan terhadap partikel halus. Pastikan masker terpasang dengan baik sehingga menutupi hidung dan mulut.
3. Perhatikan kondisi kelompok rentan
Anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang dengan penyakit jantung atau paru-paru perlu mendapat perhatian lebih selama terjadi paparan asap. Kelompok tersebut memiliki risiko lebih tinggi mengalami dampak kesehatan akibat polusi asap kebakaran.
4. Cukupi kebutuhan cairan
Minum cukup air dapat membantu menjaga tubuh tetap terhidrasi. Jika tenggorokan terasa kering atau tidak nyaman akibat paparan asap, konsumsi cairan juga dapat membantu memberikan rasa lebih nyaman.
5. Hindari menambah polusi udara di dalam rumah
Ketika kualitas udara luar memburuk, hindari aktivitas yang menghasilkan asap di dalam rumah, seperti membakar sampah atau merokok. Upayakan pula agar asap dari kegiatan memasak tidak menumpuk di dalam ruangan.
6. Segera periksa jika muncul gejala berat
Jangan menganggap remeh keluhan pernapasan setelah terpapar asap. Jika muncul sesak napas, napas berbunyi, nyeri dada, atau kondisi semakin memburuk, segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan.
Karhutla bukan hanya persoalan lingkungan. Ketika asap menyebar hingga kawasan permukiman, kualitas udara dan kesehatan masyarakat juga ikut terancam.
Karena itu, warga di sekitar kawasan terdampak perlu mengikuti informasi resmi mengenai kondisi kebakaran dan kualitas udara, sekaligus mengurangi paparan asap sebanyak mungkin hingga situasi kembali aman.
(tis/tis)