Kentut Bau Bisa Jadi Tanda Ada 5 Masalah Pencernaan Ini

CNN Indonesia
Selasa, 01 Sep 2026 04:30 WIB
Ilustrasi. Kentut bau, bisa jadi terkena masalah pencernaan. (Thinkstock/VladimirFLoyd)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kentut merupakan hal yang wajar dan dialami semua orang. Gas di saluran pencernaan terbentuk sebagai bagian dari proses pencernaan makanan. Namun, tidak semua kentut memiliki bau, suara, atau frekuensi yang sama.

Dokter Rucha Shah mengatakan kentut yang tidak berbau umumnya merupakan bagian normal dari proses pencernaan. Gas sesekali juga dapat menjadi tanda bahwa sistem pencernaan bekerja dengan baik.

Sebaliknya, kentut yang terjadi terus-menerus, berlebihan, atau memiliki bau sangat menyengat, terutama jika disertai keluhan pencernaan lain, bisa menjadi tanda adanya masalah pada sistem pencernaan. Berikut beberapa kondisi yang dapat menyebabkan kentut menjadi lebih sering atau berbau tidak sedap, melansir Eating Well:

1. Gangguan pencernaan

Gangguan pencernaan dapat terjadi ketika proses tubuh dalam mencerna makanan tidak berjalan optimal. Kondisi ini dapat berkaitan dengan produksi asam lambung, enzim pencernaan, atau empedu yang tidak mencukupi untuk membantu memecah makanan dan menyerap nutrisi.

Ketika makanan tidak tercerna atau terserap dengan baik, sebagian komponennya dapat mencapai usus besar dalam kondisi belum sepenuhnya dicerna. Bakteri di usus kemudian memfermentasi sisa makanan tersebut dan menghasilkan gas.

Ahli gizi Sarah Glinski menjelaskan bahwa makanan yang tidak tercerna dapat difermentasi bakteri di usus besar sehingga memicu produksi gas berlebih. Kondisi tersebut juga dapat menyebabkan perut kembung dan rasa tidak nyaman.

Orang yang pernah menjalani operasi pengangkatan kantong empedu atau memiliki kondisi tertentu pada pankreas dan saluran pencernaan dapat lebih berisiko mengalami gangguan pencernaan atau penyerapan nutrisi.

2. Malabsorpsi karbohidrat

Kesulitan menyerap jenis karbohidrat tertentu juga dapat menyebabkan produksi gas berlebih. Kondisi ini dikenal sebagai malabsorpsi karbohidrat.

Dokter Supriya Rao menjelaskan bahwa beberapa jenis karbohidrat, seperti laktosa, fruktosa, FODMAP, dan gula tertentu, dapat lebih sulit diserap oleh sebagian orang. Karbohidrat yang tidak terserap kemudian masuk ke usus besar dan difermentasi oleh bakteri. Proses tersebut dapat menghasilkan gas yang memicu perut kembung dan kentut berbau.

Bahan makanan tertentu yang sulit dicerna, termasuk gula alkohol dan beberapa pemanis buatan, juga dapat memicu fermentasi di usus pada sebagian orang. Jika kondisi ini dicurigai, mencatat makanan yang dikonsumsi dan gejala yang muncul dapat membantu menemukan pemicunya.

Konsultasi dengan dokter atau ahli gizi juga dapat dilakukan, terutama jika keluhan terus berulang. Malabsorpsi karbohidrat juga dapat berkaitan dengan kondisi seperti small intestinal bacterial overgrowth (SIBO), penyakit radang usus, sindrom iritasi usus atau IBS, hingga penyakit celiac.

3. Ketidakseimbangan bakteri usus

Mikrobioma usus terdiri dari berbagai mikroorganisme yang berperan dalam pencernaan, produksi nutrisi, dan menjaga kesehatan saluran pencernaan. Jika keseimbangan mikroorganisme tersebut terganggu, kondisi ini disebut disbiosis.

Disbiosis dapat mengubah proses fermentasi di dalam usus sehingga jumlah dan jenis gas yang dihasilkan ikut berubah. Akibatnya, seseorang dapat mengalami kentut lebih sering, bau yang lebih menyengat, kembung, hingga perubahan pola buang air besar.

Menurut Glinski, proses pemecahan protein yang tidak tercerna di usus besar juga dapat menghasilkan senyawa seperti amonia dan hidrogen sulfida. Senyawa tersebut dapat berkontribusi terhadap bau kentut yang lebih menyengat.

Sejumlah faktor dapat berkontribusi terhadap ketidakseimbangan mikrobioma, termasuk penggunaan antibiotik, pola makan yang rendah serat dan minim variasi tumbuhan, stres berkepanjangan, infeksi saluran pencernaan, kurang tidur, obat-obatan tertentu, serta beberapa kondisi kesehatan kronis.

4. SIBO

Small intestinal bacterial overgrowth atau SIBO merupakan kondisi ketika jumlah bakteri di usus halus meningkat secara tidak normal. Salah satu tandanya dapat berupa gas dan perut kembung yang muncul secara menetap, termasuk sekitar 30 menit hingga tiga jam setelah makan.

Pada SIBO, bakteri yang biasanya lebih banyak ditemukan di usus besar berada di usus halus dan memfermentasi karbohidrat sebelum makanan tersebut diserap tubuh. Proses fermentasi ini dapat menghasilkan hidrogen, metana, dan gas lainnya.

Jenis gas yang dihasilkan juga dapat memengaruhi bau. Pada SIBO yang didominasi hidrogen sulfida, misalnya, kentut dapat berbau seperti telur busuk. Meski demikian, gejala SIBO dapat menyerupai berbagai gangguan pencernaan lainnya. Karena itu, kentut dan kembung tidak selalu berarti seseorang mengalami SIBO. Pemeriksaan oleh tenaga kesehatan diperlukan untuk mengetahui penyebab yang sebenarnya.

5. Intestinal Methanogen Overgrowth (IMO)

Selain SIBO, ada kondisi lain yang disebut intestinal methanogen overgrowth (IMO). Kondisi ini terjadi ketika mikroorganisme penghasil metana, khususnya Methanobrevibacter smithii, berkembang secara berlebihan di saluran pencernaan.

Berbeda dari SIBO yang berkaitan dengan bakteri dan terutama terjadi di usus halus, IMO melibatkan mikroorganisme yang disebut archaea dan dapat terjadi di berbagai bagian saluran pencernaan. Mikroorganisme tersebut menggunakan hidrogen yang dihasilkan mikroba lain dan mengubahnya menjadi gas metana.

IMO kerap dikaitkan dengan sembelit kronis. Gas metana dapat memperlambat pergerakan makanan di saluran pencernaan. Pergerakan usus yang melambat kemudian dapat membuat penumpukan mikroorganisme dan rasa kembung semakin parah.

Karena itu, kentut yang terus-menerus disertai sembelit kronis dapat menjadi salah satu tanda yang perlu diperhatikan. Namun, pemeriksaan tetap diperlukan untuk memastikan penyebabnya.

(tis/tis)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK