Beda ISPA dan Iritasi Asap, Kenali Gejalanya
Paparan asap, terutama saat kualitas udara memburuk akibat kebakaran hutan dan lahan, bisa membuat saluran pernapasan terasa tidak nyaman. Batuk, tenggorokan gatal, hidung berair hingga sesak napas dapat muncul setelah seseorang menghirup udara yang tercemar.
Namun, tidak semua keluhan tersebut berarti infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA. Ada kondisi lain yang juga dapat muncul setelah seseorang terpapar asap, yakni iritasi saluran pernapasan.
Lantas, apa beda ISPA dan iritasi asap?
Lihat Juga : |
Beda ISPA dan iritasi asap
Perbedaan utama ISPA dan iritasi asap terletak pada penyebabnya. Iritasi asap terjadi ketika saluran pernapasan terkena langsung partikel dan zat kimia yang terkandung dalam asap.
Sementara itu, ISPA merupakan infeksi pada saluran pernapasan yang disebabkan oleh mikroorganisme, terutama virus dan bakteri.
Paparan asap dapat membuat saluran pernapasan mengalami iritasi dan peradangan. Kondisi tersebut kemudian dapat membuat pertahanan alami saluran napas terganggu sehingga seseorang lebih rentan mengalami infeksi.
Dengan kata lain, paparan asap tidak secara langsung berarti seseorang mengalami ISPA. Asap dapat menyebabkan iritasi sekaligus meningkatkan risiko terjadinya infeksi.
1. Penyebabnya berbeda
Pada iritasi asap, keluhan muncul akibat seseorang menghirup partikel halus, gas, atau zat kimia yang terdapat dalam asap. Sumbernya bisa berasal dari kebakaran hutan dan lahan, asap rokok, maupun polusi kendaraan.
Sementara pada ISPA, penyebab utamanya adalah infeksi virus atau bakteri yang masuk ke saluran pernapasan. Karena itu, seseorang yang batuk setelah menghirup asap belum tentu sedang mengalami ISPA. Bisa saja batuk tersebut merupakan respons tubuh untuk mengeluarkan partikel yang mengganggu saluran napas.
2. Gejalanya juga bisa berbeda
Iritasi akibat asap biasanya muncul ketika seseorang berada di lingkungan dengan kualitas udara buruk. Gejalanya antara lain tenggorokan terasa gatal atau perih, mata berair, hidung berair, serta batuk, terutama batuk kering.
Keluhan tersebut dapat membaik setelah seseorang menjauh dari sumber asap dan menghirup udara yang lebih bersih.
Sementara itu, ISPA dapat disertai gejala lain yang menunjukkan adanya infeksi. Misalnya, demam, tubuh terasa lemas, sakit kepala, nyeri badan, sakit tenggorokan, pilek, serta batuk yang dapat berlangsung selama beberapa hari.
Meski demikian, gejala setiap orang dapat berbeda. Karena itu, gejala saja tidak selalu cukup untuk memastikan apakah seseorang mengalami iritasi asap atau ISPA.
3. Lama keluhannya tidak sama
Keluhan akibat iritasi asap umumnya membaik setelah paparan dihentikan dan penderita berada di lingkungan dengan udara yang lebih bersih. Namun, lama keluhan dapat berbeda tergantung tingkat paparan dan kondisi kesehatan seseorang.
Sementara itu, ISPA biasanya membutuhkan waktu lebih lama untuk pulih karena tubuh perlu melawan infeksi. Sebagian besar infeksi saluran pernapasan dapat membaik dengan perawatan yang tepat, tetapi pada kondisi tertentu diperlukan pemeriksaan dan pengobatan dari dokter.
Lihat Juga : |
Kapan harus ke dokter?
Jangan menganggap semua keluhan setelah menghirup asap sebagai gangguan ringan. Paparan asap dalam jumlah tinggi dapat mengganggu sistem pernapasan, terutama pada anak-anak, lansia, ibu hamil, dan orang yang memiliki penyakit tertentu.
Segera cari pertolongan medis jika muncul sesak napas berat, sulit bernapas, nyeri dada, penurunan kesadaran, bibir atau ujung jari tampak kebiruan, atau keluhan yang semakin memburuk.
Jika batuk, demam, sakit tenggorokan, atau keluhan pernapasan berlangsung beberapa hari dan tidak kunjung membaik, pemeriksaan dokter juga diperlukan untuk mengetahui penyebabnya.
(tis/tis)