Pakar Ungkap Bahaya Abu Vulkanik Bagi Kesehatan

CNN Indonesia
Minggu, 06 Sep 2026 10:25 WIB
Pakar mengungkap bahaya paparan abu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau. (Foto: ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pakar mengungkap ada beberapa bahaya yang bisa disebabkan oleh paparan abu vulkanik hasil erupsi Gunung Anak Krakatau, mulai dari fisik partikelnya yang sangat tajam hingga kandungan kimiawi yang korosif.

Daryono, anggota Ikatan Ahli Bencana Indoneia (IABI) mengatakan abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau pada Minggu (6/9) bisa membahayakan. Pasalnya, material ini berbeda dengan debu biasa yang lunak dan mudah disaring.

"Berbeda dari debu biasa yang lunak dan mudah disaring, partikel abu vulkanik merupakan pecahan kaca silika dan batuan berukuran mikroskopis (kurang dari 2 mm)," ujar Daryono dalam keterangannya, Minggu (6/9).

Menurutnya, ukuran yang sangat halus tersebut memungkinkan abu menembus sistem penyaringan alami di hidung dan meluncur langsung menuju saluran pernapasan bagian dalam hingga ke alveolus paru-paru.

Secara kimiawi, jelas Daryono, partikel abu vulkanik diselimuti oleh senyawa asam seperti asam sulfat dan asam klorida, serta mengandung berbagai logam berat dan mineral.

"Ketika tersedot atau menempel pada jaringan tubuh yang basah, kandungan asam ini bereaksi secara agresif," tuturnya.

Dengan demikian, paparan abu vulkanik bukan hanya memicu peradangan pada saluran pernapasan, tetapi juga dapat menyebabkan iritasi parah, rasa terbakar pada mata, serta gangguan pada kulit.

Menurut Daryono, dalam jangka pendek, paparan abu ini langsung memicu Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), batuk kering, sesak napas, terutama bagi penderita asma, serta iritasi mata.

Sementara itu, untuk jangka panjang, endapan silika bebas yang tertimbun di dalam paru-paru dapat menyebabkan pembentukan jaringan parut permanen (silikosis), yang berisiko menurunkan fungsi paru-paru secara drastis.

Untuk meminimalkan risiko tersebut, ia menyarankan untuk membatasi aktivitas di luar ruangan saat terjadi sebaran abu.

Jika terpaksa harus beraktivitas di luar, penggunaan kacamata pelindung dan masker dengan tingkat filtrasi tinggi, seperti tipe N95 atau KN95, sangat dianjurkan karena masker kain biasa tidak mampu menahan partikel mikroskopis ini.

Selain itu, Daryono mengimbau masyarakat untuk melindungi sumber air dan makanan agar tidak tercemar kandungan silika dan asam dari abu vulkanik.

Lebih lanjut, ia juga mengimbau masyarakat mematuhi rekomendasi mitigasi dan tidak mencoba mendekati area penyeberangan laut di sekitar kompleks Krakatau sesuai garis batas aman yang telah ditentukan.

(lom)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK