7 Ciri Anak Mulai Pandai Berteman, Tak Sekadar Punya Teman Banyak

CNN Indonesia
Senin, 24 Agu 2026 06:45 WIB
Ilustrasi. Tak sekadar punya teman banyak, ini beberapa ciri anak mulai pandai berteman. (Norma Rini)
Jakarta, CNN Indonesia --

Bagi anak, berteman adalah bagian dari proses belajar mengenal orang lain dan membangun hubungan. Tak sekadar punya banyak teman, berikut ciri anak mulai pandai berteman.

Senang rasanya anak bisa bermain dengan teman sebayanya. Orang tua bisa lega karena anak mampu bersosialisasi sehingga ini turut berkontribusi akan perkembangan kecerdasan emosionalnya.

Lewat bermain dan berinteraksi dengan teman sebaya, anak juga belajar menyesuaikan diri, memahami perasaan orang lain, dan menghadapi berbagai situasi dalam pertemanan.

Ciri anak mulai pandai berteman

Kemampuan bersosialisasi dan berinteraksi berkembang sedikit demi sedikit seiring usia dan pengalaman anak. Jadi, pandai berteman bukan berarti anak harus punya banyak teman. Lantas, seperti apa tanda anak mulai semakin pandai berteman?

1. Mulai mau berbagi dan membantu

Anak mulai mau berbagi mainan, membantu teman, atau menghibur ketika melihat temannya kesulitan. Hal-hal sederhana seperti ini termasuk perilaku prososial, yaitu tindakan yang dilakukan untuk membantu atau memberi manfaat kepada orang lain.

Melansir Developmental Psychology, penelitian pada anak usia 2-12 tahun menemukan adanya hubungan antara kemampuan memahami pikiran dan perasaan orang lain dengan perilaku prososial. Artinya, ketika anak mulai bisa memahami apa yang dirasakan temannya, ia juga lebih mampu merespons dengan cara yang membantu.

2. Bisa bekerja sama saat bermain

Bermain bersama membuat anak belajar menyesuaikan diri dengan teman. Ia mulai bisa mengikuti aturan, bergantian, berbagi peran, dan tidak selalu ingin permainan berjalan sesuai keinginannya sendiri.

Anak tentu masih bisa berebut mainan atau ingin menjadi yang pertama. Hal itu wajar. Seiring waktu, anak mulai belajar bahwa bermain bersama berarti perlu memberi ruang untuk keinginan teman juga.

3. Mulai peka terhadap perasaan teman

Anak yang kemampuan sosialnya berkembang mulai bisa mengenali ketika temannya sedang sedih, takut, atau kecewa. Responsnya pun bisa sederhana, misalnya bertanya apa yang terjadi, menghampiri teman yang menangis, atau mencoba menghiburnya.

Kemampuan memahami perasaan orang lain atau empati merupakan salah satu bagian penting dalam perilaku prososial. Kemampuan ini juga membantu anak membangun hubungan yang lebih positif dengan teman.

4. Tidak langsung meninggalkan permainan saat bertengkar

Ilustrasi. Ciri anak mulai pandai berteman salah satunya anak tidak langsung meninggalkan permainan meski ada perselisihan. (CNN Indonesia/Abdussaleem Muhammad)

Namanya juga anak-anak, konflik kecil dalam permainan tentu bisa terjadi. Mereka bisa berebut mainan, berbeda pendapat soal aturan, atau sama-sama ingin menjadi pemimpin.

Seiring kemampuan sosialnya berkembang, anak mulai belajar menghadapi situasi seperti ini. Ia perlahan bisa mengungkapkan keinginannya, mendengarkan teman, bernegosiasi, atau mencari jalan tengah tanpa langsung marah dan meninggalkan permainan.

5. Mulai memahami bahwa pertemanan itu timbal balik

Cara anak memandang pertemanan juga berubah seiring bertambahnya usia. Pemahaman anak tentang pertemanan berkembang dari sekadar melakukan hal baik kepada orang lain menuju pemahaman tentang hubungan yang bersifat timbal balik.

Anak mulai memahami bahwa berteman bukan hanya soal dirinya berbuat baik kepada orang lain. Ada proses saling memberi, menerima, membantu, dan memperhatikan.

6. Bisa mempertahankan pertemanan

Punya banyak teman bukan satu-satunya tanda anak pandai berteman. Yang tak kalah penting adalah bagaimana anak membangun hubungan yang nyaman dan positif dengan orang lain.

Ia punya teman yang sering diajak bermain, misal, bisa saling membantu, atau tetap mau berinteraksi meski sesekali berbeda pendapat.

Mengutip studi Child Development yang melibatkan 22.657 anak dan remaja, perilaku prososial berkaitan dengan pertemanan yang lebih positif dan lebih sedikit pengalaman pertemanan negatif. Jadi, kualitas hubungan bisa lebih berarti daripada sekadar menghitung berapa banyak teman yang dimiliki anak.

7. Mulai berani mendekati anak lain

Anak juga mulai lebih berani memulai interaksi misalnya, menghampiri anak lain untuk ikut bermain, mengajak bicara, atau bergabung dalam kelompok tanpa selalu menunggu diajak.

Kemampuan untuk memulai interaksi dan masuk ke kelompok sebaya merupakan salah satu bagian dari kompetensi sosial anak. Setiap anak punya cara dan kecepatan yang berbeda dalam membangun hubungan.

(anm/els)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK