7 Cara Berhenti Menjadi People Pleaser Tanpa Merasa Bersalah
People pleaser punya kecenderungan untuk selalu berusaha menyenangkan orang lain atau menghindari konflik.
Seorang people pleaser biasanya sulit untuk mengatakan tidak, terlalu memikirkan penilaian orang lain, atau kerap merasa bersalah setelah menolak permintaan.
Lihat Juga : |
Lama-kelamaan, kebiasaan tersebut dapat membuat seseorang yang people pleasing melakukan sesuatu dengan terpaksa atau karena merasa berkewajiban. Akibatnya, muncul rasa frustrasi karena merasa dimanfaatkan, kemudian diikuti penyesalan atau menyalahkan diri sendiri.
Kalau kamu merasa sering menjadi people pleaser, mungkin sudah saatnya berhenti dan mulai belajar menetapkan batas.
Lantas, bagaimana cara berhenti menjadi people pleaser tanpa terus dihantui rasa bersalah?
1. Kenali kebutuhan diri
Dikutip dari Psychology Today, langkah pertama adalah meningkatkan kesadaran terhadap pikiran, perasaan, dan kebutuhan diri sendiri.
Coba tanyakan kepada diri sebelum menyetujui permintaan orang lain: apakah benar-benar ingin membantu atau hanya takut mengecewakan?
Dengan mengenali dorongan tersebut, kamu memiliki kesempatan untuk merespons dengan lebih sadar, bukan sekadar untuk menyenangkan orang lain.
2. Sadari bahwa keseringan membantu bisa berdampak buruk
Membantu orang lain tidak selalu berarti harus mengambil alih semua tanggung jawabnya. Terlalu sering melakukan sesuatu untuk orang lain justru dapat membuat hubungan menjadi tidak seimbang.
Ketika seseorang terus mengambil porsi yang seharusnya menjadi tanggung jawab orang lain, mereka bisa menjadi semakin bergantung. Sementara itu, pihak yang selalu membantu dapat merasa lelah, kesal, atau tidak dihargai.
3. Belajar bilang "tidak"
Ditambahkan dari Verywellhealth, kamu perlu membiasakan diri untuk menolak. Mengatakan "tidak" bukan berarti mengubahmu jadi sosok yang jahat, egois, atau tidak peduli.
Penolakan dapat menjadi cara untuk menetapkan batas ketika sebuah permintaan memang tidak sesuai dengan kemampuan diri.
Kamu juga tidak perlu memberikan penjelasan atau alasan atas penolakanmu. Kalimat sederhana seperti, "Maaf, kali ini saya tidak bisa bantu," sudah cukup untuk menyampaikan batasan.
4. Stop memikirkan penilaian orang lain
People pleaser sering kali terlalu memikirkan bagaimana dirinya dipandang orang lain. Keinginan untuk selalu dianggap baik dapat membuat seseorang sulit mengambil keputusan berdasarkan keinginannya sendiri.
Padahal, tidak semua orang akan setuju atau menyukai setiap keputusan yang dibuat. Belajar menerima kemungkinan tersebut dapat membantu seseorang menjadi lebih autentik.
5. Hadapi rasa bersalah setelah menolak
Di awal normal saja kamu akan merasa bersalah setelah mengatakan "tidak". Namun bukan berarti keputusan tersebut salah. Perasaan itu bisa muncul karena kamu belum terbiasa menetapkan batas.
Ketika rasa tidak nyaman itu muncul atau tergoda untuk menyerah, kuatkan dirimu kalau tidak apa-apa untuk memprioritaskan diri sendiri.
6. Biasakan menghadapi rasa cemas dan ketidaknyamanan
Dorongan untuk menyenangkan orang lain terkadang muncul sebagai cara menghindari konflik atau ketidaknyamanan. Namun, terus menghindarinya justru dapat membuat seseorang semakin takut menghadapi situasi serupa.
7. Boleh bantu tapi tetap utamakan diri sendiri
Berhenti menjadi people pleaser bukan berarti berhenti menjadi orang yang baik. Tetaplah membantu orang lain karena memang ingin atau mampu, bukan semata-mata karena takut dicap buruk oleh orang lain.
Demikian cara berhenti menjadi people pleaser tanpa dihantui rasa bersalah.
(fef/fef)